
1 bulan kemudian
Hi selamat pagi dunia selamat pagi Indonesia ya setelah hampir 1 bulan di luar negeri rasanya aku begitu merindukan banyak hal.
Aku tersenyum lebar memejamkan mata dan menghirup udara segar hingga suara seseorang membuat aku berbalik.
"Selamat datang nona" ucapnya terdiam menatap ku dengan sorot tak biasa, terdiam dengan mata yang menyorot pada wajah ku. Otaku langsung bekerja "apa terlihat aneh kenapa dia menatapku seperti itu" kata ku dalam hati.
Aku sontak berdehem dan membuatnya mengalihkan pandangannya.
"Maaf nona Nara bagaimana kabar anda" tanya nya merubah raut di wajah nya menjadi seperti biasa nya.
"Alhamdulillah baik"
"Syukurlah kita pulang sekarang"
"Ya aku ingin segera istirahat dan makan masakan bi zela" aku tersenyum lebar membayangkan masakan bi zela masuk ke mulutku sangat membuat ku tidak sabar.
Aku kembali ke dunia nyata dan lagi lagi asisten Rendy hanya diam menatapku membuat aku merasa bingung dan sedikit risih saja.
"Apa kau baik baik saja" tanya ku memecah lamunannya.
"seperti nya banyak masalah ya sejak tadi kau melamun" sebenarnya aku tidak yakin dia melamun karena sejak tadi matanya fokus melihat ke arahku entahlah aku tidak mau tahu apa karena wajahku atau tampilan ku yang tak biasanya ya" gumanku dalam hati.
"Em silahkan Nona" ucapnya membuka pintu mobil
"Tidak perlu rendy aku bisa membuka pintu mobil sendiri tanganku masih berfungsi normal
Aku bukan atasan mu itu yang serba di turuti dan diikuti" ucapku terkekeh
Dia tertawa ringan "baiklah nona"
"Mulai besok tidak pernah melakukan itu lagi"
Ia tersenyum dan mengangguk
Aku masuk ke mobil dan memejamkan mata sejenak tentunya sedang meracik sebuah bom yang nanti akan ku ledakan jika dia memancing ku setelah satu bulan di sana jiwa berani ku makin menjadi jadi setelah bertemu dengan Kakek bertukar cerita melakukan kegiatan yang seru dan sesekali berbincang dengan tuan Anderson, aku lupa dia tidak mau di panggil tuan Anderson lagi ya aku mengubah panggilan ku kepada nya menjadi ayah dia meminta itu dan ku rasa itu tidak buruk hanya beberapa waktu saja bukan.
Suara klakson memberi pertanda bahwa kami sudah sampai di rumah.
"Nona kita sudah sampai" ucapnya .
Aku mengangguk dan membuka pintu mobil berjalan ke arah bagasi.
"Biar saya saja nona langsung masuk saja"
"Baiklah terimakasih rendy aku juga sudah sangat lapar" kataku berjalan menuju pintu masuk sebelum itu aku menyapa pak Robi yang sedang berjaga.
Aku berdiri di pintu menghembuskan nafas. "akan ku lakukan" ucapku berjalan membuka pintu dan masuk ke dalam.
Lagi lagi bibirku kembali tersenyum lebar ku lihat bi zela tengah asyik memasak, baru aku akan mengagetkannya dia keburu menatap ke arahku.
"Oh astaga non Nara" ucapnya terkejut melihat ku, aku tersenyum lebar.
"Non kenapa gak bilang pulang hari ini" ia mendekat, aku langsung memeluknya.
"Aku merindukan bi zela"
"bibi juga non" dia membalas pelukanku.
Aku melepaskan pelukannya
"Non bibi sampe pangling loh liah nya non tambah cantik bibi sampe gak ngenalin"
Aku duduk di meja makan, "sungguh bi?"
"Iya non bibi gak bohong"
Aku tersenyum lebar
Sebenarnya waktu yang ku habiskan di sana sangat bermanfaat mulai dari menemani kakek jalan jalan di taman rumah sakit, belajar apa yang aku mau dan jangan lupakan teman ayah yang menjadikan ku seperti ini.
"Bibi masak apa" tanya ku
"Masak masakan kesukaan den bara non dia juga" ucap bi zela menggantung kala ada langkah kaki yang mendekat.
Aku mendengus sebal manusia satu ini memang kebiasaan menganggu orang lain.
Dia menghentikan langkahnya bisa ku lihat ekspresi terkejut dari wajahnya.
