My wife is a CEO

My wife is a CEO
Bab 38



Selang dua Minggu setelah kepulangan Radit dari kota A kini Tasya jadi lebih waspada karena beberapa Minggu lagi ia akan bertemu dengan buah hatinya.


Pagi ini Tasya sedang membuatkan sarapan untuk Radit.


" Mas ini sarapannya."


" Terimakasih sayang."


" Sama-sama mas."


Mereka sarapan bersama hanya ada suara dentingan sendok dan piring yang silih beradu.


Setelah sarapan Radit berangkat ke kantor nya.


" Sayang papa pergi dulu yah tinggal beberapa Minggu lagi kita bertemu." Ucapnya sambil mengelus perut Tasya.


" Hati-hati mas."


" Assalamualaikum."


" Waalaikumsalam."


Setelah Radit berangkat Tasya dan Bi Sari sedang menyiapkan barang-barang untuk nanti lahiran sang buah hati tercintanya.



Selesai membereskan barang-barang bayi kini Tasya dan Bi Sari sedang duduk santai di taman belakang rumah.


Bi Sari masuk dulu ke dalam untuk membawa cemilan.


" Neng ini makan dulu supaya nanti lahirannya ada tenaga."


" Iya terimakasih Bi."


Saat mereka sedang asik mengobrol tiba-tiba bel rumah berbunyi.


Ting tong


Bi Sari segera berjalan ke arah pintu utama saat pintu di buka terlihatlah Jasmin dengan mata sembab.


" Bi Tasya nya ada ?"


" Ada Neng Tasya lagi di taman belakang, Ayo mari masuk."


Jasmin dan Bi Sari masuk ke dalam untuk menemui Tasya.


Jasmin duduk dan langsung nangis di dekat Tasya.


" Ada apa kamu menangis pagi-pagi gini ?"


" Sya maaf kan aku."


" Memangnya ada apa ?"


" Aku hamil, aku hamil anaknya Radit."


Deg


Jantung Tasya seakan berhenti saat mendengar kata yang di ucapkan oleh Jasmin.


" Gak, gak mungkin kamu hamil anak mas Radit."


" Ini bener anak Radit, kalau kamu gak percaya ini buktinya." Jasmin menyodorkan surat hasil USG dan Poto saat mereka tidur di kamar apartemen waktu itu.


" Gak, gak mungkin ini pasti akal-akalan kamu kan untuk merebut mas Radit dari aku hah ?"


" Ini beneran anak Radit, hasil dari USG nya sangat cocok mana mungkin aku berbohong."


Tasya sudah tidak tahan lagi air matanya lolos begitu saja di pipi mulus miliknya.


" Rasain kamu Tasya, kamu sudah merebut Radit dari aku, dan aku gak akan biarkan kalian hidup bahagia." Ucap Jasmin dengan senyum liciknya


" Aku minta Radit tanggung jawab atas semua ini Sya, aku mohon bagaimana pun Radit ayahnya."


" Aku gak percaya semua itu aku mau kamu tes USG lagi, aku akan antar."


" Gawat bisa mati aku" ucap Jasmin dalam hatinya


" Kenapa kamu diam saja Jasmin, kamu bohong kan ?"


" Aku gak bohong Sya ini benar anak Radit."


Flashback On


Dion yang melihat itu khawatir dan langsung mendekati Jasmin.


Meskipun mereka belum menikah tetapi sudah tinggal satu apartemen di apartemen milik Dion.


" Kamu kenapa ?" kata Dion yang khawatir


" Gak tau aku gak enak badan."


" Ya udd kita ke dokter yah."


Mau tidak mau Jasmin ikut dengan Dion untuk periksa ke dokter karena ia tidak mau kalau rencana untuk ke kota A gagal.


Tibalah mereka di rumah sakit dan memeriksa keadaan Jasmin.


" Selamat yah pak, bu sebentar lagi kalian akan mempunyai bayi, tolong di jaga karena kandungannya masih 2 Minggu." kata dokter yang menangani Jasmin


" Apa aku hamil dok ?"


" Iya Bu, mohon di jaga yah kandungan nya dan ini saya kasih vitamin."


" Terimakasih dok."


Jasmin dan Dion kembali lagi ke apartemen mereka.


" Kamu dengar kan apa tadi kata dokter harus di jaga kandungan nya itu anak kita, nanti setelah pulang dari kota A aku janji akan nikahi kamu."


" Iya iya aku tau, terimakasih yah Dion." ucapnya sambil memeluk Dion


" Iya sama-sama."


" Aku harap kamu gak akan melakukan hal tak di inginkan, aku harap jangan jadikan anak kita sebagai perusak rumah tangga Radit." ucap Dion dalam hatinya.


Dion sudah tau kalau Jasmin masih menginginkan Radit, Dion sudah berusaha menegur Jasmin tapi tidak bisa


Flashback off


" Aku mohon sama kamu tolong ikhlaskan Radit buat aku dan bayi aku Sya, kalau gitu aku pulang dulu kamu tolong pikirkan permintaan aku." Jasmin keluar dari rumah Radit dengan senyum kemenangan


sedangkan Tasya semakin terisak saat mendengar apa yang di ucapkan oleh Jasmin bagaimana pun dia tidak mau pisah dengan Radit dan tidak mau di mau.


Bi sari yang melihat itu langsung memeluk Tasya.


" Yang sabar Neng, bibi yakin den Radit gak melakukan itu."


" Kalau itu bener bagaimana bi ?"


" Percayalah sama bibi den Radit gak seperti itu."


Tasya semakin terisak dan tidur dalam pelukan bi Sari.


Sore harinya Radit datang ke rumah dilihatnya istrinya masih tertidur.


Tasya bangun karena merasa ada yang mengusik tidurnya.


" Udd pulang mas ?"


" Iya baru pulang aku tadi bawakan martabak telur kesukaan kamu nanti kamu makan yah sekarang aku mau mandi dulu."


Tasya langsung bangun dan pergi ke dapur, di dapur Tasya melamun sambil menatap martabak yang dibelikan Radit, ia masih terbayang-bayang apa yang di katakan oleh Jasmin tadi siang, ia ingin menanyakan kepada tapi di urungkan niatnya.


" Sayang kok kamu melamun aja di makan dong martabak nya."


" Ah iya mas maaf."


Martabak yang di makan Tasya rasanya hambar mungkin karena moodnya yang tidak baik.


Hari semakin malem tapi Tasya belum juga bisa tidur, ia terus saja memikirkan perkataan Jasmin.


" Sayang kok kamu belum tidur ini sudah malem."


" Iya mas aku gak bisa tidur "


" Kenapa ?"


" Gak papa mas, ya udd ayo kita tidur saja."


" Iya ayo jangan banyak pikiran yah, selamat malam happy nice dream my wife."


" Happy nice dream to my husband."


Radit memeluk Tasya dari belakang sambil mengelus perut buncit Taysa dan akhirnya mereka tertidur lelap.