
Setelah menghindari baku hantam di meja makan tadi disinilah aku duduk menikmati semangkuk baso yang mengepul dari mangkuk dihadapan ku. Setelah selesai aku memutuskan untuk pulang saja karena jam sudah menunjukkan pukul 9 malam, apalagi yang ku gunakan ya tentunya kaki pemberian tuhan ini, ya aku putuskan untuk jalan kaki saja sekitar 15 menit sampai.
"Tin tin" suara klakson motor membuat ku tersadar dari lamunan yang sedang melanglang buana ke masa depan dan masa lalu. Ku hentikan langkah dan melirik ke samping, Motor sport hitam dengan si pengendara berjaket hitam.
"Apa jam segini ada begal masa sih kan udah sampe kompleks juga, ah bodo amat tinggal ku plintir saja tangannya tapi mana ada begal pake motor sport mungkin penghuni kompleks ini" ucapku dalam hati dan kembali melanjutkan langkah.
"Nara" ucapnya aku sontak kembali menghentikan langkah.
Motor sport hitam itu sekarang menjajarkan posisi nya dengan ku, tentunya aku tidak takut hanya saja malas tapi juga penasaran siapa yang tahu namaku.
Dia menurunkan helmnya, Aku menyatukan alisku mengingat ingat wajahnya tentu dalam waktu beberapa detik aku sudah tahu dia siapa dia. Visual diatas rata rata yang mampu menyaingi pria monster itu siapa lagi kalau bukan Rangga welson, wajah bersihnya makin bersinar karena diterpa cahaya bulan malam, bukan berarti membuat aku terbius oleh pesona ketampanannya atau membuat salting brutal bukan tapi jiwa cemburu ku meronta ronta makin menggila, alasan kenapa aku tidak ingin dekat dekat dengan manusia yang visual nya diatas rata rata dengan segala kebaikannya itu karena aku kesulitan mengelola rasa cemburuku, tapi ini tidak berlaku untuk manusia yang good looking tapi kelakuan yang berbanding terbalik, makanya ketika aku berhadapan dengan kepala emas itu rasa cemburuku tidak menggeliat.
"Ada apa?" ucapku akhirnya beberapa detik terdiam dia juga ikut terdiam mungkin menunggu ku bersuara.
"Ngapain jalan sendirian malam malam kek gini bahaya" ucapnya dengan raut yang sulit ku artikan itu.
"Yang bahaya itu dirumah bisa bisa mati kelaparan" jawabku santai. Dia terlihat menghembuskan nafasnya kasar.
"naik ra," katanya menunjuk jok motor dengan tatapan nya.
"Gak deh, duluan aja aku lagi cari angin juga" padahal itu cuma alibi saja mana mau aku naik motor model seperti itu yang ada punggung ku sakit dan tentu alasan utamanya bukan itu pasti orang orang juga tahu alasan utamanya.
"Yaudah kalau gak mau naik buruan jalan biar gak kemalaman"
Ku kira rangga bakal ninggalin atau pergi duluan eh tahunya dia ngintilin dibelakang.
Aku jadi tidak enak, jadi ku hentikan langkah dan berbalik menghadap nya.
"duluan aja aku tidak masalah sendirian juga"
"Gak papa Ra udah lanjut jalan" ucapnya.
aku berjalan agak cepat karena tidak enak juga. Akhirnya sampai juga
"Iya pak"
"ada den Rangga juga masuk den"
Ia mengangguk dan memarkir motornya.
Author POV
"Bar gue mau bicara penting" ucap Rangga duduk di sampingnya mereka sedang berada di area outdoor rumah dan bara sedang duduk santai menghadap kolam renang.
"Kenapa" jawab bara santai menyesap Vodka nya
"Lo emang gak bisa akur ya sama Nara?"
Bara menatap sinis Rangga
"Lo bilang apa barusan, akur gak akan pernah ada kata itu dalam hidup gue, wanita busuk itu pengacau dan perusak, kalau bukan permintaan bokap gue dia udah hancur sekarang"
Rangga menghembuskan nafas nya, ia tahu berbicara dengan bara itu sia sia tidak mungkin bisa membuat bara mengerti terlebih tentang Nara yang sekarang jadi musuhnya.
"Gue tahu bokap gue yang nyuruh lo jagain wanita busuk itu, Lo bisa tenang sekarang gue gak akan bunuh wanita busuk itu dia harus hidup biar gue bisa kasih pelajaran, baraninya wanita sialan itu ngusik hidup gue, Lo tahu kan orang yang berani ngusik gue selalu berakhir menderita selama hidupnya, dan gue bisa pastiin itu terjadi pada nya.
Rangga menggelengkan kepalanya, percuma sekarang dia bicara bara akan tetap pada pendiriannya.
Ia menepuk pundak bara "gue balik sekarang" ucap Rangga meninggalkan bara yang menatap lurus ke depan.
"Lihat saja gue pastiin Lo kalah dan gue menang dalam pertarungan ini" ucap bara tersenyum misterius.