NARA RIVEERAA VS BARA ANDERSON GRETCHEN

NARA RIVEERAA VS BARA ANDERSON GRETCHEN
16 (menahan kekesalan)



Aku membuka pintu dan sosok paruh baya tersenyum hangat.


"Non bibi ingin nyampein pesan dari tuan Anderson ia tidak akan berkunjung dan langsung mengantar ayahnya ke Inggris untuk pengobatan lanjutan, untuk keperluan non Nara akan di urus besok, bibi sudah siapkan makan malam di bawah. Bibi juga ingin memberi tahu bahwa hari ini bibi akan pulang ke rumah karena suami bibi sakit jika non perlu apapun bisa telepon bibi. Ada pak Reza juga didepan supir pribadi den bara dan pak Robi satpam di depan, jika ada apa apa non bisa panggil mereka.


"Baiklah terimakasih bi" ucapku tersenyum hangat.


Ia mengangguk dan pamit pergi, aku menutup pintu dan merebahkan tubuhku di ranjang menatap langit yang penuh bintang. Rasa perih di perutku membuat aku meringis. "Ah aku lupa belum makan apapun sejak pagi penyakit lambungku kambuh sepertinya" gumanku melirik jam di nakas yang menujukan pukul 10 malam. Akhirnya ku putuskan untuk turun ke bawah mengisi perutku yang semakin perih. Aku gunakan tangga saja malas bertemu orang orang jika aku menggunakan lift. Sangat tidak ingin melihat wajah menyebalkan manusia itu. Aku baru sadar setelah berada di pertengahan tangga entah mengapa aku malah melamun hingga suara obrolan membuat ku mendongakkan kepalaku dan langsung dihadiahi tatapan songong dari mereka yang sedang berkumpul di lantai bawah dan mungkin karena suara langkah kakiku membuat mereka sadar akan kehadiran ku. Aku terdiam sebentar, menyebalkan sekali tatapan mereka itu tahu begini aku tahan saja rasa lapar ku tapi sudah terlanjur aku tidak mau mundur. ku tatap mereka balik dengan mengedihkan bahu tidak peduli dengan kehadiran mereka, melanjutkan langkahku menuju dapur. Yang membuat kesal jarak mereka dengan dapur ternyata cukup dekat dapat ku lihat langsung apa yang mereka lakukan membuat mataku ternodai aku mengalihkan perhatian ku pada interior dapur, lagi lagi aku terpukau dengan dapur yang super luas dan mewah sepertinya jika aku memecahkan gelas satupun mereka akan langsung menagihnya karena dapet ku lihat semua barang barang di sini berkilauan.





"Cek maksiat di rumah" ya mereka sedang berkumpul dengan pasangan masing masing tapi aku heran ada seseorang yang hanya sendiri tanpa pasangan seperti yang lainnya ya aku ingat dia siapa Rangga welson daya ingat ku cukup kuat kejadian di roftop kampus dulu aku tentu masih mengingat nama dan bentuk wajah mereka. Sementara si pirang itu dia menatapku tajam seolah menusuk penglihatan ku aku tak peduli, bahkan ngeri melihat sosok perempuan yang bergelayut di tangannya dengan baju yang mini itu, aku penasaran siapa wanita itu jika memang kekasihnya kenapa dia tidak bicara pada ayahnya bukan malah memburu ku dan berusaha menghabisi ku alih alih berkompromi dengan ayahnya "ah menyebalkan sekali lupakan orang kaya seperti mereka mudah sekali membuang orang lain ku pastikan wanita itu juga cepat atau lambat akan di buang oleh nya"


"Wah wah lihat akhirnya turun juga tetap aja ya aura pembantunya muncul cek gimana hari Lo tinggal di rumah ini hah gak pantas kan ya cewek jelek kumuh tinggal di istana Gretchen" Ucap seseorang aku tahu itu suara siapa ya dia Bram Steven yang tengah menatap ku remeh jangan lupakan disampingnya juga ada seorang wanita dengan pakaian yang sama mini aku akui mereka memang cantik ke 3 wanita itu memang memiliki pesona masing masing, apakah aku cemburu tentu tidak aku hanya merasa sayang saja wajah dan tubuh mereka di obral begitu.


