
Pagi harinya keluarga Radit mengumpul untuk sarapan bersama termasuk juga dengan Dio.
" Ghibran Gita ayo sarapan dulu ajak Dio nya." teriak Tasya dari bawah.
Anak anak itu langsung berhamburan keluar dari kamarnya, saat melewati kamar sang kakak Gita fokus memeriksa tas nya dan ia tak sengaja menabrak punggung Dio.
" Maaf kak." ucap Gita gugup
" Iya gak papa kok." Ucap Dio
Ghibran keluar dari kamarnya ia melihat adiknya dan Dio sedang membereskan buku buku Gita yang berserakan.
" Ada apa ini ?" tanya Ghibran.
" Ini tadi aku gak sengaja nabrak punggung kak Dio."
" Udd gak papa lah bro dia gak sengaja lagian gue gak papa." kata Dio
Gita semakin suka dengan Dio yang menurutnya perhatian.
" Ya udd kita ke bawah bunda dan papa sudah menunggu." kata Ghibran.
Mereka bertiga langsung menuruni anak tangga dan berjalan ke arah meja makan.
" Ayo sarapan dulu nanti telat, kamu juga Dio."
" Iya Tante terimakasih."
Dio gabung bersama dengan keluarga Ghibran ia merasa sangat senang di terima baik oleh keluarga Ghibran.
Setelah sarapan Radit pamit untuk pergi ke kantor nya karena ada pertemuan.
" Bun papa berangkat dulu yah, kalian makannya di habiskan biar semangat sekolahnya, Dio ayo nambah lagi jangan malu malu."
" Iya Om."
" Ya udd papa berangkat dulu, assalamualaikum."
" Waalaikumsalam." jawab mereka kompak.
Setelah kepergian Radit kini ketiga anak itu juga langsung pamit untuk ke sekolah.
" Bunda kami juga pamit yah." kata Ghibran
" Iya hati hati."
" Tante aku sekolah dulu terimakasih semuanya."
" Iya sama sama kapan kapan nginep lagi biar tambah rame." kata Tasya.
" Iya Tante."
" Ya udd Bun assalamualaikum."
" Waalaikumsalam."
Mereka bertiga berjalan ke arah garasi untuk segera naik ke dalam mobil milik Ghibran, Dio pun ikut naik karena ia tidak membawa mobilnya.
Mobil sport warna biru itu sudah keluar dari halaman rumah keluarga Ghibran, jalanan pagi ini lumayan agak macet.
Diam diam Gita memperhatikan Dio dari belakang kemudi.
" Kamu liat apa dek ?" tanya sang kakak.
Gita gelagapan saat kakaknya mengetahui bahwa dirinya sedang memperhatikan Dio, sedangkan Ghibran ia puas melihat wajah adiknya yang panik.
" Loh kok gak di jawab si dek kakak nanya."
" Em anu tadi aku liat jalan Kak." ucapnya gugup.
Ghibran semakin puas memojokkan adiknya itu.
" Kak nanti aku turun di gerbang aja gak usah ke dalam yah."
" Kenapa ? kan biasanya suka sampai dalam."
" Enggak usah deh sekarang mah kak."
" Iya iya."
Dio hanya mendengar kan obrolan antara kakak beradik itu, Dio juga sebenarnya mempunyai rasa kepada Gita tapi ia ingin mengenal Gita lebih jauh lagi.
Tak berapa lama mereka tiba di sekolah Gita, Gita langsung pamit kepada kakaknya dan keluar dari mobil sang kakak.
" Aku keluar dulu yah kak assalamualaikum."
" Waalaikumsalam." jawab Ghibran dan Dio.
Gita berjalan ke dalam sekolahkan dan Ghibran melajukan kembali mobilnya.
" Ade Lo lucu yah." kata Dio.
" Ya gitulah kelakuan nya masih kekanak-kanakan."
" Ya wajarlah baru juga SMP."
Ghibran dan Dio sudah sampai di kelasnya.
