
Mereka kembali ke kamarnya.
" Sayang apakah kamu tinggal dengan mas di rumah yang berbeda dengan orang tua kita buat kita bisa lebih mandiri lagi bagaimana ?"
" Iya mas aku setuju."
" Ya udd kalau gitu besok kita pindah yah, sekarang kamu tidur udd malam."
Radit dan Taysa pun tidur dengan saling memeluk satu sama lain.
Keesokan harinya Radit dan Tasya sudah siap untuk pindah ke rumah baru mereka.
Radit dan Taysa turun ke bawah untuk sarapan bersama.
setelah sarapan Radit meminta ijin kepada ayah untuk membawa Tasya ke rumah baru mereka.
" Ayah..Mama ada yang ingin Radit sampaikan."
" Ada apa nak bicaralah." Kata ayah Taysa
" Jadi begini ayah sebelumnya Radit minta maaf sama ayah dan mama bukan maksud Radit ingin memisahkan kalian dengan Tasya, kami berniat untuk menetap di rumah baru kami agar kami bisa lebih mandiri, mohon ayah dan mama jangan marah, ayah dan mama bisa berkunjung setiap hari ke rumah kami."
" Taysa gak salah milih suami yang bisa bertanggung jawab, ayah ijinkan kalian menetap di rumah baru kalian, jaga anak ayah yah dit kalau ada apa-apa jangan sungkan untuk menghubungi kami."
" Iya dit mama setuju apa yang di bicarakan oleh ayah, mama ijinkan kalian tinggal di tempat baru." Kata mama Taysa sambil menangis karena ia tak mau jauh dari putrinya itu tapi bagaimana sekarang putrinya sudah mempunyai kehidupan sendiri.
" Terimakasih atas dukungan nya, Radit janji bakal jagain Taysa semampu Radit."
" Jadi kalian mau kapan pindahan nya ?"
" Sekarang juga yah."
" Ya sudah ayah dan mama ikut antar kalian yah."
Dua mobil itu sudah keluar dari pekarangan rumah Taysa dan kini mereka memasuki kompleks perumahan elit yang tak jauh dari kediaman Taysa hanya berjarak beberapa kilometer saja.
Tibalah mereka di rumah baru Taysa dan Radit, semua orang kagum dengan desain rumahnya walaupun minimalis tapi terlihat elegan.
" Bagus banget mas rumahnya."
" Kamu suka ?"
" Iya aku suka, terimakasih mas." ucap Taysa sambil memeluk suaminya
" Iya sama-sama, kita masuk dulu yah."
Mereka masuk ke dalam rumah tersebut dan betapa luasnya saat di dalam rumah itu banyak lukisan-lukisan yang menghiasi dinding, pot bunga yang terbuat dari keramik menambah kesan mewah di dalamnya.
" Silahkan ayah mama duduk dulu "
Ayah dan mama langsung duduk
" Rumahnya bagus sekali dit "
" Iya ma ini khusus buat anak mama." kata Radit sambil melirik ke arah Taysa
" Makasih yah Radit, beruntung kamu Sya."
" Iya ma Alhamdulillah."
Hari semakin siang kini kedua orang tua itu telah kembali ke rumahnya sedangkan Taysa dan Radit sedang membereskan rumah mereka.
Saat Taysa mencuci gelas bekas orang tuanya tadi di wastafel Radit menghampiri dan memeluknya dari belakang.
" Sayang maaf yah rumahnya gak semewah rumah mama, aku sengaja gak pakai dua lantai karena aku gak mau nanti kamu cape naik turun tangga dan aku gak mau nanti anak kita kenapa- napa."
" Iya mas gak papa aku ngerti kok ini juga udd Alhamdulillah bagus banget, kalau boleh tau mas dari kapan buat rumah ini ?"
" Mas buat rumah ini saat mas pertama kali ketemu sama kamu sayang, entah kenapa saat pertama itu mas ingin membuat rumah untuk kamu "
Taysa terharu mendengar penjelasan dari suaminya.
" Terimakasih mas " ucapnya sambil memeluk Radit dan menangis.
" Udd jangan menangis nanti matanya sembab loh."
Mereka berdua kembali membersihkan rumah dan menuju kamar utama mereka.
" Sayang ini kamar kita."
Kamar yang bernuansa abu itu menambah keromantisan bagi si empu yang akan tidur.
" Wah ini bener kamar kita mas ?"
" Iya sayang ini kamar kita."
" Makasih yah mas."
" Udd dari tadi kamu makasih terus."
Taysa langsung memasukkan baju mereka ke dalam lemari dan di lihatnya sudah ada beberapa set baju.
Saat sedang membereskan baju bel rumah berbunyi Taysa segera berjalan menuju pintu dan membukanya.
" Maaf nyonya apakah benar ini rumah tuan Radit."
" Iya betul, ada apa ya ?"
" Perkenalkan nama saya Sari, saya asisten rumah tangga di sini."
" Ouh iya silahkan masuk bi duduk dulu."
Saat sedang berbincang dengan bi Sari Radit keluar dari kamarnya.
" Ada siapa sayang ?"
" Ini ada bi Sari."
saat mendengar nama Sari Radit segera menghampiri mereka.
" Bibi apa kabar ?"
" Alhamdulillah baik Tuan."
Bi Sari adalah asisten di rumah mamanya yang sudah mengurus Radit dari kecil, ia sengaja memilih bi Sari untuk menjadi asisten di rumah barunya.
" Bi ayo ikut aku, aku akan tunjukkin kamar bibi."
Taysa mengantar bi Sari ke kamarnya.
" Terimakasih nyonya."
" Jangan panggil nyonya panggil Taysa aja bi."
" Tapi bibi takut di marahin sama tuan Radit."
" Udd gak papa bibi panggil Taysa aja dan Radit jangan di panggil tuan lagi yah " kata Radit yang menghampiri mereka
" Gimana kalau bibi panggil mbak Tasya sama den Radit aja."
" Iya gak papa bi asal jangan nyonya aja, kalau gitu bibi istirahat dulu yah "
Kehidupan keduanya kini semakin romantis dan di kelilingi oleh orang yang menyanyangi mereka.