NARA RIVEERAA VS BARA ANDERSON GRETCHEN

NARA RIVEERAA VS BARA ANDERSON GRETCHEN
22 (Pria misterius)



Aku tersenyum lebar sangat seru sekali mengendarai motor ini ya aku habis mengantarkan pesanan delivery dari restoran Rendra, bernyanyi riang menikmati angin yang begitu sejuk hingga tiba-tiba dari arah belakang mobil hitam melanju begitu cepat dan menyerempet motor ku dari samping hingga aku tidak bisa mengendalikan motor ini  keseimbangan ku goyah hasilnya oleng ke luar jalur dan menabrak rerumputan.


"Aishhhh kurang ngajar tidak punya sopan santun dalam berkendara seenaknya kebut kebutan di jalan" umpatku kesal, mobil itu tidak berhenti dan melaju kencang.


"Awas kau akan ku beri pelajaran atau mungkin hajaran sekaligus"


Aku membangunkan motor dan langsung menancap gas mengejar mobil hitam itu dengan kecepatan tinggi masih dapat ku lihat mobil itu dari jauh untung nya lalu lintas saat ini sangat lengang bahkan bisa dibilang sepi hanya beberapa kendaraan yang lalu lalang.


"Tunggu saja akan ku pastikan dia tidak bisa lagi berkendara, seenaknya kebut kebutan memang ini jalan pribadi"  Ku tarik pedal gas lebih kencang lagi.


Hingga aku mengurangi kecepatan laju motor karena melihat mobil itu berhenti.


Karena ada rasa aneh dan radarku berbunyi ku putuskan untuk berhenti agak sedikit jauh dari mobil hitam itu berjaga jaga jika ada sesuatu yang tidak diinginkan, bisa ku lihat seseorang pria keluar dari mobil itu dengan pakaian serba hitam dan bertopi ia menatap lama sebuah mobil hitam yang berhenti di depan restoran mewah dari kejauhan.




"Sedang apa pria itu", aku hampir serangan jantung melihat pria berpakaian serba hitam  dan bertopi itu mengeluarkan sebuah pistol dari jaketnya.


Beberapa saat aku membeku ditempat ya kejadian lalu berputar di otaku, ku lihat dia mengincar mobil sport hitam yang terparkir disana. Yang membuat aku semakin jantungan adalah sosok yang keluar dari mobil yang terparkir di depan restoran itu.


Ya bara Anderson Gretchen monster berwajah malaikat tapi perilakunya seperti setan itu keluar dari mobil itu dengan ponsel di telinganya, tentu saja aku sangat kesal dengan kejadian kemarin malam dia dan kekasihnya itu memang sebelas dua belas sama sama menyebalkan.


Pria berpakaian serba hitam itu mengangkat pistolnya membidik tepat ke arahnya yang sedang berdiri di depan pintu mobilnya.


Otaku tidak bisa berpikir ada dua kubu yang berdebat antara membiarkan atau menolong tentu saja aku tidak rela menolong nya biarkan saja dia tertembak itu bagus bukan apalagi jika dia langsung tiada aku bisa langsung hengkang dari hidupnya, aku juga sangat malas bertemu dengan terlihat kejam memang mengharapkan seseorang terluka atau bahkan tidak tapi itu pantas untuk nya. Aku tersenyum devil beberapa menit berlalu menikmati pemandangan didepan sana bisa ku lihat pelatuk pistol itu ditarik. Apa yang aku lakukan aku berteriak kencang membuat orang di seberang sana lebih tepatnya sekuriti berlari kearah ku, apalagi yang aku lakukan pura pura terjatuh ketika berkendara itu yang aku lakukan hingga membuat pria berpakaian hitam itu terlihat panik dan buru buru masuk ke mobilnya pergi dengan kecepatan tinggi.


Aku menghembuskan nafas berat melihat kepergian nya, dan sekuriti mendekat Membantu ku membangunkan motor yang tergelak.


"Apa kau terluka nona" tanya nya aku menggeleng dan tersenyum hangat.


"Terimakasih pak" ucapku sopan


Dibalas anggukan olehnya


Sekuriti itu pergi meninggalkan ku syukurlah Monster kepada emas itu tidak melihat ku karena aku menutup wajahku dengan pasmina dan sekarang bisa ku lihat pria itu masuk ke restoran dengan elegannya tanpa beban dengan disambut oleh beberapa orang.


"Dasar jika saja aku tidak menolong mu kau sudah terkapar tak berdaya mana sempat bergaya elegan seperti itu" ucapku kesal


Dan aku baru sadar apa yang aku lakukan


"Aishhhh apa yang aku lakukan bukannya kesepakatan tadi aku membiarkan saja manusia itu ditembak kenapa jadi menolong nya, Nara Nara kenapa kau tidak bisa membiarkan orang lain berbuat jahat sekali ini saja" ku tepuk dahi  ku kesal


"Ah sudahlah tidak perlu disesali sebaiknya segera pulang, "aw" aku meringis merasakan perih "ternyata aku mendapatkan hadiah 2 sekaligus, satu lecet di lutut dan satu lecet di lengan, pertama karena diserempet pria misterius itu kedua karena aku menjatuhkan diri bersama motor dengan alasan kemanusiaan ini.


