My wife is a CEO

My wife is a CEO
Ektra Prat 2



Setiba di rumah Ghibran memarkirkan mobilnya di garasi dan ia segera masuk ke dalam rumah.


" Bi bunda kemana ?" tanya kepada sang bibi.


" Tadi ibu keluar katanya mau mencari bahan kue dengan neng Gita."


" Ouh gitu bi kalau gitu aku ke kamar dulu yah."


" Iya den."


Ghibran menaiki anak tangga untuk segera masuk ke dalamnya.


Ya setelah mempunyai dua anak Radit membeli rumah lagi dengan ukuran yang ajak besar dan ada lantai 2 berbeda dengan rumah yang sebelumnya yang hanya terdiri dari satu lantai.


Setelah sampai di kamar Ghibran menaruh tasnya dan ia langsung mandi, selesai mandi Ghibran menunaikan ibadah solat dhuzur yang ketinggalan tadi, selesai solat Ghibran turun lagi ke bawah untuk membuat susu vanila dingin kesukaan.


" Mau buat susu den ?" tanya sang bibi.


" Iya Bi."


" Ya udd kalau gitu bibi buatkan yah."


" Gak usah bi biar aku aja bibi mending istirahat aja."


" Baiklah den kalau begitu."


Ghibran sangat baik seperti papanya Radit, semua yang ada di rasa hampir ada juga pada diri Ghibran.


Selesai membuat susu Ghibran pergi ke halaman belakang untuk bermain basket, Ghibran sangat suka sekali bermain basket dan dia juga ketua basket di sekolahnya.


Hari mulai sore Tasya dan Gita baru saja tiba dari supermarket, mereka membeli beberapa bahan kue dan kebutuhan dapur lainnya.


Ghibran kembali ke dapur untuk menyimpan gelas yang tadi ia pakai.


" Baru pulang Bun ?" tanyanya.


" Iya ini bunda dan adik mu baru pulang, sini bantuin beresin."


Ghibran langsung membantu sang bunda untuk mengangkat beberapa kresek belanjaan.


" Banyak banget Bun ?"


" Iya tadi bunda sekalian beli buat kebutuhan dapur dan beli bahan kue, katanya adik kamu ini ingin belajar membuat kue."


" Yang bener emang kamu bisa dek ?" tanya Ghibran kepada adiknya.


" Bisalah kak, kan nenek juga pembuat kue masa Gita gak bisa." jawabnya.


" Ya udd kalau gitu kamu buat nanti kakak coba."


" Oke siap bos." jawab Gita.


Gita dan Tasya langsung saja berkutat dengan bahan bahan kue, sedangkan Ghibran duduk di ruang tv sambil menonton acara kesukaan nya.


Saat sedang fokus menonton tiba tiba Radit datang.


" Assalamualaikum."


" Waalaikumsalam baru pulang pa."


" Iya, dimana bunda dan adek kamu kok sepi ?".


" Lagi di dapur yah lagi buat kue katanya."


Radit berjalan ke arah dapur dan benar saja istri dan anaknya itu sedang sibuk membuat adonan, Radit mengurungkan niatnya untuk menghampiri mereka dan Radit memilih untuk masuk ke kamarnya.


Ghibran juga merasa bosan dia memutuskan untuk pergi di kamarnya, saat tiba di kamar Ghibran memainkan ponselnya itu, tiba tiba ponselnya berbunyi.


📱 : Hallo ada apa tumben Lo nelpon gue ?" kata Ghibran kepada sahabatnya itu.


📱: Tar malam gue ke rumah Lo yah gak ada teman nih nyokap bokap lagi ke luar kota." kata Dio di sebrang sana.


📱: Oke oke Lo tinggal datang aja bunda dan papa gue pasti izinin."


📱: Ya udd nanti habis isya gue ke rumah Lo, gue tutup dulu yah."


Panggilan itu pun berkahir, Ghibran membereskan kamarnya karena ia tidak mau kalau Dio melihat kamar Ghibran yang agak sedikit kurang rapi.


Hari semakin malam kini keluarga Radit melakukan makan malam sehabis solat isya, saat Ghibran ingin menyuapi makanannya tiba tiba pintu bel berbunyi dengan segera Ghibran berdiri lalu berjalan ke arah depan.


Kret


Pintu terbuka.


