MY YOU

MY YOU
16



"Cie.. yang habis di apelin.. uhuy" ujar nala ikut berbaring di ranjang ayana. Ayana hanya tersenyum dia sibuk mengetik pada layar hpnya, sesekali membalas dengan stiker dinosaurus kuning.


"Ay" ujar nala lagi


"apa?" ucap ayana


"gua lagi sebel, kecewa sama dedek" intro nala membuka gosip tentang dedeknya. Banyak waktu yang digunakan nala untuk berbicara sesekali ayana hanya menjawab oh dan iya.


" cewek butol (bucin tolol) kalo ketemu cowok manipulatif jadinya kayak gitu. lagian siapa sih pencetus prank prenk gitu." pendapat ayana.


"ya g tau.. cuan kali" ucap nala


"tipu daya manusia itu banyak" ujar ayana


"hem. lo bener" jawab nala


hening tak ada suara, kedua wanita itu asik dengan pacar mereka masing-masingnya.


"la, pada saat gimana lo yakin kalo lo siap nikah?" ayana membuka diskusi


"saga ngajak nikah?" tanya jala antusias. ayana hanya melirik nala.


"gua sih sekarang siap kalo si yuga ngajak nikah. Kesiapan orang itu beda-beda. Jangan ngikutin orang. Lo sendiri yang paham dengan kondisi lo" jawab ayana


"gua pernah baca kalo cewek punya alarm" ucap ayana


"usia maksud lo?" tanya nala dan di angguki ayana


"emang sih cewek kayak punya pengingat kalo di usia ini dia harus gimana,, salah satunya nikah. Tapi kalo cowok pengingat nya ketika dia udah bisa beli ini, punya itu, mapan, dia bakalan mikir buat nikah" ucap nala menjeda penjelasannya.


"tapi balik lagi ke yang tadi. dan seperti yang selalu lo bilang kita harus bisa tanggungjawab sama keputusan kita dan menanggung semua konsekuensi dari keputusan itu." jawab nala


" kenapa lo g bilang aja sih gua harus nikah atau enggak biar gua ada pandangan" ucap ayana


"lo amnesia? lo sendiri kan yang sering bilang sebenarnya cewek itu udah punya keputusan sendiri cuma dia tanya ke orang-orang buat memperkuat jawaban dia, supaya nanti kalo g sesuai ekspektasi dia merasa g salah salah amat" ucap nala seraya berdiri mengambil cemilan yang ada di meja kamar ayana.


"lo nikah aja sama saga, nanti saga yang lo salahin kalo g sesuai ekspektasi.. ahahahaha" saran nala sambil memakan kripik khas malang itu.


"gila lo" ucap ayana seraya mendekati nala lalu memakan kripik yang ada di tangan nala.


Seminggu telah berlalu, ayana mulai membiasakan diri dengan kehidupan dimana ada seorang Saga yang akan menanyainya, mengkhawatirkannya dan menggodainya.


Malam ini, Saga mengajak ayana untuk makan malam di restoran mewah, bujuk rayu Saga lancarkan agar ayana mau dengan alasan pemilik restoran adalah teman Saga. Saat di jemput, ayana hanya mengenakan hodie berwarna hitam dipadukan dengan celana jins, tidak ada sisi feminimnya. Permasalah bukan sampai di situ saja, ketika makanan di hidangkan ayana diam mengheningkan cipta.


"kamu g suka Ay? atau g bisa juga" tanya Saga melihat ayana hanya menatap potongan steak yang telah Saga potong-potong.


"bisa kok. bisa.. hehe" jawab ayana canggung. ayana lalu menyuap potongan steak itu. dia berusaha menelannya.


"disini steak nya enak, menurutmu gimana?" tanya Saga lagi ketika ayana berada pada suapan pertama.


"hem.." jawabnya sambil menganggukkan kepala. Saga makan dengan tenang dan ayana mencoba untuk tenang. Saga merasa ketidaknyamanan ayana.


"boleh minta gak? aku kayaknya laper banget nih" minta Saga


"boleh boleh ini." ujar ayana cepat. Melihat tanggapan ayana Saga hanya tersenyum.


Di mobil


" kamu pengen makan apa?" tanya Saga


" lah,, kita kan udah makan barusan" jawab ayana


"aku masih laper Ay, pengen yang lain bukan steak" ujar Saga


"mie pedes mau gak?" seru ayana cepat. Saga tersenyum dalam hati.


"boleh" ucap Saga mulai melajukan mobilnya.


Mobil mewah Saga menjadi pusat perhatian walaupun ayana sudah meminta Saga untuk parkir jauh dari tempat makan.


"Aku sudah berusaha semaksimal mungkin Ay, emang mobilku mewah mau gimana lagi" ucap Saga dengan entengnya.


Ketika masuk ke tempat makan, kembali Saga menjadi pusat perhatian. Muka tampan mapan dan kaya raya memang tidak bisa Saga lepaskan. Ayana meminta Saga untuk duduk saja karena merasa menjadi pusat perhartian bersama Saga, namun Saga memilih ikut mengantre, biasanya dia akan duduk lalu waiters yang akan menghampirinya, tapi sekarang dia ikut antre bersama ayana.


"kamu mau level berapa?" tanya ayana yang berada di samping Saga


"hem,, enaknya yang mana?" tanya Saga dengan akting penasaran seraya membaca menu dan harga pada papan


"yang level S aja ya, aku yang M. terus dimsumnya udang rambutan, lumpia udang, sama siomay terus nanti minumnya lechy splass apa blackcurrant ya? apa baby milo aja?" ucap ayana panjang lebar


"pesen yang semua kamu sebutin tadi saja Ay, aku pengen nyoba juga kok" jawab Saga


"Oke" final ayana. Saga hanya bisa tersenyum dengan tingkah laku ayana.


"apa dia g tau kalo harga steak tadi bisa 10 kali lipat dari ini" batin Saga.


Setelah menunggu cukup lama akhirnya pesanan mereka datang, ayana makan dengan lahapnya. Saga merasa senang dan tidak habis pikir dengan seorang ayana arunika.


Kini mereka berada di depan kos ayana, ketika ayana hendak membuka pintu mobil, Saga bertanya.


"Ay, kartunya kok belum kamu pakai" tanya Saga


"emang harus dipakai ya?" ayana balik bertanya. Saga tersenyum mendengarnya.


"di pakai ya Ay" ucap Saga seraya membenahi anak rambut ayana. Mendapat pergerakan seperti itu ayana menjadi tegang.


"harus aku pakai? terserah kan mau tak pakai buat apa" tanya ayana memastikan


"iya" jawab mantap Saga.


"oke. aku masuk dulu, kamu hati-hati" ucap ayana seraya membuka pintu mobil dengan sedikit terburu-buru. Saga terkekeh dengan sikap ayana.


"belum diapa-apain udah salah tingkah" batin Saga melihat ayana.


Dia melihat ayana memasuki gerbang kos namun kembali lagi ke mobil Saga. Saga membuka pintu mobilnya hendak bertanya apakah ada yang tertinggal.


"makasih " ucap ayana dengan senyum tulus. Lalu berlari lagi ke pintu gerbang. Saya tersenyum, dia cukup lama memastikan ayana tidak kembali lagi, lalu melajukan mobilnya untuk pulang ke rumah.