
Beberapa tahun kemudian kini kedua anak Tasya dan Radit sudah beranjak dewasa, anak pertama mereka sudah memasuki bangku SMA dan duduk di kelas 12, sedangkan si bungsu masih duduk di kelas 3 SMP, mereka berdua layaknya tom jerry yang selalu berebutan dan tak mau mengalah, sang kakak Ghibran walaupun suka berbuat jail kepada adiknya tetapi ia sangat menyayangi nya, seperti pagi ini Ghibran mengambil buku diary Gita yang isinya tentang percintaan antara dirinya dan Dio.
" Kakak balikin gak itu kan punya Gita." kata anak perempuan yang sangat mirip dengan Tasya.
" Gak gak bisa." kata Ghani sambil berlari mengelilingi ruang makan dan dapur.
" Aduh ada apa ini pagi pagi udd berisik." kata Radit.
" Itu tuh kakak nyolong buku aku pa." kata Gita.
" Ini liat pa Gita kecil kecil udd pacaran sama si Dion, dasar bucin." kata Ghibran.
" Ih kakak, jangan pa aku malu jangan di buka." cegah Gita.
Radit penasaran dan ia membuka buka itu lembar demi lembar dan benar saja isinya adalah curahan hati Gita kepada Dio anak nya Aurel dan Daniel.
" Ada apa pa ?" kata Tasya menghampiri mereka.
" Ini Bun." kata Radit.
Tasya kaget akan isi tulisan itu bagaimana bisa anaknya yang asik kelas 3 SMP tapi sudah memikirkan masalah percintaan, sedangan Gita ia nampak menunduk malu.
" Sayang kenapa kamu harus menunduk ?" kata Tasya.
" Aku malu bunda." jawab nya.
" Sini duduk."
Gita langsung duduk di kursi meja makan.
" Sayang dengerin bunda, menyukai atau mengagumi seseorang itu wajar karena kita manusia pasti mempunyai perasaan, tapi kamu kan masih kecil masih SMP jangan terlalu memikirkan masalah orang dewasa yah." ucap Tasya dengan sangat lembut.
" Iya Bun maafin Gita." ucapnya.
" Iya gak papa ayo sarapan dulu nanti telat loh kalian sekolah."
Mereka semua sarapan bersama, setelah itu Radit pamit untuk pergi ke kantornya sedangan kedua anaknya pergi untuk ke sekolah.
" Bun papa berangkat dulu yah." kata Radit.
" Iya hati hati." kata Tasya.
" Assalamualaikum."
" Waalaikumsalam." jawab mereka berdua.
Setelah kepergian Radit kini kedua anaknya pun pamit untuk sekolah.
" Bun kita pamit dulu yah."
" Iya hati hati di jalannya jangan ngebut anterin ade nya dulu."
" Iya Bun." jawab Ghani.
" Assalamualaikum." kata mereka berdua.
" Waalaikumsalam."
Ghani dan Gita segera masuk ke dalam mobil sport milih Ghani hadiah ulang tahun dari papanya.
Di sepanjang perjalanan Gita nampak diam saja.
" Kamu kenapa de masih marah sama kakak ?" tanya Ghibran kepada adiknya.
" Habisnya kakak ngeselin kenapa coba harus bilang sama bunda dan papa." jawabnya sambil memonyongkan bibirnya.
" Ya maaf, tapi kan kamu masih SMP belajar dulu yang benar nanti juga kalau jodoh kamu sama Dio gak bakalan kemana kok, udd jangan marah nanti gak cantik lagi." kata Ghani sambil mengusap kepala Gita yang tertutup dengan hijab.
Ya Gita berhijab dari kecil seperti bundanya ia, Tasya dan Radit sama sama mendidik anaknya dengan baik dan selalu mengajarkan mereka untuk tidak meninggalkan solat walaupun kita sedang sibuk sibuknya.
Tak butuh waktu lama Ghibran sudah sampai di sekolah adiknya itu.
" Kak aku turun dulu yah, maafin aku tadi." ucapnya.
Tasya juga mengajarkan cara meminta maaf kepada orang lain walaupun kita tidak salah.
