
Notif dari pak Reza
Non maaf bapak tidak bisa jemput karena den bara menyuruh bapak menjemput non ara di bandara.
"Ara siapa, tahu lah bodo amat" ucapku mengetikan pesan singkat
Oke pak balasku mengirim pesan padanya, jika bukan karena tidak ingin membuat bi zela khawatir aku sebenarnya tidak mau minta di jemput tapi karena ia mendesak ya kenapa tidak aku lakukan.
"Kenapa Ra" ucap Rendra duduk di hadapanku resto sudah tutup jadi kami bisa mengobrol.
"ini pak Reza gak bisa jemput" ucapku santai,
"Yaudah yu ikut sekalian juga kan searah" tawarnya
aku sebenarnya tidak enak terlalu banyak merepotkan
"Tenang Ra ada Mona juga kok jadi kita gak cuma berdua dan jangan berpikir kalau ngerepotin buang jauh jauh pikirkan itu" ia tersenyum kecil
"Oke kalau begitu"
Mona adalah adik dari Rendra dia juga bantu bantu di resto ini.
"Ayo kak nara" ucap Mona manarik tanganku
"duduk di depan aja kak aku mau tidur dibelakang" ucap Mona.
Aku mengangguk, dan mobil membelah jalanan kota.
Tiba tiba aku melamun memikirkan sesuatu ku rasa rasa cemburu kembali mencuat, kembali cemburu pada Rendra dia memiliki adik yang cantik dia memiliki keluarga yang mendukung dan memiliki ekonomi yang baik lalu visualnya juga jangan ditanyakan lagi banyak pelanggan mengaguminya sementara aku kebalikan nya bahkan keluarga, aku tidak memiliki itu. Oh tuhan maaf ada apa dengan ku ucapku dalam hati.
"Ra" ucap Rendra memecah lamunanku yang makin jauh
"Hem" aku menoleh pada nya yang sedang fokus berkendara.
"Jangan ngelamun gak baik kalau ada masalah cerita Ra?
Aku menggeleng "gak kok cuma lagi cape aja" dustaku.
"Jangan bohong wajahmu tidak pandai berbohong. Gak papa kalau gak mau cerita nanti kalau udah siap cerita aku siap mendengarkan"
Aku mengangguk enggan menatapnya hanya menatap lurus kedepan.
"Thanks dra"
"Ya noblem, Dari sini kemana"
"kiri terus lurus nanti nomor 20" ucapku
"Oke, sampai" ucap Rendra memecah lamunanku lagi entah mengapa aku jadi sering melamun
"Oh udah sampe ya, oke deh thanks dra" ucap ku membuka pintu mobil baru beberapa langkah suara Rendra mengehentikan langkahku.
"Nara" ucapnya aku menoleh,
"aku ada sesuatu untuk mu" dia menyodorkan kotak persegi padaku.
"Isinya coklat Mona bilang kau suka coklat kan aku membelinya saat di Singapur kemarin sekalian oleh oleh untuk mu"
Aku tersenyum menerima kotak itu
" thanks ren"
" jangan merasa sendirian Ra kau sahabat ku ada aku ada Mona juga"
"Ya kalian sahabat ku aku bersyukur memiliki kalian"
Rendra mengangguk, "aku pulang" Rendra memasuki mobilnya dan menutup pintu
Rendra melesat dengan mobil hitamnya.
Terimakasih tuhan telah menghadirkan sosok seperti mereka.
Aku membuka gerbang dan memasuki kediaman
"Non baru pulang" suara pak Reza membuat aku menoleh
"ya pak"
"Maaf non bapak gak bisa jemput tadi"
Aku mengangguk "gak papa pak yaudah saya masuk dulu pak"
"Iya non"
Aku berjalan menuju pintu masuk dan membuka pintu. Berjalan menuju ke tengah rumah dan aku hentikan langkah ketika melihat sosok perempuan cantik dengan dress merah diatas lutut yang mengekspos sempurna paha mulusnya dan juga bahunya.
Dia menatapku tajam dan langsung mendekat
"Lo wanita sialan itu kan yang jebak bara hah"ucap wanita itu menunjuk nunjukku bisa ku lihat ekspresi marah di wajah cantiknya itu.
Aku menatap nya malas, berdebat di malam hari setelah pulang kerja hanya buang buang tenaga saja, "bisa bergeser nona aku mau lewat" ucapku santai
Dia menatapku murka dan mencekal tanganku bahkan mendorong ku hingga tempurung lengan ku terpentok ujung meja dan aku tersungkur ke lantai. Ya tentunya bukan karena kekuatan nya yang super itu tapi karena aku tidak menyangka wanita ini akan melakukan itu padaku.
Aku meringis rasanya nyeri di sikut ku.
"Sukurin berani banget Lo ngimpi jadi nyonya bara Anderson Gretchen hah sadar diri liat muka Lo yang jelek itu miskin kumuh menjijikkan. Bokap lo gak ngajarin ya kalau mimpi jangan ketinggian atau Bokap Lo yang nyuruh"
Aku mengepalkan tanganku, rasanya sudah tidak bisa sabar lagi.
"Hey nona jaga bicaramu atau aku bisa berbuat kasar padamu dan apa tadi mimpi katamu sayangnya aku sedikitpun tidak bermimpi dan berminat jadi nyonya rumah ini tanyakan pada kekasihmu itu apa sebenarnya yang terjadi karena kesalahannya aku terjebak di rumah ini." Kataku bangkit dan berdiri.
"Ck kau mengancamku gadis rendahan seperti mu berani padaku"
Dia mengayunkan tangannya padaku tapi ku cekal tangannya dengan tangan kiriku dan mendorong nya hingga ia jatuh tersungkur ke sofa.
"Wanita sialan" teriak seseorang yang aku yakini manusia sombong itu.
Wah akhirnya datang juga, dia mendekat dan menatapku sengit.
"Apa hah" ucapku meninggi rasanya aku kesal sekali
"Berani Lo dorong Vierra" teriaknya nyalang. Mencekal tanganku yang terpentok tadi rasanya nyeri tapi ku abaikan karena tidak mau terlihat lemah.
"Oh ini yang dibicarakan kakekmu itu Vierra wanita yang kau kencani dan kakemu tidak setuju dengan hubungan kalian aku tahu sekarang kenapa dia tidak setuju. Benar benar cocok sama sama manusia manifulatif" aku menghembuskan cekalannya.
"Mundur" ucapku mendorong tumbuhnya menjauh dariku. "Lanjutkan saja dramanya aku tidak perduli" berbalik meninggalkan mereka.
"gue belum selesai bicara brengsek" ucapnya berteriak kencang.
"Tapi aku sudah selesai aku muak mendengarkan ocehan mu itu tidak penting. Ajari kekasihmu itu atau perlu ku jahit juga mulutnya" ucapku tajam menaiki tangga.
"Nara" teriak bara kembali menggelar, aku mempercepat langkah ku.
"Sayang sudahlah biarkan dia besok kita beri pelajaran sekarang waktunya kita pergi"
Aku masih bisa mendengarkan kata kata manis dari mulut wanita itu.
Ku buka pintu kamar dan menguncinya
"Dasar menyebalkan pasangan yang cocok sama sama gila" aku memutuskan untuk mandi dan berganti pakaian menggunakan baju tidur. Ku obati lengan yang membiru sepertinya akan bengkak.