"Gembel dipungut aja tetep jadi gembel, jangan kira Lo bisa jadi nyonya di rumah bara lo cuma numpang disini dan gak lebih dari seorang pembantu" suara nyaring itu terdengar menggelitik keluar dari mulut pria dengan wajah blasteran ya dia Alex holten,  sungguh aku heran dengan mereka yang bermulut besar. Memang persahabatan yang komplit bukan.


Aku menatap mereka santai entahlah aku muak meladeni manusia kek mereka dan melanjutkan menyeduh teh hangat ku.


"Wah wah gadis itu berani cuekin kita "


"Keknya pendengarannya gak berfungsi deh gila ya udah miskin jelek komplit aja tuh idup" ucap wanita yang bergelayut manja di lengan pria gila itu menatap ku remeh.


aku malas melihat wajah mereka yang terus saja mengeluarkan kata kata yang tidak bermanfaat ku akali dengan membelakangi mereka. Aku bahkan menulikan telinga malas meladeni anak anak sombong itu. Biarkan saja sampai mulutnya berbusana toh aku tidak rugi mereka yang rugi. Jika saja aku manusia yang tidak punya hati nurani sudah ku tenggelamkan pria itu kelaut apakah aku bisa melupakan perbuatan setannya itu beberapa hari lalu yang dengan senang hati ingin membunuhku.


Tiba tiba dengan kilat ada yang menarik tanganku aku melotot terkejut dan membalikkan tubuhku.


"Disini gue pemiliknya Lo cuma numpang sadar diri Lo cuma gadis rendahan kumuh menjijikkan sampah sialan, Kalau bukan karena bokap gue Lo udah mati *****, Gue udah kirim Lo ke neraka" Ucapnya mencengkram tanganku erat dengan wajah yang mengeras dan mata hezel nya menusuk ke arahku mengeluarkan kesan menyeramkan tapi itu tidak berlaku untuk ku, aku bahkan berusaha menekan amarah ku jika tidak aku akan dengan mudah menghajar pria gila ini dan berakhir di UGD.


Aku menatapnya tajam "siapa yang memberi izin untuk menyentuh tanganku, ku kira kau juga harus tahu diri" ucapku menghempaskan tangannya.


"apa tadi kau mengatakan apa aku tidak mengerti dengan kepala emasmu itu kau yang  mengacau, kau yang membuat masalah lalu dengan seenak jidatmu menyalahkan orang lain dan ingin menyingkirkanku, apakah kau pantas disebut manusia atau kau iblis yang menyerupai manusia. Jangan usik hidup ku urus saja dirimu sendiri aku akan mengurus diri ku sendiri dan kau ingin aku sadar diri kan yah aku sejak lama sudah sadar diri tuan Bara Anderson Gretchen, tapi yang harus kau tahu adalah apakah kau juga sadar diri ku rasa kau juga perlu sadar diri. benar kata orang manusia seperti mu tidak akan pernah tahu bagaimana rasanya diposisi orang lain sombong sekali dirimu, kau hanya dititipkan harta oleh tuhan tapi seolah harta itu milikmu ingat ini hanya titipan, dan kau cuma bisa merengek minta sesuatu pada ayahmu kau bahkan menganggap nyawa orang sebagai mainan, satu hal lagi dengar baik baik kenyataan nya kau pengecut bukan ya kau bahkan tidak bisa menolak permintaan kakekmu itu dan melakukan segala cara agar menyingkirkan ku wah wah luar biasa bukan dasar bukan manusia" ucapku sengit


"satu lagi jangan lupakan perjanjian itu atau kau akan berurusan dengan ayahmu"


"Apa Lo bilang hah cewek sialan harusnya hari itu gue langsung tembak Lo dan langsung mati hari itu juga, lo beruntung tapi kedepannya gue pastiin keberuntungan itu gak akan ada lagi" umpatnya melemparkan gelas di hadapan ku dan cipratan air panas mengenai tanganku rasa panas di tangan mengalahkan rasa panas dalam dadaku yang mendidih bahkan dress putih yang ku pakai penuh dengan noda cipratan dari teh itu.


