
Author POV
Konferensi pers
Semua wartawan hadir dan berjejer rapih memenuhi satu ruangan.
"Selamat siang semuanya kami ucapkan terimakasih kepada semua pihak, kami hanya ingin meluruskan persoalan kemarin." Ucap Robi sekretaris tuan Anderson Gretchen.
Bara mengumpat kesal karena ayahnya mendesak agar hadir di konferensi pers akhirnya ia datang ke hotel ini.
Bara masuk ke ruangan disambut oleh jepretan kamera mereka takjup dengan visual bara yang begitu tampan sangat tampan dengan setelah kemeja putih. Tubuh tegap hidung mancung rahang tegas bibir tipis alis yang tebal dan mata birunya selaras dengan rambutnya yang pirang. Bara duduk di kursinya ada 4 kursi tersedia.
"Mereka belum datang" ucap tuan Anderson bertanya pada Robi.
"Belum pak"
"kita tunggu saja" ucapnya pada Sekretaris nya.
Rendra berjakan menuju kursi yang telah disediakan berada di ujung sementara satu kursi lagi ditengah kosong.
"Sepertinya nona Nara Riveeraa tidak bisa hadir" ucap Robi memberitahu wartawan.
Mereka bersorak kecewa. "Kenapa apa ada masalah" tanya wartawan bersautan.
Nara POV
Aku baru saja akan berbalik tapi seseorang berterik.
"Itu Nara datang" ucapnya dan aku tahu itu suara siapa ya suara pak Robi. Dan kilatan kamera langsung berburu kearahku, mataku kesulitan fokus karena cahaya kamera.
"nona kesini" suara pak Robi begitu jelas ditelinga ku dan tangannya melambai lambai memberi tahu ku agar segera kesana, ku terpaksa berjalan menuju kursi kosong yang berada ditengah ya aku malas menatap si biang masalah disampingku. Aku bahkan tidak menatap Rendra yang juga duduk di samping kiriku.
Kenapa aku datang karena aku mendapatkan telepon dari tuan Anderson dia hanya meminta datang tidak usah bicara apapun aku setuju saja karena ku pikir aku sudah mulai tua tidak bisa terus terusan main main dengan keadaan walaupun lagi lagi harus mengalah.
"Silahkan bara" ucap pak Robi.
ku lihat pak Anderson menatap anaknya tajam. Dan pria itu langsung patuh.
"Oke Hay semuanya saya bara Anderson Gretchen ingin meluruskan kesalahpahaman yang terjadi akhir akhir ini.
Aku hanya diam mendengarkan dongeng yang diceritakannya sungguh dusta, mendengarkan ceritanya membuat aku mengantuk.
"Sekarang dari sisi Rendra" ucap pak Robi
Dia sedikit gugup ku lihat dan menatapku sekilas dan mulai berbicara.
"Hai semua saya Rendra Devian saya ingin meluruskan juga kejadian di video tersebut Ya semua yang diceritakan bara memang benar ini hanya kesalahpahaman saja Nara kami hanya teman hanya sebatas itu saja tidak lebih, saya juga sudah memaafkan kejadian itu dan memaklumi nya karena semua itu terjadi atas dasar salah paham." Ucap Rendra duduk kembali di kursinya.
"Baik semuanya sudah jelaskan, ucap pak Robi menyudahi sesi konferensi pers.
"Belum teriak para wartawan Nara dia belum berkomentar apapun ucap wartawan."
Aku langsung mendelik mendengarkan perkataan wartawan itu.
"Bagaimana menurut anda nona Nara bukankah anda sangat beruntung memiliki kekasih seperti bara Anderson, kenapa bisa terjadi kesalahpahaman seperti ini apakah anda tidak bicara pada bara terkait Rendra kami denger juga anda anak beasiswa dikampus?"
Aku terdiam enggan menjawab sementara semua orang menunggu jawaban ku. Apa yang harus aku katakan mulutku tidak mau bersuara.
