My Sugar My Precious

My Sugar My Precious
Terbunuhnya Andre



“Bagaimana bisa aku begitu bodoh,” ucap Lingga. 


“Kamu seharusnya jangan terlalu percaya dengan orang lain apa lagi orang itu adalah kaki tangan lawan kalian,” ucap Venus.


Lingga mendengus kesal, ia mengambil ponselnya dan menghubungi orang yang bernama Andre tersebut. 


Hanya berselang beberapa detik telepon Lingga terhubung dan langsung diangkat oleh Andre.


“Kamu mencoba menjebakku Ande,” ucap Lingga dengan wajah yang merah padam. 


“Hahaha, sayang sekali kalian menang hari ini,” terdengar suara yang tidak asing.  


“Kamu bukan Andre, dimana dia?” bentak Lingga. 


“Bawahan tidak becus itu sudah aku singkirkan dan sebentar lagi kirimannya akan datang ke rumahmu,”  ucapnya dalam telepon. 


Lingga yang mendengar hal itu langasung menutup teleponnya dan berlari menuju mobil. 


“Ada apa?” tanya Bagas heran. 


“Kita ke rumahku sekarang!” pinta Lingga. 


Mereka bertiga masuk ke dalam mobil, sekarang Lingga yang mengemudikan mobil. Mobil itu melaju dengan kecepatan tinggi menuju rumah Lingga. Hingga mereka sampai di depa rumah, saat mobil berhenti, terlihat sebuah koper besar berwarna hitam berada di teras rumah tiga lantai tersebut. 


‘Koper?’ batin Lingga. 


Venus serta Bagas pun keluar dari mobil dan menghampiri koper tersebut, di bagian bawah koper itu terdapat darah yang menetes hingga ke lantai. 


Dengan cepat Lingga membuka ;koper tersebut, saat dibuka ia begitu terkejut. Di dalamnya berisi seorang pria dengan wajah serta perut yang berlumuran darah, tubuhnya di lipat bahkan salah satu tulang kakinya keluar. 


“Andre!” pekik Lingga. 


Rupanya pria yang bernama Andre itu telah dibunuh secara keji. Venus tak kuasa melihatnya, ini kali pertama Venus melihat orang yang terbunuh secara mengenaskan. 


Lingga begitu terpukul dengan hal tersebut, ia berlutut sembari menangis. Bagas bergegas membuka ponselnya dan berniat untuk memanggil polisi namun hal tersebut di tahan oleh Lingga. 


“Kita tidak bisa memanggil polisi, kalau polisi sampai datang kita juga bakalan kena imbasnya,’ ucap Lingga. 


“Ya sudah, aku akan panggil Desta dan bawahanku untuk mempersiapkan pemakaman Andre,” sahu Bagas. 


Venus yang sedari tadi penasaran pun akhirnya mendekati Bagas. 


“Sebenarnya yang di dalam koper itu siapa?” tanya Venus. 


“Dia Andre, setahuku mereka hanya saling kenal tapi entah kenapa Lingga sangat terpukul,” sahut Bagas. 


“Dia adikku. Dulu kami terpisah akibat kedua orag tua kami bercerai aku di bawa kabur oleh ayahku ke luar negeri. Sedangkan Andre malah di kirim ke panti asuhan oleh ibuku,” tutur Lingga. 


“Aku baru menemukannya satu tahun lalu, saat aku mendatangi panti asuhan itu dan mencari informasi tentangnya. Hingga aku tidak sengaja bertemu dengannya bersama Bastian,” sambung Lingga. 


“Bagaimana kamu tahu kalau dia itu adikmu?” tanya Bagas. 


“Aku rasa itu kontak batin, aku langsung mengenalinya begitu saja sejak saat itu aku sering mendapat informasi darinya,” sahut Lingga. 


“Kenapa kamu tidak bilang denganku? Aku bisa membebaskannya dari Bastian dengan mudah.”


“Aku pun bisa kalau aku mau, sayangnya Andre lah yang tidak mau dan lebih memilih mengabdi dengan Bastian keparat itu!”  


Bagas dan Lingga mengeluarkan tubuh Andre dari dalam koper besar berwarna hitam itu, ia juga membersihkan darah yang sempat menetes di lantai.


Tubuh Andre sudah hampir kaku, beberapa jam kemudian iring-iringan mobil berwarna hitam masuk ke dalam halaman rumah Lingga.


Rupanya itu adalah Desta beserta anak buahnya, mereka semua turun dari mobil tersebut.