"Itu pantas buat Lo *****" ia menatapku sengit.


aku mengepalkan tanganku menatapnya tajam berusaha menahan amarah yang semakin merangkak naik.


Berusaha menenangkan pria pemarah itu


"Udah ga ucap Bram mendekat jangan ladeni cewek kek dia memang suka membangkang" ucap Bram merangkul bara membawanya mendekat ke ruang tamu.


Aku menatap punggung keparat itu dan berbalik memukul meja dengan kepalan tanganku. Berusaha menurunkan amarahku.


Ku putuskan untuk pergi dari sini sebelum aku semakin meledak dan malah membumi hanguskan mereka semua, ku langkahkan kaki menaiki tangga dengan tatapan yang menghunus ke arah mereka, sementara mereka sibuk meminum alkohol dengan aktifitas menjijikkan masing masing.


"Kurang ngajar" ucapku kesal


"dasar gila setelah melempar teh ku dan membuat ku seperti ini dengan tidak punya malunya memamerkan aktifitas menjijikkan  dengan wanita itu mereka semua gila mereka semua bukan manusia para keparat menyebalkan."


"Bisa gila aku jika seperti ini terus, oke Nara tenang kau harus lebih bisa mengendalikan diri mulai dari hari ini bersikaplah santai dan hadapi dengan cerdik jangan terbawa emosi lagi" ku tarik nafas dan menghembuskannya pelan berusaha menurunkan amarahku.


Ku tatap diriku di cermin bahkan aku belum berganti pakaian sejak pagi dan lihat sekarang dress putih dengan aksen mutiara ini penuh dengan noda dan ya tanganku juga panas kena cipratan air panas tadi.



Suara pintu di ketuk membuat aku menoleh ke sumber suara, "Aishhhh siapa lagi" gerutuku.


Ku buka pintu dan sosok dihadapan membuat aku sangat terkejut.


"Kau baik baik saja kan, ini makanlah" ia menyodorkan nampan yang berisikan satu mangkuk bubur dan salep dihadapan ku


Aku terdiam sesaat bingung harus bereaksi seperti apa tentu saja aku bukan manusia yang mudah percaya dengan orang lain dan aku bukan manusia yang mudah dibodohi.


"Kenapa diam takut ada racunnya ya tenang aja Ra kau bisa mempercayai ku aku tidak akan memasukan racun pada makanan, dan ini salep untuk luka bakar" ucap nya tersenyum ramah hingga lesung pipinya terbit di wajahnya yang super glowing itu.


sedikit ragu ya aku bimbang ingin menerimanya atau tidak.


"Baiklah terimakasih" ucapku akhirnya mengakhiri perdebatan sengit di kepalaku. Memutuskan untuk menerima nampan yang berisi semangkuk bubur dan salep itu. Ya karena nuraniku bekerja lagi perbuatan baik harus disambut baik bukan, terlepas niatnya biarkan saja toh aku hanya menerimanya entah aku makan atau tidak itu gimana nanti saja.


Ia tersenyum dan berbalik meninggalkan ku, tapi bukan aku jika tidak penasaran rasanya belum tuntas aku perlu jawaban


"Kenapa kau repot repot membawakan makanan" tanyaku membuat ia menghentikan langkahnya dan berbalik.


"Aku hanya membantu paman Anderson" ucapnya tersenyum dan kembali melanjutkan langkahnya.


Ku tutup pintu dan menguncinya lalu meletakkan nampan di nakas ragu untuk memakannya malah berguling di kasur merasakan sensasi perih di perutku yang semakin menjadi jadi.


"Apa Aku bisa mempercayai nya atau tidak ya, oh makin pusing saja ku ingat ingat kembali tadi pagi saat di rumah sakit dia hadir disana dan sangat akrab dengan tuan Anderson.