NARA RIVEERAA VS BARA ANDERSON GRETCHEN

NARA RIVEERAA VS BARA ANDERSON GRETCHEN
Bab 15 (menyetujui kesepakatan)



Suara teriakan terdengar nyaring dengan  banyak langkah kaki yang mendekat.


Aku luruh ke lantai bersamaan dengan sosok pria yang ingin menembak ku yang jatuh tergeletak dengan banyak luka tembak di tangan dan kakinya. Sebelum sempat menembak ku dia lebih dulu ditembak oleh seseorang dari arah belakang.


"Tinggalkan tempat ini sekarang bawa anak buahmu pergi atau jika tidak kau akan menanggung konsekuensi yang akan kau sesali  bara jangan membuat ku marah dan kehilangan kendali"


Ku lihat dia mengepalkan tangannya menatap kesal pada sosok itu, ia berganti menatap ku sengit berbalik meninggalkan ruangan ini, pergi bersama anak buahnya.


Aku segera berlari menuju ke arah Bima yang terduduk di lantai ketakutan, langsung ku peluk tubuh bergetar nya.


"Semuanya baik baik saja, kau aman dan kita selamat" ucapku menenangkan.


 


Suara dering ponsel memecah lamunanku yang sedang memutar kejadian beberapa hari lalu. aku beranjak masuk kembali ke kamar mengambil ponsel dan mengangkat telepon masuk, tersenyum lebar merasa lega dan menyudahi perbincangan itu.


"Syukurlah dia baik baik saja, baiklah ayo lakukan sekarang semuanya kembali aman aku bisa melakukan apapun tanpa khawatir tentang hal lain. Ku tarik berkas di meja dan menatap nya dalam ada tanda tangan seseorang yang menghiasi kertas yang penuh tulisan, ya itu tanda tanganku tercantum disana membuat ku kembali menarik ingatan ku beberapa hari yang lalu. Setelah pertempuran sengit itu, terjadilah sebuah kesepakatan. Sebenernya aku tidak tahu kedepannya seperti apa tapi setelah melihat kondisi sekarang semuanya tidak bisa ku selamatkan dan aku kesulitan melindungi milikku kecuali diriku sendiri bahkan aku hampir membawa seseorang ikut meregang nyawa. Percakapan tuan Anderson masih terekam jelas saat aku dirawat dirumah sakit beberapa hari yang lalu.


Flashback


"Maaf" ucap tuan Anderson duduk di samping berangkar ku.


"Saya tidak pernah berpikir bara akan bertindak sejauh ini Nara, anak itu tidak biasanya bertingkah diluar batas seperti ini."


Aku hanya diam, sungguh aku tidak pernah mengalami hal se buruk dan se gila ini sebelumnya aku berada diambang antara hidup dan mati.


Aku terdiam, bayangan kemaren masih berputar di kepala ku. Membayangkan jika tuan Anderson tidak datang apa yang akan terjadi aku bahkan tidak bisa memikirkan nya. Akhirnya dua kata yang berat terucap dari bibirku, aku tidak bisa menjadi manusia yang tidak tahu terimakasih.


"Nara" ucap tuan Anderson terlihat menghela nafasnya.


"Hanya ini yang bisa ku lakukan Nara aku tahu banyak orang yang mungkin sedang mengejar mu karena kau membantu para wanita keluar dari penderitaan nya mungkin pria itu sudah masuk penjara tapi ada banyak orang yang juga mengincarmu termasuk anakku Bara"


aku menunduk menatap tanganku yang diperban, aku tidak takut dengan mereka semua aku bisa melindungi diriku sendiri tapi lagi lagi aku harus sadar setelah kejadian kemarin mereka pasti akan kembali. Jika saja aku tidak dekat dengan siapapun merasa tidak akan terseret seperti ini tapi nasi sudah menjadi bubur dan sekarang yang bisa ku lakukan adalah mencari cara agar mereka semua aman karena ku tahu tidak mungkin bisa terus terusan berada di sisinya.


Mungkin karena dia sadar aku melamun ia menyodorkan gelas yang berisi air padaku.


"Minuman dulu mungkin ini sulit untuk mu tapi aku hanya bisa menawarkan solusi ini"


Aku menerima gelas air itu dan meminumnya


"Nara ku pastikan tidak akan ada yang berani membunuh mu mengincarmu lagi bahkan menyakitimu tidak akan ku biarkan mereka mendekatimu dan orang orang disekitarmu, semuanya akan kembali seperti semula kau juga harus menyelesaikan kuliah mu bukan dan melanjutkan S2, semua biaya aku akan cover kehidupan mu akan ku penuhi.


"Aku hanya ingin hidup ku kembali seperti semula, hanya pastikan tidak ada lagi orang yang mengincar orang yang dekat dengan ku, aku ingin hidup seperti biasanya kembali seperti semula."


Ia menyodorkankan sebuah berkas dihadapanku, aku membacanya. Inilah hidup bukan selalu ada syarat dan ketentuan.


Aku membubuhkan tanda tangan disana. Walaupun aku tahu pasti ada konsekuensinya.


"Terimakasih Nara, ku pastikan semuanya kembali seperti semula dan aku akan memberikan mu apapun itu kau tinggal bilang saja, satu hal lagi aku menjamin keselamatanmu ku pastikan anak ku tidak akan menyakiti mu atau bahkan membunuhmu Nara, dia tidak akan pernah melakukan hal itu lagi dan anak itu ku pastikan dia aman dari orang orang yang mengincarnya"


Lagi lagi lamunanku buyar kala ada suara ketukan di pintu.