" Om dan Tante ada ?" tanya Dio.


Ghibran dan Dio langsung menuju meja makan.


" Malam Om Tante." ucap Dio.


Gita yang melihat kedatangan Dio ia merasa senang sekaligus takut, Gita hanya menunduk tidak mau kalau Dio melihat wajahnya.


" Eh Dio sini gabung kita makan malam dulu."


" Iya Tante."


Dio langsung duduk di samping Ghibran sedangkan Gita masih dengan mode yang sama hanya menundukkan kepalanya.


Selesai makan mereka berkumpul di ruang tv.


" Maaf Om Tante kedatangan Dio ke sini malem malem karena di rumah gak ada teman mama dan papa lagi keluar kota dan bibi lagi pulang kampung anaknya sakit."


" Iya gak papa kok anggap saja rumah sendiri." jawab Tasya.


" Kayaknya perusahaan papa kamu semakin maju yah." kata Radit.


" Alhamdulillah Om ini juga berkat bantuan Om."


" Ya kita ke kamar aja ngobrol ngobrol di sana sambil main ps." kata Ghibran.


Kedua remaja cowok itu langsung berjalan ke kamar Ghibran dan langsung memasang stik ps.


Di dalam kamar itu terdengar suara gelak tawa keduanya, Gita yang penasaran ia melihat ke kamar sang kakak.


" Ada apa dek ?" tanya Ghibran.


Gita yang ketahuan oleh kakaknya langsung pergi menuju kamarnya.


" Ade Lo kenapa dari tadi kayanya takut ama gue." kata Dio.


" Bukan takut Ade gue itu naksir sama Lo." kata Ghibran.


Mereka berdua menyudahi main ps nya dan berbincang bincang di atas kasur empuk sambil mata melihat ke langit langit kamar.


" Apa Lo bilang Ade Lo suka sama gue, kan gue baru kali ini ketemu dia." kata Dio


" Iya Lo emang baru pertama kali liat Ade gue, tapi Ade gue suka liat Lo di hp gue."


" Loh kok bisa."


" Waktu itu gue baru selesai mandi gue liat ade gue lagi buka hp gue dan ternyata dia liat foto gue dan Lo terus dia nanya siapa yang di foto dengan gue ya gue jawab itu teman gue, dari situlah Ade gue suka buat puisi tentang Lo." kata Ghibran panjang lebar.


" Tapi di liat liat dia cantik juga dan gitu di hijab lagi." kata Dio sambil membayangkan wajah Gita tadi.


" Awas yah Lo gak boleh macem macem sama Ade gue."


" Iya iya nyantai aja kali, eh terus Lo bagaimana dengan cewe yang tadi Lo tabrak ?" tanya Dio penasaran.


" Gak tau gue juga baru bertemu tapi gue merasa nyaman ada di sampingnya." jawab Ghibran.


" Mungkin Lo udd cinta pada pandangan pertama, kenapa sih Lo gak terima cewek cewek yang suka ngejar Lo di sekolah."


" Gue gak suka mereka tuh bukan suka sama gue tapi mereka terobsesi dengan ketampanan gue." Jawab Ghibran dengan PD nya.


" PD banget sih Lo." kata Dio.


" Udd ah gue mau tidur takut telat besok sekolah." kata Ghibran.


Akhirnya kedua remaja itu langsung tertidur dengan lelapnya, sedangkan di kamar Gita ia sedang menggerutu sendiri.


" Kenapa sih kakak tadi liat ku, kan jadi malu."


" Apa yang kak Dio bilangan nanti, aduh bisa mati dong."


Gita terus mondar mandir di depan ranjangnya, tiba tiba Tasya datang ke kamar anaknya.


" Lo de kamu kenapa kok mondar mandir gitu ?".


" Eh bunda enggak kok Bun tadi habis ngapalin teks berita." katanya mengelas


" Ya udd kamu cepetan tidur ini udd malam entar besok telat loh sekolahnya."


" Iya Bun."


Tasya keluar lagi dari kamar anak gadisnya itu.


" Syukurlah." kata Gita


Gita langsung membuka hijabnya dan ia segera merebahkan tubuhnya di atas kasur empuk king size miliknya, sebelum tidur Gita tak lupa untuk selalu berdoa terlebih dahulu, setelah berdoa Gita langsung memejamkan matanya.