
“Irwan Haris dan Rosa Subakti,” sahut Venus.
Ronald terlihat seperti berpikir sejenak lalu mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan sebuah foto di slide kedua.
“Apa ini?” tanya Ronald sembari menunjukkan foto yang ada di ponselnya.
“Om kenal dengan mendiang papa?” tanya Venus.
‘Mendiang? Apa maksudnya?’ batin Ronald.
“Ya bahkan lebih dari sekedar teman.”
Mereka pun sampai di sebuah rumah yang ukurannya cukup luas, rumah dengan nuansa hitam putih itu sangat megah dengan dua pilar besar berdiri kokoh di depan rumah itu.
Di dalamnya terdapat banyak penjaga serta beberapa orang yang tengah berkumpul, Venus dan Ronald pun masuk ke dalam rumah itu.
‘Wah rumahnya gede banget,' batin Venus
“Mulai sekarang kamu akan tinggal di tempat ini dan bekerja denganku bagaimana?”
“Baik om asal dapat duit,” sahut Venus.
“Bukan hanya uang yang banyak, kamu juga akan dapat fasilitas semua fasilitas yang ada di rumah ini bisa kamu gunakan sesukamu,” ucapnya.
Venus seperti mendapat angin segar, ia merasa seperti mendapatkan kehidupan yang baru dan bertekat akan menemukan adiknya Orion.
Beberapa bulan berlalu Venus mulai mendapatkan pelatihan fisik, dan juga ilmu pengetahuan mengingat Venus sama sekali tidak bersekolah.
Hingga ia tumbuh menjadi wanita yang tangguh serta kuat, pintar berkelahi dan juga pintar memecahkan masalah.
***
Venus membuka matanya, ruangan yang dingin serta bau obat-obatan yang menyengat masuk ke indra penciuman Venus.
“Sudah bangun kamu.”
“Leon, apa aku tidurnya lama?” tanya Venus.
“Kamu bukan tidur lagi tapi pingsan. Kamu banyak mengeluarkan dan itu bikin kamu pingsan,” sahut Leon.
“Berapa lama aku pingsan?”
“Gak lama cuma satu hari.”
“Oh iya mulai sekarang kamu dibebaskan dari misi, aku sudah mengurus paspor dan visa kamu jadi saat kamu sudah baikan bisa langsung berangkat,” ucap Leon.
“Paspor? Memangnya aku mau di kirim keman?”
“Switzerland, di sana ada seseorang yang sudah menunggu kamu,” sahut Leon.
“Jauh banget. Kalian mau buang aku ya?”
“Untuk apa kami buang kamu, kami bahkan ingin kamu memiliki kehidupan yang lebih baik karena kemarin adalah misi terakhir kamu.”
Venus terdiam sejenak, “Aku yakin adik Bagas akan mencariku di rumahmu Leon,” sahut Venus.
“Kenapa? Kamu kangen ya sama pengusaha muda itu,” ledek Leon.
“Apaan sih, gak mungkin lah itu terjadi.”
Tiba-tiba ponsel Leon berdering, ia pun lantas mengangkat teleponnya lalu keluar dari ruangan Venus.
“Halo bos,” ucap Leon pelan.
“Bagaimana Venus?”
“Seperti yang aku beri tahu, dia sudah siuman.”
“Kita harus cepat, Venus harus segera pergi dari sini aku tidak mau dia terlibat masalah ini.”
“Baik bos, aku akan segera mengurusnya.”
Leon pun menutup telepon dan kembali masuk ke ruangan Venus, terlihat Venus sudah bisa bangun dan berdiri.
“Venus, bos bilang aku harus segera mengirimmu ke sana.”
“Sekarang? Kenapa?”
“Aku sebelumnya sudah mengemasi barang-barang kamu. Aku akan memanggilkan suster untuk mencabut infusmu,” ucap Leon tanpa menjawab pertanyaan Venus.
“Kalian ini kenapa sih? Leon ... Leon!”
Venus mendengus kesal dan berpikir Ronald sudah tidak membutuhkannya lagi makanya ia di kirim ke luar negeri.
Mau tidak mau Venus harus mengikuti apa yang di inginkan Ronald, jarum infus Venus sudah di lepas ia pun sudah berganti pakaian dan siap untuk menunu bandara.
Dengan di antar oleh Leon Venus menuju Bandara, di dalam mobil mereka hanya terdiam satu sama lain. Sikap Leon yang ceria dan ramah kini berubah 180 derajat.
Sesekali terdengar Venus menghela nafas.
“Kamu jangan berpikir yang tidak-tidak, bos mengirimmu ke luar negeri bukan tanpa alasan. Dan ini demi kebaikan kamu juga,” ucap Leon.
