
Malam mulai berganti pagi, saga yang terlelap dalam tidurnya merasakan berat di lengan kiri. Ada yang menimpanya di dada. Ia lalu membuka mata perlahan, pemandangan yang dapat ia lihat adalah wajah ayana dengan sinar lampu redup di dalam kamar hotel. Ia tersenyum, memori tentang semalam dapat ia ingat.
Saga lalu menggerakkan tangan kanannya membelai rambut ayana dimana tangan kanan saga sudah beralih fungsi menjadi bantal. Nafas halus ayana menerpa di tubuh saga. Saga mengenggam tangan ayana yang berada di dadanya, untung dia dan ayana masih berpakaian pakaian tidur lengan panjang lengkap, tanpa ada satupun kancing yang terlepas.
Saga mencoba untuk memindahkan tangannya tanpa membangunkan ayana mengingat dirinya harus menunaikan ibadah pagi ini tapi tidak dengan ayana yang sedang datang bulan.
"ehmm" suara merdu ayana terdengar di telinga saga ketika ia mencoba melepaskan tangan kanannya.
Namun tiba-tiba ayana terbangun, ayana kaget, refleks dia memundurkan kepalanya. Beruntung saga dengan sigap menahan kepala ayana supaya tidak berbenturan dengan ranjang. Saga tersenyum melihatnya.
Ayana yang masih dengan keterkejutannya menatap saga. Dia sempat berfikir dan menilai situasi
"maaf" ucap ayana akhirnya. yang di ajak bicara malah tetap menatap ayana.
"udah sana sholat, buruan. sana ish" desak ayana.
Saga tersenyum melihat salah tingkah ayana. Saga lalu mendekatkan dirinya ke telinga ayana
"morning baby girl" suara serak saga mencuri attensi ayana.
Saga lalu beranjak dan ke kamar mandi.
"Anjir,, ahh" batin ayana yang tidak habis pikir dengan kondisinya sekarang. panas dingin, dan detak jantung yang berdetak lebih kencang.
Ayana melihat pintu kamar mandi. Mengingatkan kembali perkataan saga barusan. Ia lalu menutupi dirinya sendiri dengan selimut. Entah kenapa dirinya yang merasa malu.
Sementara di kamar mandi, Saga tak henti-henti nya tersenyum dan mengingat setiap ekspresi ayana.
"ah,, pengen kawin" ucap saga ketika air shower membasahinya.
Saga keluar dari kamar mandi. Ia mendapati karpet serta selimut yang rapi beberapa bantal dan guling sudah berpindah lokasi ke ranjang. Ayana lalu berjalan ke kamar mandi tanpa melihat saga. Saga tersenyum kembali dengan tingkah ayana. Ia lalu melaksanakan ibadahnya.
Setelah beberapa menit, ayana keluar dari kamar mandi, ia tak mendapati keberadaan saga.
Ayana melihat ada kertas memo di meja di lalu membacanya
"aku ngegym dibawah, kalo butuh sesuatu telfon aja. Saga" tulisnya.
"ya mending kayak gini, gua ngerjain kerjaan aja biar g kepikiran snu terus" monolog ayana.
Tak terasa jam menunjukkan pukul 07.20
Pintu kamar hotel terbuka beserta beberapa menu sarapan yang di pesan sebelumnya oleh saga. Ayana yang mengetik di laptopnya menoleh.
"Thanks" ucap saga
"your wellcome Sir" ucap roomboy
"makan dulu Ay, aku mau mandi dulu" kata saga
"kamu mau mandi lagi? " tanya ayana
"iya, keringetan Ay, kenapa?" tanya Saga balik
"ya gak kenapa-napa" tutur ayana
"Tenang Ay, kelak kamu adalah alasan terbesarku untuk mandi wajib" tutur Saga dengan senyum sedikit jahilnya mendekati ayana.
Ayana lalu menginjak kaki saga.
"Aw.. Ay sakit" kata pengaduan saga
"Rasain. udah sana mandi" ucap ayana. Saga tertawa lalu masuk ke kamar mandi.
Ayana membuka lemari kamar hotel. Entah niat darimana dia ingin menyiapkan pakaian Saga. Ayana melihat kemeja yang ia beli bersama saga ada disana. Ayana lalu mengambil setelan kemeja kerja itu, tak lupa dengan dasinya.
Saga keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk di pinggannya. Ia memang benar-benar sangat sengaja menggoda ayana.
"Saga, ish..pake baju dulu gitu lo" ucap ayana setelah memalingkan wajahnya dari penampakan seorang sagara mahendra.
"hemm" ucap ayana masih membelakangi saga.
"dalamanku g ada Ay" goda Saga
"ish, cari sendiri.. aku cuma ambil itu di lemari, g tau di mana underware kamu. " ucap ayana. Saga tertawa dengan ucapan frontal ayana.
"udah belum? " tanya ayana
"bentar,,,udah Ay" ucap Saga.
Ayana lalu membalikkan badannya dan membuka mata.
"kok belum dikancingin sih" dengus ayana
"g bisa aku Ay, kamu juga g ada nyiapin ikat pinggang aku" jawab Saga dengan ekspresi berharap
"emang kamu biasanya di pakein? enggak kan? g usah manja" ucap ayana
"aku biasanya bisa Ay, tapi karena semalem tangan aku sakit" jawab saga lemah
"g usah sok lemah, kamu tadi lo nge gym" ucap ayana
"hehe" cengir saga. Saga lalu mengancing kemejanya dan mengikat ikat pinggang, sedikit merapikan rambunya, ia lalu mendekat ke ayana yang akan memulai sarapan. Mereka lalu memulai sarapannya.
"kamu ikut aku hari ini gimana?" ajak saga.
"hem.. kalo enggak gimana? ada laporan yang harus aku revisi" jawab ayana
"hmm.. oke, kamu ngerjainnya dimana? " tanya saga lagi
"disini, di kamar ini mau dimana lagi" ucap ayana
"hmm.. oke, kalokangen nanti telfon aku ya" ucap saga.
"siap" jawab ayana
selesai sarapan saga bersiap akan meninjau proyek yang lain dengan alan. Saga lalu mengambil dasi nya lalu menyerahkan kepada ayana.
"pakein Ay" pinta saga dengan senyum yang tidak luntur daritadi.
Ayana lalu memakaikannya di leher saga, saga terus saja tersenyum.
"kamu kenapa? senyum terus daritadi. habis dapet kabar baik ya? " tanya bertubi-tubi ayana.
"aku kan semalem udah di charge,, sekarang full" ucap saga seraya membelai pipi kiri ayana. Ayana malu mendenngarnya.
"gak gitu, kemaren malem itu aku g sadar kalo ternyata aku meluk kamu sampek pagi" bela ayana.
"iya, gpp kok. aku juga seneng" jawab saga
ayana menganga dibuatnya
Tok.. tok.. tok
"Woy bos, ayok kerja" ucap alan tanpa dosa.
"sialan" umpat saga.
"berangkat dulu ya, dah.. Assalamu'alakum" ucap saga membelai rambut ayana dengan senyum lalu membuka pintu kamar hotel.
"Wa'alaikum salam" jawab ayana, saga lalu menutup pintu.
Alan yang melihatnya menggelengkan kepala.
"Oh siapapun, toling spill aplikasi yang berfungsi memfilter keuwuan orang lain" pinta Alan.