
Beberapa bulan kemudian Ghibran semakin dekat dengan Killa begitu juga dengan Salsha yang semakin terbakar api cemburu ia memikirkan berbagai cara untuk bisa memisahkan antara Ghibran dan Killa.
Pagi ini Killa membawa mobil ke kampusnya karena ia sedang ingin mengemudi, tibalah Killa di kampusnya ia turun dari mobil dan berjalan ke dalam kelasnya.
Salsha melihat Killa membawa ia langsung menghampiri mobil Killa mencopot kabel remnya.
" Mati kau Killa." kata Salsha dengan senyum sini nya.
Killa sudah sampai di kelasnya ia di sambut hangat oleh kedua teman cowoknya siapa lagi kalau bukan Ghibran dan Dio.
" Pagi Kil tumben Lo agak siang ?" tanya Dio.
" Iya tadi terjebak macet." jawab Killa.
Tak berapa lama dosen pengajar itu datang, semua mahasiswa fakultas itu fokus mendengarkan apa yang di sampaikan oleh dosen.
Hari semakin siang kini mata kuliah di kelas itu telah siang karena Ghibran dan kedua temannya sebentar lagi mereka akan lulus.
" Ke cafe biasa yuk ?" ajak Dio
" Ayo aku udd kangen sama minumannya." jawab Killa.
" Kirain kangen sama mas tukang parkir." goda Dio
" Ya enggak lah." jawab Killa
" Ya udd kita langsung ke sana aja, kamu bawa mobil sendiri ?" tanya Ghibran
" Iya aku bawa mobil sendiri."
" Ya udd hati hati yah nyetirnya."
" Siap bos."
Mereka bertiga langsung masuk ke dalam mobil masing masing saat di tengah perjalanan Killa merasa ada yang aneh dengan mobilnya.
" Loh kok gak bisa di rem ?" gunam nya
Killa terus saja menginjak rem mobilnya namun sayang rem itu tidak berfungsi sama sekali sedangkan dari arah berlawanan ada truk yang melaju dengan sangat kencang, Killa menghindari mobil truk itu ia membanting setir ke arah kiri namun naas mobil Killa menabrak pembatas jalan.
Ghibran yang melihat itu langsung keluar dari mobilnya ia menghampiri Killa dan berteriak.
" Killa." ucap Ghibran sambil membantu Killa keluar dari mobilnya.
" Ghibran." ucap Killa dengan nada yang kecil namun masih bisa terdengar oleh Ghibran.
" Bertahanlah Killa." kata Ghibran.
Dio yang melihat mobil Ghibran berada di sisi jalan ia pun segera turun dan ia sangat kaget saat melihat mobil Killa yang sudah menabrak pembatas jalan.
" Kenapa Killa ?" tanya Dio
" Yo tolongin gue bawa Killa ke rumah sakit." kata Ghibran yang sudah khawatir.
" Oke oke pake mobil gue aja, mobil Lo biara nanti orang suruhan gue yang ambil."
Tanpa ba-bi-bu Ghibran membopong tubuh Killa ke dalam mobil Dio, di dalam mobil Ghibran tak henti henti berbicara kepada Killa, Dio tau apa yang di rasakan oleh sahabatnya itu.
Dio menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi dan tak butuh waktu lama mereka telah sampai di rumah sakit.
" Suster suster." teriak Ghibran.
Para suster yang mendengar itu segera menolong Ghibran, Killa sudah berada di atas belangkar itu dan di bawa masuk ke ruangan UGD.
" Mohon untuk tunggu di luar mas." ucap salah satu suster itu.
" Tolong selamatkan dia sus." kata Ghibran
" Akan kami usahakan mas, mas juga bantu kami doa."
Suster itu masuk lalu menutup pintu ruangan sedangkan Ghibran duduk di bangku tunggu dengan pikiran yang frustasi.
" Kenapa bisa begini ?" tanya Dio
" Gue juga gak tau, yang gue liat tadi Killa menghindar dari truk yang melaju keras."