" Iya iya gak papa, udd sana masuk nanti telat." ucap Ghani
Gita mencium tangan sang kakak lalu keluar dari mobil itu.
Mobil Ghani berjalan lagi untuk menuju sekolahnya.
Beberapa menit kemudian mobil sport biru itu sudah memasuki area sekolah.
Ghibran keluar dari mobilnya para siswi wanita sangat kagum dengan ketampanan yang di miliki oleh Ghibran tak banyak dari mereka yang mengaku pacarnya Ghibran.
Ghibran berjalan ke kelasnya tanpa sengaja dia menabrak seseorang.
" Iya gak papa." ucap siswi sambil melirik ke arah Ghibran.
" Masya Allah cantik sekali ciptaan mu." ucap Ghibran dalam hati.
Mereka berdua langsung berdiri.
" Kamu siswi baru ?" tanya Ghibran.
" Iya dari tadi aku lagi cari kelas tapi gak ketemu." jawab gadis cantik itu.
" Kalau boleh tau kamu kelas mana ?"
" Aku kelas 12 IPS 1." jawabnya.
" Ya udd kalau gitu ikut aku, aku juga kelas IPS 1."
Mereka berdua langsung berjalan menuju kelasnya, dan tak lama mereka sampai lalu duduk di bangku masing masing Sedangkan gadis itu menghadap ke depan Bu guru.
" Lo dari mana aja kok lama banget, dan kenapa Lo bareng sama tuh cewek ?" tanya Dio.
Ya Dio dan Ghani adalah satu angkatan dan mereka juga satu kelas.
" Gue tadi gak sengaja nabrak dia, terus gue nanya ternyata dia murid baru dan masuk ke kelas ini." Jawab Ghani.
" Baiklah anak anak mohon tenang dulu ibu akan memperkenalkan siswi baru pindahan dari Surabaya, silahkan memperkenalkan diri." kata Bu guru itu kepada gadis yang tadi Ghibran tabrak.
" Selamat pagi semuanya perkenalkan nama saya Syakilla Azizah, kalian bisa panggil aku Kila."
" Baiklah Killa kamu bisa duduk samping Tini."
Killa langsung berjalan ke dekat Tini sedangan Ghibran menatap nya sedari tadi.
" Lo kenapa dari tadi Lo liatin tuh cewek mulu, jangan jangan Lo suka yah." kata Dio.
" Apaan sih Lo."
Pelajaran pun di mulai.
Tak terasa kini pelajaran sudah selesai dan mereka langsung pulang ke rumah masing masing, saat Ghani keluar dari gerbang sekolahnya ia melihat Killa yang sedang menunggu jemputan di halte depan.
Ghibran langsung mengarahkan mobil itu ke dekat Killa dan membukakan jendela nya.
" Kamu pulang sama siapa ?" tanya Ghibran.
" Aku lagi nunggu taksi."
" Ya udd aku antar kamu pulang yah itung itung permintaan maaf aku tadi." kata Ghibran.
" Tapi aku udd pesan taksi." Jawab Killa.
" Udd tinggal batalin aja."
Akhirnya Killa masuk ke dalam mobil Ghibran.
" Kenalin nama aku Ghibran, aku minta maaf yah soal tadi pagi."
" Iya gak papa kok."
" Kamu kenapa pindah ke sini ?"
" Iya aku harus ikut dengan papaku, papaku kerja di sini mengantikan kakekku yang sudah tua."
" Ouh gitu."
Obrolan mereka berlangsung mereka layaknya teman yang sudah lama karena keduanya sama sama humoris, gelak tawa pun terdengar di dalam mobil itu.
" Eh iya hampir lupa di mana rumah kamu ?" tanya Ghibran.
" Itu di perumahan XX."
Mereka tiba di perumahan XX.
" Dimana rumahnya ?" tanya Ghibran.
" Dari sini belok kiri nanti ada rumah yang warna abu tua." kata Killa.
Mereka sudah sampai di depan rumah itu.
" Makasih yah, gak mampir dulu ?". kata Killa.
" Enggak deh nanti aja kapan kapan, aku pulang dulu yah." kata Ghibran.
" Iya hati hati."
Ghibran langsung membalikkan arah dan ia segera untuk sampai ke rumahnya.