
Cerah sekali malam ini, suasana hatiku begitu baik sehabis pulang kerja dari restoran Rendra.
Aku menyukai pekerjaan ini Alhamdulillah mendapatkan teman teman yang baik setidaknya hidupku imbang sekarang.
Aku berjalan dengan bersenandung riang hingga tiba tiba berhenti mendadak.
Mataku menangkap pemandangan yang diluar Nurul tidak habis pikri apalagi jika bukan perkelahian antar segerombolan orang dengan satu orang, aneh bukan perkelahian di jalan menuju kompleks perumahan mereka saling menghajar.
mood ku rusak seketika, "cek bocah bocah tua sedang beraksi ternyata" dengusku sebal
Ku putuskan untuk berhenti saja menonton pertandingan seru didepan sana, mereka mungkin tidak melihat ku karena aku berada di jalan yang cahaya lampunya minim. "Wah kalau ada kacang seru nih, tapi payah masa 1 lawan 6 sangat tidak imbang" mataku terus membidik Sempurna mereka satu orang berjas hitam dengan 6 orang pria dengan baju yang berantakan sepertinya mereka pereman atau apalah aku tidak mengerti.
Adu pukulan terjadi, hingga satu orang berbaju robek robek itu tersungkur, ku akui pria itu cukup tangguh mereka saling melawan. Sekarang masih satu lawan satu bergiliran. "Bug" pria itu mendapatkan pukulan di perut nya hingga ia mundur beberapa langkah.
"Kasihan juga ya bisa gak ya tuh orang atau perlu dibantu" Ucapku bermonolog
"Udahlah jangan ikut campur nanti berabe lagi kek dulu bukanya nyelesain masalah malah nambah masalah kan repot."
"Tapi kalau dia kenapa kenapa aku juga yang repot." Menjadi kebiasaan ku berdebat dengan diri sendiri
Ku lihat dia mulai kewalahan satu orang tumbang kini tinggal 5 orang lagi, dia tersungkur karena pukulan dan tendangan.
"gawat, inimah" ku putuskan untuk menghubungi nomor darurat.
Sudah tinggal tunggu tapi gimana kalau keburu death, oke aku harus mengukur waktu atau ku tendang saja mereka sekalian.
Aku mendekat pura pura berjalan kearah mereka, ini rencana ku karena malas adu jotos jadi ku putuskan untuk mengulur waktu saja kalaupun nanti harus adu hajar itu tidak masalah.
Aku bahkan melewati mereka dan ya benar saja mereka mulai mengeluarkan suara suara yang membuat tanganku gatal.
"Hey nona kau sendirian saja" ucap pria berkaos robek robek itu sama seperti mulutnya yang robek itu.
Aku membalikkan tubuhku sementara pria berjas itu terbentuk batuk dan mereka berhenti memukulinya.
"Mata nya masih berfungsi kan pak udah tahu nanya gak baik loh tanya tanya begitu gak inget anak istri ya dirumah" ucapku santai melipatkan tangan di depan dada.
Mereka tertawa terbahak-bahak, "wah wah nona sepertinya kau tidak takut kepada kami" ucap si pria yang celananya panjang sebelah sepertinya sedang trend di kalangan pereman celana begitu, aish apa yang aku pikirkan malah mengomeni look nya.
Aku tertawa ringan, "wah wah bapak bapak ini lucu juga, aku takut pada kalian tentu saja takut.
Ternyata dia takut bos, ucap pria berbadan cungkring yang di tangannya di penuhi tato tertawa remeh.
"Takut membuat kalian masuk UGD maksudnya" ucapku tertawa ringan wah ternyata kata kataku makin meningkat, pertama membuat orang percaya diri lalu menerjunkan mereka dalam satu waktu membuat aku sangat senang sekarang terlebih melihat ekspresi pria para preman yang berubah drastis.
Satu pria berjalan mendekat, "jangan sok nona" ucapnya berusaha menarik tanganku dengan tanpa aba aba ku tonjok tepat di hidungnya hingga ia terjungkal kebelakang dengan tidak elitnya.
"Upss sory sengaja soalnya" aku tersenyum devil, "makanya jangan Deket Deket reflek sih" tambah ku
"Sialan kau, bos bos hidungmu mengeluarkan darah" ucap pria berbaju robek itu panik. Mereka mengerubungi pria yang ku tonjok barusan
"Sialan Lo beraninya nonjok bos gue" Mereka mengerumuni ku sisa 4 orang okelah kita coba.
"Eh dasar gak setia kawan masa ditinggal"
Aku berjongkok melihat kondisi pria itu yang meringis kesakitan. Rasanya ngilu melihat wajahnya yang lebam dan sudut bibirnya yang robek mengeluarkan darah segar ku ambil saputangan dari tas dan memberikan padanya dia menerima, hingga suara seseorang berteriak berlari menuju kearah kami.
"Bagaimana kondisi anda tuan adzzan" ucap pria itu terlihat khawatir dan Panik tentunya
"maaf saya tidak bisa melindungi Anda" ucap pria berjas hitam itu menyesal.
"Aku baik baik saja" jawabnya menyeka darah di suruh bibirnya dan berusaha bangkit di bantu oleh pria di samping nya itu mungkin asistennya.
Polisi datang dan membawa preman yang pingsan itu ke kantor sementara pria yang jadi korban dia tidak mau di bawa ke rumah sakit dan langsung pulang bersama asistennya mungkin.
Mereka menawarkan ku tumpangan tapi aku menolaknya dan melanjutkan perjalanan ku dan akhirnya sampai di depan rumah megah ini aku menatap rumah ini, sayang tak seindah kelihatannya.
"Non sudah makan" ucap bi zela aku mengangguk sudah bi di tempat kerja tadi. Kini aku tengah duduk di dapur
"Aku haus sekali bi abis liat orang ribut tadi dijalan" "tapi non baik baik aja kan, non jangan jalan kaki nanti kalau tuan Anderson tahu dia pasti marah, bahaya juga non kan pulang kerja selalu malem." Ucap bi zela terlihat sangat khawatir.
"Iya bi aku besok minta jemput pak Reza saja"
"Nah gitu non bibi jadi tenang"
"Mau makan kue bibi bikin kue hari ini"
"aku sebenarnya mau tapi malas mendengarkan ocehan manusia pelit itu"
"Den bara lagi gak dirumah non jadi gak perlu khawatir"
aku tersenyum "bener bi, okay aku makan kue sama masakan bibi juga" ucapku antusias bi zela langsung menyiapkan makanan di meja.
Aku melahapnya dengan senyuman mengembang
"ini enak bi" ucapku mengancungkan jempol super enak banget.
"Yaudah habiskan non makan yang banyak"
"Siap bos" aku melanjutkan sesi makanku
Baru beberapa Minggu di sini tapi aku sudah sangat akrab dengan bi zela sungguh aku sangat bersyukur ada dia di sini.
Kamar
"Oh sungguh indah" aku berbaring menatap bintang di langit cerah sekali lalu berjalan menggeser pintu kaca dan disambut oleh angin malam ku rentangkan tangan menghirup udara sebanyak banyaknya rambutku tertiup angin.
"Ayah aku masih bertahan tenang saja jangan khawatirkan aku, aku baik baik saja"
Setengah jam aku menikmati keindahan malam dan memutuskan untuk masuk menutup pintu kaca merebahkan tubuh di kasur yang super empuk ini. Mulai berkeliling ke alam mimpi.