
Waktu menunjukkan pukul 20:35 malam Bagas baru menyelesaikan pekerjaannya, ia melirik ke arah sofa.
Terlihat Venus tengah tertidur pulas, kepalanya bersandar pada bantalan sofa buli mata lentiknya itu menghiasi mata indahnya.
Bagas pun perlahan melangkah agar tidak membangunkan Venus, ia duduk di sampingnya sambil memperhatikan wajah Venus dari dekat.
‘Kalau lagi diam begini dia terlihat cantik, tapi kenapa di saat bicara dia mirip nenekku cerewet,' batin Bagas.
Bagas pun semakin mendekat, ia penasaran dengan kalung yang melingkar di leher Venus tersebut, terlihat sebuah tulisan kecil saking kecilnya Bagas harus mendekatkan kepalanya ke arah leher Venus.
“Gas belum-” ucapan Desta terhenti ketika melihat Bagas dengan posisi berjongkok dan wajahnya mengarah ke leher Venus.
Bagas pun terkejut dan langsung berdiri. Desta yang melihat hal itu pun langsung mendekati Bagas.
“Gas kalau mau jangan di sini,” bisik Desta.
“Kamu bisa gak sih kalau masuk itu ketuk pintu dulu,” sahut Bagas.
“Ini cewek kamu kadih obat tidur apa gimana?” tanya Desta.
“Tanpa aku beri obat tidur pun dia sudah tertidur duluan,” sahut Bagas sambil membawa ponsel serta kunci mobilnya.
Bagas mencoba membangunkan Venus karena ia ingin pulang ke apartemennya.
“Hey ... Bangun!” ucap Bagas sambil menggoyang-goyangkan bahu Venus.
Dengan mata yang masih terpejam Venus menepis tangan Bagas.
“Entar dulu Leon lina menit lagi oke!” ucap Venus meracau.
Bagas pun seketika terdiam mendengar Venus mengucapkan nama orang lain.
“Wah ... rupanya ada yang sudah curu start duluan,” ledek Desta.
Bagas pun mendengus, ia membangunkan Venus secara paksa dengan menyipratkan air kopi yang ada di meja ke wajah Venus.
Seketika Venus bangkit dari tidurnya.
“Kok basah sih?” ucap Venus dengan nyawa belum sepenuhnya terkumpul.
“Bangun dan pulang!” ucap Bagas yang berlalu meninggalkan Venus.
Venus pun menyenyitkan alisnya ketika mencium aroma kopi pada bajunya.
“Sialan. Yang benara aja bangunin aku pakai air kopi,” omel Venus.
Dari belakang terdengar suara tawa, rupanya Desta masih berada di sana.
“Kamu siapa?” tanya Venus.
“Kamu lupa sama aku? Aku Desta kita kan pernah ketemu di apartemen Bagas tempo hari,” sahutnya.
“Oh ya aku baru ingat.”
“Kamu pulang kemana biar aku antar,” ucap Desta.
“Gak perlu, aku bisa naik taksi,” sahut Venus.
“Ini sudah malam, gak baik cewek sendirian malam-malam ayo aku antar,” ucap Desta sambil menarik tangan Venus.
‘Dia gak boleh sampai tahu kalau aku tinggal di samping apartemenya Bagas,' batin Venus.
Ia pun dengan cepat membuka ponsel dan mengirim pesan kepada Leon.
“Leon, aku ke rumahmu ya sebentar,” tulis Venus di pesan.
“Serius?” balas Leon.
“Iya. Kamu sekarang tinggal dimana?”
Leon pun mengirimkan alamat tersebut kepada Venus.
Saat mereka masuk ke dalam mobil Desta kembali bertanya.
“Alamat kamu dimana?” tanya Desta.
Venus pun memberitahukan sebuah nama jalan, mendengar nama jalan itu Desta sedikit terkejut.
“Jalam Rodix jalur 11,” ucap Venus.
“Kamu tinggal di sana?” tanya Desta sambil menatap heran.
“Iya. Kenapa memangnya?” tanya Venus.
“Gak. Aku gak nyangka aja,” sahutnya.
Mobil pun berjalan, melaju menuju jalan tersebut saat dalam perjalanan Desta penasaran dan bertanya kepada Venus.
“Entah. Aku juga gak tahu kenapa aku di beri nama seperti itu,” sahut Venus.