"Ngapain Lo disitu harus berapa kali gue bilang jangan berkeliaran sembarangan kaki kotor Lo bawa penyakit" ucapnya dingin.
Aku bangkit dan tersenyum lebar
"kata siapa, memang ada aturannya aku tidak boleh berkeliaran di rumah ini, apa kau seberhak itu melarangku" ucapku mendekat berdiri dihadapannya.
"Mulai ngelunjak ternyata udah bener Lo pergi dari rumah gue oh atau selama gue pergi Lo seenaknya berkeliling di rumah ini hah?"
Aku tertawa ringan, "sepertinya ayah tidak memberi tahu mu, aku tidak tinggal disini atau di restoran selama satu bulan tapi pergi berkunjung menemui kakek"
Dia terkejut dan menatap ku dengan sorot marah.
"Apa Lo bilang Ayah, kurang ajar berani Lo sebut bokap gue dengan sebutan ayah dia bukan ayah Lo sialan, Lo gak berhak atas apapun, sekali lagi gue dengan Lo sebuah bokap gue ayah gue pastiin lidah Lo gak bisa berucap apapun lagi"
"Oh begitu kau pikir aku takut dengan ancaman mu itu sayangnya tidak, kau pikir aku yang ingin menyebut nya dengan sebutan itu, tidak tapi ayahmu yang memaksa Dan dengarkan ini baik baik tuan bara, mulai sekarang aku tidak akan lagi mengalah aku akan melakukan apapun yang ku mau di rumah ini dan kau tidak bisa melarang ku"
"Apa Lo bilang kurang ajar, gue gak akan biarin lo menyentuh barang barang di rumah ini dan berkeliaran bebas lagi, wanita busuk kek elo memang menjijikkan murahan"
Aku tertawa geli mendengarkan kata katanya
"Kau pikir aku akan terpuruk sendirian kau pikir aku akan tersiksa, kesepakatan harus saling menguntungkan bukan dan kau pikir pemilik rumah ini seutuhnya adalah dirimu aku juga berhak atas rumah ini tuan Bara Anderson Gretchen"
"Lo" ucapnya tajam menunjukku dengan jari telunjuk nya.
"Mulai hari ini aku akan melakukan apapun dan kau tidak berhak mencegah mengusik ku lagi, kau ingin bertarung kan ayo kita bertarung aku mengibarkan bendera perang hari ini, aku Nara Rieva menuntut hak ku di rumah ini" ucapku tegas dengan senyuman singkat yang ku cetak di bibirku.
"Gila dasar wanita gila Lo pikir bisa seenaknya gue gak akan tinggal diam lihat sekarang kebusukan Lo mulai terlihat juga"
Aku bertepuk tangan "kebusukan katamu hahahaha sangat lucu pria berkepala emas ini. Awalnya memang ku rasa tidak berhak atas apapun tapi setelah ku pikir pikir aku tidak bisa membiarkan hanya kau saja yang di untungkan dalam hubungan ini sementara aku tidak mendapatkan apapun dan sengsara bukanlah itu tidak adil, tenang saja aku tidak akan merebut milik mu hanya saja aku menuntut hak ku di rumah ini selama beberapa bulan saja, aku tidak mau menderita hidup di istana mu tuan, bukankah itu tidak seberapa ku pikir jika wanita lain akan mengambil setengah millik mu tapi aku tidak butuh itu. Sepertinya perbicangan kita sudah selesai"
"Bi minta tolong buatkan aku makanan ya besok aku akan masak sendiri hari ini aku ingin makan masakan bibi" ucapku tersenyum dan berlalu meninggalkan nya.
"Nara riveeraa" teriaknya
"gue beluk selesai bicara"
Aku terdiam di tangga tersenyum misterius mendengarkan teriakannya. Memang meladeni pria gila itu asyik juga dan menanganinya seperti ini lebih baik dari pada marah marah atau baku hantam.
"Lo pikir bisa menang dari gue lihat nanti gue bikin Lo kalah dan minta ampun" teriakan nya mampu menggelitik perutku tentu saja aku tidak bisa meremehkan nya karena dia tipe orang yang bisa beruat nekad tapi lihat saja sejauh mana dia akan melawan ku karena perjanjian itu akan menjadi penghalang nya untuk menghancurkan ku atau bahkan membunuhku.
aku merebahkan tubuh di kasur menatap langit malam yang dihiasi bintang.