"Aku yang lebih beruntung karena mendapat wanita sebaik Nara dia sangat baik dan perhatian sangat unik dan berbeda dari orang lain aku menyukainya lebih dulu makanya aku sedikit protektif terhadap nya lalu terjadi salah paham aku minta maaf pada Rendra atas perlakuan ku kemarin" ucap bara menatapku dan Rendra bergantian.
"Wah bara luar biasa pria yang sangat baik dan bertanggung jawab."
"Bagaimana nona dengan pertanyaan tadi"
Mereka ini kenapa terus saja bertanya padaku menyebalkan.
"Ya aku beruntung" ucapku 3 kata saja dari mana beruntung nya aku malah menyesal bertemu dengan dia cek omong kosong.
"Baiklah semuanya sudah selesai" tiba tiba satu pertanyaan mencuat.
"Bagaimana tanggapan anda terkait foto itu nona Nara bukanlah itu berlebihan ku lihat kau berpenampilan tertutup tapi bukankah itu tidak pantas terlebih kalian belum ada ikatan pasti lalu bagaimana respon ayah anda terkait foto tersebut" ucap seseorang wartawan menatapku dengan sorot jijik aku belum pernah ditatap begitu oh rasanya ada yang patah didasar sana wajahku seolah panas terlebih dia menyebutkan terkait ayahku.
Aku mengepalkan tanganku seolah aku yang menjijikkan disini. Padahal aku korbannya aku tidak melakukan apapun tapi kenapa rasanya aku tidak bermoral.
Seolah paham pak Anderson mengambil alih
"Sudah selesai sesinya" pak Robi dengan sigap manarik lengan bajuku menjauh dari kerumunan yang terus memotret dan terus mengeluarkan pertanyaan.
Pak aku harus menjawab perkataan wartawan itu ucapku kami berjalan menjauh.
"Kita harus segera pergi nona" ucap pak Robi
Suara semakin riuh dan banyak wartawan yang mengeluarkan pertanyaan mereka
"Tuan Anderson apakah mereka akan masuk ke jenjang serius, karena perbuatan itu mencoreng agamanya."
"Ya mereka akan serius" ucap tuan Anderson Gretchen
"mereka akan kejenjang serius secepatnya jadi mohon maklumi kejadian di foto itu" ucapnya membuat aku hampir menyemburkan teriak ku tapi aku keburu di tarik oleh pak Robi wartawan ramai menghalangi jalan ku aku dan aku masuk ke mobil.
"Nona saya akan mengantar anda pulang"
"tapi saya perlu penjelasan tentang ucapan tuan Anderson tadi apa maksudnya"
"tidak sekarang nona" ucap pak Robi.
Aku menggerutu kesal apa maksudnya, aku menyesal hadir ya aku sangat menyesal ini sangat jauh dari ekspektasi ku.
"Kemana nona"
"disini saja pak" ucapku,
"tapi ini belum sampai nona"
Aku tidak peduli dan turun begitu saja berjalan cepat menjauhi mobil hitam itu.
Aku duduk ditaman menatap langit malam, "begini rasanya di anggap rendah ya kok sakit, terlebih ini tentang moral ada rasa nyeri di ulu hati padahal itu bukan kesalahan ku."
"Ra" ucap seseorang duduk di sampingku, aku menolehkan wajahku ya dia Rendra.
"Maaf untuk kekacauan ini maaf untuk semuanya kau pasti terluka."
Aku terdiam sesaat, "aku baik baik saja mungkin sedikit ya sedikit sakit mendengar perkataan mereka secara langsung terlebih saat mereka menyebut ayahku tapi tidak masalah semua orang kembali kepada kehidupannya masing masing semua orang senang kan" ucapku tersenyum kecut.
"Maaf Ra kita harus berkorban lagi dan kau harus rela dipandang buruk."
"Untuk apa minta maaf dra siapa yang salah disini bukan dirimu ataupun aku."