“Lalu di sana kamu tinggal sama siapa? Orang tua? Suami?”
Venus menggelengkan kepalanya, “Aku tinggal sendiri,” sahutnya.
Tiba-tiba sebuah pesan masuk dan itu ternyata dari Leon.
“Aku tunggu kamu di depan jalan, bahaya kalau kamu masuk sendirian,” tulis Leon di pesan.
Venus pun menyimpan kembali ponselnya ke dalam sakunya dan kembali memperhatikan jalan.
“Kalau kamu dengar kata-kata buruk dari Bagas jangan di masukkan ke dalam hati, sebenarnya dia orang yang baik dan perhatian tapi terkadang ucapannya menjengkelkan,” ucap Desta secara tiba-tiba.
“Aku gak peduli dia mau bicara apa, selagi tidak menghina atau mencoba melukaiku itu gak masalah,” sahut Venus.
“Tapi aku salut sama kamu.”
“Salut kenapa?” tanya Venus.
“Kamu cewek pertama yang bisa dekat sama dia, banyak cewek yang deketin Bagas tapi seketika mundur karena sikap arogannya,” tutur Desta.
‘Sepertiny aku harus lebih dekat dengannya biar aku bisa cari informasi lebih tentang si Hulk itu,' batin Venus.
“Oh ya. Pantas aja waktu pertama masuk kantor semua karyawan pada liatin aku,” sahut Venus.
“Oh ya. Turunin aku di depan jalan aja soalnya sudah ada yang nungguin aku di sana,” pinta Venus.
Mobil terus melaju menuju jalan tersebut hingga mereka pun sampai di depan jalan.
Sebenarnya Venus baru pertama kali mendatangi kediaman Leon karena Leon sering berpindah-pindah tempat tergantung pekerjaan yang ia lakukan.
Venus pun turun dari mobil di susul oleh Desta yang juga keluar.
“Makasih ya,” ucap Venus.
“Sama-sama,” sahut Desta.
“Oh iya ini teman aku namanya Leon,” ucap Venus memperkenalkan Leon.
‘Oh ... Ini yang dia sebut saat tidur tadi. Tampangnya lumayan tapi gak setampan Bagas, dan kayaknya dari kalangan biasa,' batin Desta.
“Halo saya Desta,” ucap Desta sambil mengulurkan tangannya.
“Leon, temannya Venus,” sahutnya sambil membalas jabat tangan dari Desta.
“Venus di sana gelap jadi kita harus cepet masuk,” ucap Desta.
“Ya sudah. Aku balik dulu ya, makasih tumpangannya,” ucap Venus berlalu pergi.
Venus pun meninggalkan Desta, dan Desta masuk ke dalam mobil lalu melaju menuju rumahnya.
Sementara, Venus dan Leon berjalan memasuki jalan tersebut. Jalan itu terlihat sedikit berantakan dengan banyak coretan di dinding-dinding bangunannya.
Sesekali terlihat beberapa orang tengah duduk berkumpul sembari mabuk-mabukan bahkan ada yang tengah bermain-main dengan perempuan di pinggir jalan.
Jalan itu hanya ada beberapa lampu penerangan, terdengar suara tawa mereka dengan jelas bahkan ada yang bernyanyi tak karuan.
Tiba-tiba ada seorang pria bertubuh tinggi namun tambun menghampiri Leon.
“Wah ... Bawa barang bagus nih nemu dimana?” ucapnya.
Saat bicara aroma alkohol begitu menusuk hidung Venus.
“Biasa ketemu di taman seberang,” sahut Leon.
“Kalau sudah di pakai nanti gantian ya,” pintanya.
‘Sialan ni orang, pengen aku plintir aja rasanya kepalanya,' omel Venus dalam hati.
“Gak bisa dong Om, kita full time soanya,” ucap Venus yang terpaksa harus berpura-pura.
“Yah elah!” ucapnya yang segera menjauh.
Mereka pun mempercepat langkah dan langsung masuk ke dalam rumah Leon.
Rumah besar dengan di penuhi oleh lampu-lampu yang terang.
“Ini rumah kamu apa klien kamu sih?” tanya Venus.
“Ini dari klien, gak kalah kan sama apartemen kamu,” sahutnya tertawa.
“Baru pertama kali aku masuk ke sarang gangster ternyata lebih bahaya dari yang aku bayangin,” ucap Venus.