Flashback
"Nara maaf aku sudah dengar dari Rangga setelah aku mendesak nya untuk berkata jujur aku tahu sekarang bahwa kau diperlukan semena mena di rumah itu, maaf karena aku terlalu sibuk mengurus ayahku hingga melupakan mu"
"Denger apapun yang kau ingin lakukan lakukanlah kau berhak atas rumah itu Nara jangan pedulikan bara kau harus menuntut hak mu di rumah itu, kebenaran nya kau adalah menantu ku sekarang jangan berpikir karena pernikahan ini adalah perjanjian kau tidak berhak atas apapun bukan seperti itu nara walaupun ada perjanjian diatas keras tapi kau adalah menantu ku kau berhak atas semuanya, aku tidak mau membuat mu menderita Nara lakukan apapun yang kau inginkan di rumah itu dan jangan pernah mengalah pada bara, jangan pernah sungkan mengatakan apa yang kau inginkan Nara. Setelah dari sini ku harap kau bisa lebih bijak lagi jangan membuat dirimu sengsara dan kau adalah wanita yang tangguh dan pintar kesepakatan harus menguntungkan dua pihak kan kau juga harus mendapatkan keuntungan bukan malah sengsara dan menderita, aku akan menugaskan Rendy menjadi asisten mu dan dia yang akan mengurus semuanya keperluan mu selama aku masih di sini. Aku tidak akan membiarkan anak ku berlaku sewenang-wenang pada siapapun lagi sudah cukup dia mengacau.
Perkataan ayah membuat aku tersenyum lebar memejamkan mata sejenak tentunya aku akan melakukan itu ayah, setelah satu bulan disana membuat aku jadi terbiasa memanggil nya ayah bahkan sekarang sering aku reflek menyebutkan itu.
Aku bangkit dan menatap diriku di cermin, benar bukan semua wanita memang cantik hanya saja butuh dirawat. Aku tersenyum menatap kaca setelah rangakaian perawatan itu kulitku jadi glowing parah dan aku sampai tidak percaya dengan foto ku yang terpajang terpampang begitu besar di klinik kecantikan milik temannya ayah mertua ku itu jangan salah klinik itu cukup besar ketika pemilik itu berkunjung di situlah kami bertemu dia langsung meminta izin ayah mertua ku untuk mengajakku ke klinik nya ingin menjadikan ku modelnya karena dia sedang mencari orang Asia. Ayah mertua ku tentunya tidak langsung setuju tapi wanita itu mencoba membujuk nya akhirnya dia setuju. Sementara aku ingin menolak juga ku rasa ini rezeki dan bisa ikut membantu juga saling win win solution.
Ku beranjak untuk mandi dan berganti pakaian koper ku juga sudah di antar oleh Rendy tadi.
Aku putuskan turun untuk makan malam, menghembuskan nafas melihat ke bawah dari lantai atas bisa ku lihat ada apa dibawah sana dan memutuskan untuk tetep dengan tujuan ku.
"Dia pikir aku akan menyingkir dalam mimpinya" Dengusku
"Selamat malam bi" ucap ku berjalan mendekat memecah keributan di meja makan ya siapa lagi jika bukan sohib sohib pemilik rumah ini.
Mereka semua terdiam mengalihkan pandangannya padaku dengan tatapan terkejut "para pria good looking cek mereka pikir mereka saja yang bisa glowing aku juga bisa" kataku dalam hati.
"Malam non duduk non bibi sudah masak makanan kesukaan non" ucap bi zela tersenyum lebar menghidangkan makanan di hadapan ku
"Terimakasih bi" jawabku duduk di hadapan mereka ya mereka duduk berderet paling ujung ada Bram lalu Alex dan ketuanya bara Anderson lalu Rangga di samping nya aku sengaja duduk tepat di hadapannya ingin melihat bagaimana respon dan bukannya seru bermain main dengan para pria kaya yang gila seperti mereka.
aku tidak mempedulikan mereka yang masih menatapku dengan wajah cengonya masing masing berbeda dengan Rangga yang terlihat biasa saja dan wajah pria gila itu yang super tajam menatap ku, aku mengedihkan bahu memindahkan nasi ke piring dan mulai menyedok kan lauk ke sana.
"Uh seperti enak bi, bibi sudah makan" tanyaku memilih lauk pauk yang akan ku malam.
"Sudah non"
"besok jangan makan sendirian kita makan bersama" aku menoleh dan tersenyum padanya.
