
Aku merebahkan tubuhku di kasur dan menatap langit kamar, "gagal lagi aku bisa gila kalau begini terus, Bagaimana dengan besok apa aku tidak kekampus dulu ya, tapi mungkin besok prof renan datang. Kenapa aku khawatir semoga aja gak ada yang lihat tadi.
Pagi hari aku mengecek ponselku aku terperanjat hampir menjatuhkan ponselku.
Price bara Anderson Gretchen dia dilempar botol air mineral kemungkinan orang tersebut merasa kesal melihat seorang pria di permalukan olehnya.
Terpampang jelas wajahnya yang basah kuyup bahkan rambut pirangnya juga ikut basah. Aku tertawa kencang "gila ini keren abis kocak lucu rasanya pengen di lelepin sekalian aja tuh manusia pirang, kek abis kecemplung di got tuh manusia"
mening puas puasin ketawa sebelum lari dari para anjing gila ya aku namai mereka anjing gila pemilik istana. salahku membuat masalah tapi ya memang nurani ku yang bekerja dan hasilnya empatiku mencuat lalu gerak refleks ku yang sulit di kompromi. Baru saja kemaren aku terlibat adu jotos dengan tukang parkir karena memalak anak kecil salah sendiri mencoba merebut hak orang lain.
Author POV
"Bara teriak seorang dari sebrang telepon, bara sedang menerima telepon dari ayahnya.
"ayah sudah bilang berhenti berulah sebentar lagi kau lulus S2 dan harusnya kau berhenti melakukan hal bodoh seperti itu. ayah akan menghukum mu agar kau berhenti bermain main dan bertingkah bodoh lagi." sambungan telepon terputus seketika.
"Sialan umpatnya, "Lex udah Nemu siapa orang nya?"
"belum gue lagi coba cek CCTV"
"Siap siap Lo tikus got gue pastiin Lo mati" ucapnya meninju tembok."
"Semua kartu di blok umpatnya, ia baru saja mendapatkan pesan dari ayahnya bahwa semua kartu di blok selama satu Minggu. imbas dari berita yang beredar terkait dirinya yang membuli mahasiswa lain.
"sial siapa yang berani foto dan bikin berita sialan kek gini awas aja gue bumi hanguskan manusia manusia keparat itu"
NARA POV
Aku merutuki kebodohan ku kemarin "sebenarnya aku bodoh atau bagaimana sih tapi syukurin harusnya yang ku lempar sepatu sekalian dan harusnya mendarat di mulutnya yang seperti cabai rawit itu. Ah sudahlah aku tidak peduli sekarang fokus pada skripsiku hanya tinggal tanda tangan saja apa susahnya sih dosen kok pada jahat sih mana udah abis jutaan keknya buat prin, Ya itu hanya berlaku untuk anak anak beasiswa sementara di luar itu bebas kirim file dan apa yang paling lucu peraturan itu keluar dari mulut anak dari pemilik kampus dan langsung disetujui begitu saja, oh sungguh luar biasa bukan dan ternyata aku baru tahu siapa yang membuat aturan itu Yap pria berambut pirang yang kemaren ku lempar itu dia orangnya aku baru tahu dari berita tadi pagi, mood ku mendadak tidak karuan. Tapi aku masih aman dan beruntung mungkin karena CCTV pas hari itu semuanya sedang gangguan, jadi syukurlah aman.
Aku berjalan cepat menuju lobi kampus menghembuskan nafasku berat saat lift penuh dengan mahasiswa yang pastinya tidak mau dekat dekat dengan ku, aku berjalan menuju tangga darurat ya tuhan sudah 3 tahun aku begini mana lantai prof renan di lantai 20 lagi. Ayo Nara semangat kau harus segera hengkang dari kampus ini secepatnya terbebas dari lingkungan yang memuakkan.
"Ampun dah cape" ucapku ngosngosan "sekarang aku baru dilantai 10 sepuluh lantai lagi ah bodo amat dah aku putuskan untuk naik lift saja semoga saja tidak banyak orang."
"Ehem dehemnya aku menoleh padanya, dengan mata yang menyipit orang kek dia dibuli lah gimana aku yang biasa aja muka nya oke bisa dibilang good looking sih karena wajahnya putih mulus tapi ku rasa dia penakut atau tidak mau cari masalah ya kenapa mau mau aja di buli. Aku mengerutkan kening.
"Mba" ucapnya aku terkesiap, "eh maaf bro" ucapku apa tadi bro astaga mulutku memang tidak bisa di kompromi. ini efek aku sering menyapa bang Ikbal nih sopir angkot yang angkot nya sering aku naiki.
"Mba yang kemaren dipesta ya? tanya nya, aku terkesiap mampus gawat darurat inimah kok nih orang bisa tahu sih.
Aku membeku ditempat. Ayo Nara buruan mikir harus jawab apa mana bisa aku bohong.
Tiba tiba lift bergucang dan berhenti mendadak Astaga baru aja naik lift malah macet plis dong aku harus kabur segera. Aku langsung tersadar dengan pertanyaannya "Oh iya mas" Astaga apa tadi ingin ku berteriak kencang bagaimana bisa aku malah mengaku. "Maksudnya iya saya kemarin ke pesta tapi saya gak lihat mas dustaku. Sekali kali berbohong maaf tuhan.
Ia tersenyum tipis oh good bagaimana bisa dia dibuli di sini sementara aku rasa diriku menjerit karena cemburu dengan visual nya apalagi senyumnya yang menampilkan deretan gigi yang begitu rapih. Jiwa cemburu ku meronta ronta dibandingkan dengan si pirang itu aku lebih cemburu padanya. Oke Nara jangan lebay santai santai jangan kek orang aneh.
"makasih mba" ucapnya kembali menatapku lihat saja pasti wajahku cengo sudahlah aku tidak peduli.
"Untuk apa ya mas tanyaku pura pura bingung" aku masih berusaha berakting semoga kali ini berhasil.
"Saya tahu mba yang nolongin saja kemaren pas di pesta, tenang saja mba saya gak akan kasih tahu siapapun ucapnya dengan senyuman disana.
Aku menghembuskan nafasku lega, dan mengangguk syukurlah dia tidak comel sebenarnya aku tidak takut dengan si pirang itu tapi ya aku cari aman saja malas berurusan dengan mereka buang waktu.
Lift kembali berfungsi dan tring sampai dilantai 20 kami berpisah tanpa basa basi.
POV
"Cctv mati bar" ucap Rangga masuk ke dalam ruangan dikampus ini mereka memiliki bascame sebuah ruangan yang lengkap dengan fasilitas mewah.
"Sialan umpatnya aku tidak mau tahu siapapun orangnya aku harus menemukannya seret dia kemari ucap bara kesal.
Rangga beranjak keluar ruangan.