NARA RIVEERAA VS BARA ANDERSON GRETCHEN

NARA RIVEERAA VS BARA ANDERSON GRETCHEN
2 (tragedi botol air mineral)



Pesta penyambutan adalah hal yang aku hindari tapi Disini aku bisa bertemu dengan dosen pembimbing ku, malasnya. Aku menggerutu kesal sejak tadi siang sampai malam menyapa aku tidak tenang memikirkan malam ini.


"Setidaknya aku punya abaya ini, abaya hitam dengan outer hitam dengan aksen batu batu di tangannya. Ku pakai pasmina dan melampirkannya ke pundak sedikit memakai riasan, ya aku tidak mau seperti mayat hidup disana, aku memakai lipglos pink yang natural sudahlah ini cukup ini tidak terlalu jelek" ucapku meneliti di cermin.


"Oke prof ayo aku siap mengejar mu demi skripsiku ini."


Rasanya kakiku tidak mau digerakkan melihat kampus yang penuh dengan lalu lalang orang membuat aku semakin malas. Aku menyemangati diriku sendiri "yeah Nara ayolah ini demi skripsi jangan kalah."


Aku bergabung dengan orang orang di lobi menuju aula kampus yang berada di lantai 20. Sudah biasa diperhatikan begitu mungkin mereka merasa aneh dengan penampilan ku yang serba hitam tapi aku tak peduli mungkin mereka juga merasa aneh ada orang sepertiku yang ikut pesta ya aku sebenarnya tidak sendiri ada beberapa wanita yang berhijab tapi mereka seperti ditelan bumi sama seperti ku yang jarang ikut apapun hanya berangkat lalu pulang saja.


"Ting" lift terbuka aku bergegas menuju aula, "huh ramai sekali" aku melangkah mengikuti langkah mereka dan aku terpukau dengan aula yang didekor begitu mewah dan indah ini, ya aula kampus ku memang semi outdoor jadi bentuknya seperti taman penuh dengan dekorasi cantik dan tentunya kaca atas dibuka sehingga langit dapat terlihat dengan jelas angin juga berhembus dengan sejuk.


"**** tidak ada tempat duduk ternyata, gini nih bener bener kek orang nyasar" oke aku menuju kearah pojok berdiri disana sendiri kek anak ayam yang kehilangan induknya, "sudahlah terus meratap tidak menyelesaikan masalah."


"Mana lagi prof renan plis cepet dong kakiku serasa keram berdiri setengah jam dan acaranya belum juga mulai sementara mereka santai santai saja bercanda dan mengobrol dengan teman temannya cek bener bener gak cocok pergi ke pesta. Lebih baik aku rebahkan atau jalan jalan ke pasar malam atau yang penting kakiku berjalan dari pada berdiri seperti patung hidup begini."


Aku memperhatikan orang orang, ya mereka terlihat berkelas dengan setelan jas dan gaun yang mahal.


Hingga mataku membidik sempurna seseorang pria yang sedang di maki, "Lo punya mata gak hah liat jas gue kotor." umpatnya dengan wajah yang menyebabkan ingin sekali ku tonjok wajahnya yang glowing itu.


"Maaf aku tidak sengaja" ucap pria yang berjas hitam menunduk takut.


"Lo lihat kuman dari baju Lo pindah ke gue jijik banget" ucap pria berjas biru menunjuk nunjuk pria berkaca mata itu.


Ku lihat pria itu mengambil segelas minuman dan menumpahkannya ke kepala pria itu, dia terkekeh tertawa bersama sekelompok orang yang berada di belakangnya.


"Sadar diri dong, Lo ngapain ke pesta ini udah ngumpul sama para tikus got aja sana, gak guna juga hidup Lo." Dia mendorong kepala pria itu dengan jarinya.


Aku memejamkan mata menahan perasaan empatiku yang mulai menyembul keluar. aku melangkah menuju ke tempat paling pojok dan bersembunyi di balik pilar dan orang orang mulai berkerumun suasana menjadi riuh.


"aish jangan sekarang Nara ayolah kendalikan diri mu" ucapku mencoba mendorong kembali empatiku agar kembali ketempat nya tapi suara riuh membuat gejolak itu semakin menggila.Tangan kiri ku mengepal kuat sementara tangan kanan ku meremas botol air mineral yang ada digenggaman yang isinya tinggal setengah botol "masa bodo" ucapku dan apa yang aku lakukan aku keluar dari balik pilar dan ku lempar botol itu dari jarak jauh dan ya tepat sasaran mendarat di kepala nya dengan air yang menyembur keluar karena mungkin aku tidak menutup botol itu dengan rapat dan hasilnya air itu membasahi rambut jas dan wajahnya yang sangat menyebalkan itu.


suara teriakan membuat ku kembali bisa berfikir jernih.


"Sial apa yang aku lakukan, bodoh aku tidak seharusnya mencari masalah, oke oke tenang Nara aku harus kabur sekarang masa bodo dengan skripsi besok saja. Aku berjalan cepat kearah samping kembali ke balik pilar semoga saja mereka tidak sadar aku pelakunya.


semuanya orang terkejut, aku mengintip dari celah dan bisa ku lihat ekspresi marah dari wajahnya seperti akan meledak.


Siapa yang berani melempar botol air mineral ini hah, pria pirang itu berteriak menggelegar , teman temannya juga syok dengan kejadian itu.


semua orang riuh mereka segera pergi dari pesta berhamburan karena ketakutan dan takut disalahkan sontak kesempatan itu aku gunakan juga untuk lari berbaur dengan kerumunan mahasiswa yang cepet cepat pergi. Aku masuk lift, bersama mahasiswa lain.


kami semua berhamburan untuk segera pergi menuju pintu keluar lobi kampus. aku berjalan cepat ya aku harus cepat keluar dari kampus segera dan Brak aku ditabrak dari depan kopinya tumpah mengguyur tasku yang penuh dengan kertas skripsi.


"Liat liat dong kopi gue jadi tumpah teriaknya sewot, cek gak punya mata Lo, gak guna"


aku mengecek tas ku dan benar saja semuanya basah, astaga apa lagi ini skripsiku.


Dia melengos begitu saja, aku murka "hey tuan" dia tidak mendengar ku sibuk dengan teleponnya.


"Hey tuan rambut coklat" ucapku dia akhirnya berhenti dan melirik kerah ku.


Aku mendekat, "apa kau bilang tadi ucapkan lagi" dia menaik turunkan alisnya, sudahlah tidak pentingĀ  ucapnya.


Aku menarik ujung jas nya, "kau pikir bisa pergi begitu saja hah apa yang kau katakan tadi padaku, Yang tidak punya mata itu anda, anda yang sibuk dengan telepon lalu menabrak dan anda juga yang menyalahkan orang lain cek muka saja yang di poles Sekali kali tatak Rama di poles juga biar seimbang."


"Apa Lo bilang, cek manusia kek elo gue tahu Lo cari perhatian kan nyadar ngaca penampilan kek gembel gak layak Lo." Dia menatapku menyipit dan mengejek.


Aku ingin sekali menampar bolak balik wajah putih bersihnya itu, "modal tampang doang bangga hey yang harusnya sadar itu anda terserah saja berbicara dengan manusia kaya yang seenaknya memang buang buang waktu saja" teriakku kesal awas saja. Ucapku mengakhiri perdebatan karena aku sadar bahwa aku harus segera pergi dari sini. karena mahasiswa juga susah banyak yang turun.