" Pagi Ghibran." Killa menyapa Ghibran hingga membuat Ghibran sangat senang.
" Pagi juga Kil." jawab Ghibran langsung duduk di bangkunya.
" Gila pagi pagi Lo udd di sambut tuh ama bidadari." goda Dio.
" Iya dong rezeki di pagi hari." jawab Ghibran asal.
Bel pelajaran pertama di mulai semua murid fokus mendengarkan apa yang di sampaikan oleh gurunya di depan.
Ghibran dan Dio adalah dua siswa yang memiliki IQ tertinggi di kelasnya jadi tak heran jika para guru menghapal mereka berdua.
Ghibran dan Dio juga sudah mempunyai perusahaan sendiri tetapi masih di tangani oleh papa mereka.
Jam pelajaran pertama telah selesai kini saatnya ganti pelajaran dengan olahraga, semua murid yang ada di kelas Ghibran berhamburan ke lapangan.
" Selamat siang anak anak." kata pak Hans selaku guru olahraga.
" Siang pak." jawab mereka.
" Baiklah untuk materi kali ini kalian akan bermain basket dan bapak akan menentukan timnya."
2 jam berlangsung kini mereka semua beristirahat Ghibran duduk di bawah pohon dekat lapangan.
" Nih minum." kata Killa sambil menyodorkan air mineral untuk Ghibran dan Dio.
" Makasih yah." kata mereka berdua.
" Eh gue ke toilet dulu yah." Dio sengaja meninggalkan temannya karena memberikan waktu luang kepada Ghibran untuk lebih dekat dengan Killa.
Killa langsung duduk di samping Ghibran.
" Kamu hebat main basketnya." kata Killa
" Makasih yah." kata Ghibran.
Mereka berdua ngobrol bersama di bawah pohon itu.
" Eh liat deh itukan si murid baru, kok bisa deketan sama Ghibran." kata Sherli teman Dea.
" Kurang ajar berani berani dia dekati Ghibran gue, gue akan kasih pelajaran buat dia." kata Salsha yang langsung menghampiri Ghibran dan Killa.
" Heh Lo jangan dekat dekat dengan Ghibran." kata Dea sambil mendorong Killa.
" Lo apa apaan sih Sha terserah gue dong mau dekat dengan siap siap juga." kata Ghibran.
Ghibran langsung menolong Killa.
" Kamu gak papa ?" tanya Ghibran kepada Killa.
" Enggak kok aku gak papa." kata Killa.
" Alah gak usah lebay deh Lo, gue ingatin lagi ke Lo jangan pernah dekat dekat lagi sama Ghibran dia itu milik gue."
Tiba tiba Dio datang dari arah toilet.
" Ada apa ini ?" tanyanya bingung.
" Bilangin ke murid baru ini jangan pernah dekat dekat Ghibran." kata Salsha.
" Loh kenapa gak boleh, emang Ghibran siapa Lo pacar juga bukan, udd mending kita tinggal aja ni orang."
Mereka bertiga berjalan pergi dari hadapan Salsha yang masih emosi.
" Liat aja Lo gak bakal bisa dapetin Ghibran." ucap Salsha.
Mereka bertiga langsung pulang menuju rumah masing masing Dio pulang dengan memesan taksi ia tak mau menganggu temannya.
" Maaf yah Salsha memang gitu orangnya." kata Ghibran.
" Iya gak papa kok, kalau boleh tau apa hubungannya kamu sana dia ?"
" Dia itu hanya terobsesi sama aku aja." jawab Ghibran.
" Ouh gitu pantesan."
Tak lama mereka sampai di rumah Killa.
" Makasih yah, mau mampir dulu."
" Enggak deh nanti aja, boleh minta no hp kamu ?"
" Ouh boleh boleh."
Killa menulis no nya di hp Ghibran.
" Makasih yah, aku langsung pamit."
" Iya hati hati."
Ghibran membalik arahkan mobilnya dan pergi meninggalkan rumah Killa.