" Lo udd telpon nyokap bokap nya ?"
" Belum, gue gak tau no nya."
" Ya udd gue aja yang hubungi pakai no Killa."
Dio langsung menelpon kedua orang tua Killa dengan ponsel milik Killa.
📱: Hallo ada apa sayang ?" ucap seorang perempuan dari sebrang sana.
📱: Apa kecelakaan ?"
📱: Iya Tante.
📱: Ya udd Tante akan ke sana, rumah sakit mana ?"
📱: Rumah sakit XX Tante."
Panggilan pun berakhir Dio duduk di samping Ghibran.
" Udd ?" tanya Ghibran
" Udd paling bentar lagi nyokap nya ke sini." kata Dio
" Gue takut gimana gue ngomong sama nyokap bokap nya Killa."
" Udd tenang aja nanti gue yang bantu ngomong." kata Dio
Kedua orang tua Dio dan Ghibran datang ke rumah sakit saat menerima telepon dari anaknya.
" Kenapa ada apa ini kak ?" tanya Tasya.
" Killa Bun, Killa teman kakak kecelakaan."
" Innalilahi." jawab Tasya.
" Kamu gak papa Dio." tanya Aurel kepada anaknya
" Enggak kok ma." jawab Dio.
Dokter yang menangani Killa belum keluar dari tadi sehingga membuat Ghibran semakin panik, tiba tiba datanglah Ira bersama dengan Kelvin.
" Tasya, Aurel." sapa Ira
" Ira ya ampun, ada apa ke sini ?" tanya Aurel.
" Katanya anak saya kecelakaan." kata Ira
" Jadi Killa anak kamu ?" tanya Tasya
" Iya Sya." jawab Ira
" Gimana kabarnya ?" tanya Ira lagi
" Dokter belum keluar Tante." kata Ghibran.
" Ya ampun mas gimana anak kita." kata Ira panik.
" Udd tenang ada ma dokter sedang menanggani anak kita." kata Kelvin.
Tak lama pintu ruangan itu terbuka dan muncullah dokter.
" Apa keluarga pasien ada yang bergolongan darah A+ ? pasien membutuhkan darah tersebut karena pasien kehilangan banyak darah." kata sang dokter sedangan Ira mamanya Killa hanya bisa menangis di pelukan Kelvin.
" Saya dok darah saya sama, ambil saja yang saya dok." kata Ghibran
" Apa kamu yakin nak ?" tanya mama Killa.
" Iya saya yakin Tante."
" Baiklah kalau begitu ikut saya keruangan."
Ghibran membuntuti dokter itu dari belakang, proses pendonoran darah itu selesai dan Ghibran sudah berkumpul bersama di depan ruangan Killa.
" Pasien belum sadar karena obat bius mungkin tak lama lagi ia akan sadar." kata dokter.
" Makasih dok." jawab Kelvin
" Kalau gitu saya permisi dulu."
Dokter itu langsung pergi meninggalkan ruangan Killa dan semua orang yang tadi ada di luar kini sudah masuk ke ruangan Killa.
Ira selalu mamanya ia tidak tega melihat anaknya yang berbaring lemas di atas ranjang, sedangkan Ghibran menghampiri dan duduk di samping sambil memegang tangan Killa.
" Cepat sadar aku kangen liat wajah ceria kamu." katanya sambil mencium tangan Killa
Tasya tau bahwa anaknya itu sudah jatuh cinta kepada anak temannya itu, ia merasa sangat senang anaknya tidak salah pilih.
" Terimakasih nak Ghibran telah mendonorkan darahnya buat Killa." ucap Ira
" Iya sama sama Tante, kebetulan darah kita sama." jawab Ghibran.
Hari semakin sore namun Killa belum sadarkan diri semua orang pamit untuk pulang terlebih dahulu ke rumahnya hanya ada Ghibran dan Killa di ruangan itu.