"Baik non" aku mengalihkan pandanganku pada mereka yang hanya diam menatapku dengan sorot terkejut berbeda dengan Rangga yang mengalihkan pandangan nya ke arah lain.
"Jaga mata kalian atau ku congkel satu persatu dan membuangnya ke tong sampah" ucapku menyendokan makanan ke mulut.
Mereka langsung tersadar dan menatap ku horor.
Ku lihat pria dihadapan ku menatap ku tajam seolah matanya akan lompat dari sana.
Aku tak peduli dan memakan makanan ku sejak tadi mereka hanya diam seperti patung.
Aku mengunyah makanan ku dan meletakkan sendok di piring meminum air sebagai tanda makan ku sudah selesai.
"Kenyang bi terimakasih makanan nya enak" ucapku beranjak dan mengambil piring meletakkan nya di wastafel.
"Biar bibi saja non"
"tidak perlu bi tanganku masih berfungsi dan aku harus menggunakannya"
"Selamat malam bi aku akan istirahat,
Bibi istirahat juga jangan terus terusan mengurusi orang lain hanya bayi besar yang terus terusan minta di urus sampe ke hal hal kecil juga harus orang lain yang mengurus nya"
Aku melenggang pergi meninggalkan mereka dengan ditemani suara gebrakan meja terdengar nyaring memberikan irama yang membuat ku semakin menikmati pertarungan ini.
"Sialan" umpatnya masih bisa ku denger dari area lantai 2 membuat aku kembali tersenyum wah setelah pulang dari Amerika aku jadi banyak tersenyum seperti ini.
Author POV
Sekarang mereka berkumpul di kolam renang luar menikmati keindahan malam dengan ditemani sebotol wine.
"Itu tadi Nara" ucap Bram penasaran,
"Wih gila dia jadi cantik banget sumpah"
"Kok gue jadi deg degan ya kalau liat senyum nya" ucap Alex menimpali.
Diam kalian wanita busuk itu ingin mencuri perhatian bokap dan kekek, dan sekarang mulai ngelunjak berkeliaran seenaknya, tunggu saja pembalasan gue"
"Lo yakin masih mau balas dendam Bar?" Tanya Alex penasaran
"Tentu saja gue pastiin dia hengkang dari dunia ini tunggu saja"
"Sayang banget loh cantik kek gitu" ucap bram mendapatkan toyoran dari bara.
Nara POV
Aku tidak bisa tidur dan memutuskan untuk keluar kamar membuat coklat panas lalu naik ke balkon.
Hingga suara seseorang membuat aku menoleh ke samping.
"Belum tidur" tanya nya
Aku hanya berdeham menanggapi
"Bagaimana kondisi kakek"
"Lebih baik dan mungkin akan segera pulang operasi nya juga berhasil" jawabku menyesap coklat panas dalam mug ku.
"Syukurlah kalau begitu"
Aku mengalihkan pandangan ingin bertanya sesuatu.
"Kenapa kau mengatakan itu pada ayah maksud ku pada tuan Anderson" tanyaku penasaran.
"Aku hanya mengatakan sejujurnya dan paman sudah menitipkan mu padaku aku sudah berusaha membujuk bara tapi dia tetap pada pendiriannya"
"Begitu rupanya, bukankan kau sudah bersahabat sejak kecil dengan nya kenapa tidak membantu nya saja untuk menyingkirkan ku"
Dia tersenyum, senyuman manis yang begitu membuat wajahnya bersinar rambut hitamnya diterpa angin menambah kesan tersendiri.
"kami memang bersahabat sejak kecil tapi aku rasa usia ku dan bara sudah cukup dewasa dan sudah cukup bermain main lagi"
Aku mengalihkan pandanganku menatap kedepan hening sesaat entahlah aku mungkin kehabisan kata kata untuk melanjutkan perbincangan
"mungkin aku harus mengucapkan terimakasih padamu Rangga terimakasih untuk kebaikan yang kau lakukan padaku dan semoga kebaikan itu juga kembali padamu"
"Ya semoga saja Ra lalu bagaimana rencana mu kedepankan?"
Aku menghembuskan nafas, "mungkin berperang dengan nya" ucapku tersenyum lebar
Dia terdiam menatap ku, "Kau yakin Ra" tanya nya terlihat sorot khawatir di sana.
"Tenang saja Rangga aku baru saja mendapatkan pencerahan dari seseorang ku rasa ini lebih baik aku akan melakukan apa yang ku mau mulai sekarang"
"Baiklah jika itu keputusan mu Ra"