"Aishhhh bener bener hari yang luar biasa" aku kembali mengendarai motor meninggalkan tempat ini.


Sepertinya aku akan langsung pulang saja, ya keputusan untuk menghubungi Rendra mengabari bahwa motornya akan ku bawa pulang sekalian besok servis karena motor ini lecet lecet dan juga ku rasa ada yang bermasalah.


"Non Nara" ucap nya terkejut dengan kedatangan ku mungkin karena aku pulang mengendarai motor dan dengan keadaan yang bisa dibilang cukup memprihatinkan dengan baju yang kotor dan helm yang juga retak jangan lupakan motor bebek ini yang juga sama memprihatinkannya seperti si pengendaranya spion patah dan dll.


"Iya pak bisa buka gerbang nya"


Pak Reza mengangguk "tapi keadaan non sepertinya kurang baik"


Aku menggeleng "cuma jatuh tadi pas pulang pak hanya lecet lecet dikit tapi saya baik baik saja kok"


"Oh syukurlah kalau begitu, bapak cukup syok non dan khawatir melihat kondisi non Nara"


Aku tersenyum "tenang pak hanya insiden kecil"


Pak Reza mengangguk dan membuka gerbang, aku melajukan motor menuju garasi baru saja sampai di pintu garasi eh tiba tiba muncul mobil hitam sport mewah mendahului dan tentu saja aku terkejut bukan main tiba tiba berhenti mendadak dan bisa dipastikan aku sedikit menabrak mobil dihadapan karena aku berusaha menghindar tapi jaraknya terlalu dekat Al hasil aku terjungkal dengan motor nya Rendra dan ku pastikan mobil dihadapan ku juga lecet.


Aku menatap kesal mobil dihadapan tentunya aku lelah dan perlu segera bersih bersih istirahat dan mengobati luka luka di tubuhku ini malah kembali kena insiden.


Bisa ku lihat pintu mobilnya terbuka dan keluarlah sosok manusia dengan tampang tanpa dosa nya itu mengibaskan jasnya dan melepaskan kaca mata hitam yang bertengger sempurna disana dia langsung mengahadapku dengan wajah murka dapat ku pastikan sebentar lagi pria itu akan meledak.


"Mobil gue" ucapnya mendekat dan menyentuh bagian mobilnya yang lecet itu.


"Lo tahu berapa harga mobil gue beraninya Lo bikin lecet mobil gue, bahkan Harga diri Lo gak akan bisa beli mobil gue wanita busuk seperti mu memang selalu merusak"


Aku bangkit dan membiarkan motor Rendra tergeletak.


"Hey apa tadi kau bilang apa mahal hey kau pikir harga diriku bisa dibeli sayangnya aku tidak menjual nya tuan, sepertinya sudah jadi kebiasaan menyalakan orang lain rupanya sadar kau yang salah tiba tiba mobilmu muncul dengan kecepatan tinggi dan berhenti mendadak dihadapan ku kau pikir jika diposisi ku bisa menghindar sudah untung aku membelokan motor ku dan hanya sedikit mengores mobil mahalmu itu" ucapku kesal balik menatapnya dengan jengkel


"Lo pikir gue peduli hah ini garasi milik gue dan Lo gak punya hak numpang motor rongsok Lo disini, singkirkan motor murahan Lo dari hadapan gue atau perlu gue bakar motor Lo itu" bisa ku lihat wajahnya itu seperti akan meledak telinga memerah dan hidungnya juga.


Aku menatapnya kesal dan jengkel membangunkan motor dan menuntun meninggalkan garasi sebelum aku pergi suaranya kembali terdengar.


"Jangan Lo pikir gue gak akan nuntut ganti rugi, Lo harus ganti kerusakan mobil gue"


Aku melirik kearah nya, "sayangnya aku tidak mau ganti rugi tuan itu kesalahan mu sendiri untuk apa ganti rugi jika bukan kesalahan ku"


"Lo pikir bisa lolos dari permasalahan ini hah lihat apa yang bisa gue lakuin"


Aku menstandar kan motor dan membalikkan tubuh.


"Kau harusnya berterima kasih padaku jika tidak kau sudah....." Ucapku mengantung karena manusia dihadapkan ku ini berbalik pergi dengan ponsel yang di telinganya.


"Dasar manusia batu baru aku akan mengatakan ada seseorang yang mengincarnya dia pergi dengan seenaknya, jika bukan karena empatiku ini aku tidak akan menolong nya, terserah saja" Ucapku kembali menuntun motor.


Kamar


Ah segernya setelah mandi aku duduk di kasur dan mengambil salep untuk mengobati lecet di tangan dan kakiku. Ingatanku melayang pada tragedi tadi, "siapa sebenarnya pria itu kenapa dia mengincar nya, aishh kenapa aku memikirkan itu sudahlah tidak penting, sebaiknya aku menghindari hal itu jika saja aku tidak mengejar pria misterius itu mungkin sekarang aku sudah terbebas setidaknya dia mendapatkan pelajaran, bagaimana rasanya ditembak orang lain, seenaknya mempermainkan hidup ku" ucapku mermonolog dan memutuskan untuk tidur saja.