“Di sana kamu akan bertemu seseorang yang dapat menemani kamu,” ucap Leon.
“Baik-baik ya kamu di sana dan jangan lupakan aku,” sambungnya.
“Mana mungkin aku melupakan orang-orang yang berjasa dalam hidupku.”
Mobil yang di tumpangi Venus akhirnya masuk ke area bandara, Leon memberikan sesuatu pada Venus.
“Ini dari Bos, katanya kamu bisa gunakan ini semaumu,” ucap Leon.
“Black card? Ini serius?”
“Tentu aja, mana pernah bos bercanda. Ini visa dan pasport kamu. Kalau kamu sudah sampai di bandara kamu hubungi nomor telepon ini,” sahut Leon sambil memberikan sebuah kartu nama.
“Kamu pakai ini juga untuk meminimalisir rasa trauma kamu,” Leon memberikan sebuah penutup telinga dan penutup mata.
“Terima kasih Leon, tapi sedikit demi sedikit aku mulai bisa berdamai dengan dirimu sendiri.”
Venus pun masuk ke dalam dengan membawa dua buah koper besar, Leon memantaunya dari kejauhan hingga tiba saatnya Venus masuk ke dalam pesawat dan terbang menuju luar negeri.
Leon pun mengambil ponselnya lalu menghubungi Ronald.
“Bos, pesawat Venus sudah berangkat,” ucapnya dalam telepon.
Di tempat berbeda rupanya Bagas juga melakukan penerbangan dengan tujuan yang sama dengan Venus, bahkan mereka satu pesawat.
Namun mereka berdua tidak menyadari hal itu, sebuah kebetulan yang cukup aneh.
Venus berusaha menenangkan dirinya dari rasa takutnya itu, ia mulai mensugesti dirinya sendiri jika yang ia naiki bukan pesawat namun sebuah bus.
Sesekali ia meringis karena luka yang ia alami belum sembuh total.
‘Kenapa mereka seperti tergesa-gesa mengirimku ke Swiss?’ batin Venus.
Dalam perjalanan panjang itu mau tidak mau Venus harus berusaha tenang tanpa melakukan hal aneh.
“Mbak minta soft drink.”
Mendengar suara itu Venus langsung membuka matanya.
‘Suaranya mirip Bagas,' batin Venus.
“Ah ... Paling cuma halusinasiku aja,” ucap Venus.
Namun pikirannya itu di tepis oleh suara seseorang yang tengah menyebut namanya.
“Pak Bagas saya permisi ke toilet sebentar,” ucap suara itu.
Venus pun mengintip ke bagian depan kursi VIP miliknya dan benar saja dua orang pria yang duduk di depannya adalah Bagas dan juga sekretarisnya Adam.
‘Aduh apes banget kenapa bisa kami satu pesawat sih,' batin Venus.
Dengan cepat Venus memasang kaca mata serta topi agar wajahnya tidak terlihat jelas oleh mereka.
Beberapa jam telah berlalu, langit yang tadinya jingga sekarang berubah menjadi gelap, Venus mulai merasakan gelisah karena ingin pergi ke toilet.
Namun jika ingin pergi ke toilet Venus harus melewati kursi Bagas.
‘Adih aku udah gak tahan lagi!’
Venus bergegas berlari sembari memakai topi dan kaca mata ke toilet.
Bagas yang melihat sosok Venus yang lewat itu pun merasa aneh.
“Orang aneh, malam-malam begini pakai kaca mata hitam,” ucap Bagas.
“Ya ... Kadang perilaku orang itu bisa agak lain,” sahut Adam.
“Apa kamu sudah dapat informasinya?” tanya Bagas.
“Untuk sementara ini saya hanya mendapatkan dari rekaman CCTV yang ada di dekat villa. Venus pergi lewat jendela lalu memesan taxi. Untuk titik terakhir dari nomor ponselnya itu berada di apartemen anda, saya juga dapat rekaman CCTVnya.”
“Hah? Apartemenku?”
“Iya bahkan ternyata Venus memiliki kamar di apartemen itu dan bersebalahan dengan anda.”
“Apa ... Jangan-jangan mata-mata yang di maksud itu adalah Venus?” pikir Adam.
Bagas hanya terdiam sembari menghela nafasnya. Sementara Venus yang baru saja dari toilet itu berlari menuju kursinya namun naas ia malah terpeleset di samping kursi Bagas.
Buuuk!
“Aduh sakit,” ucap Venus.
“Mbak tidak apa-apa?” ucap salah satu pramugari yang membantunya berdiri.
Venus hanya menggeleng tanpa berani mengeluarkan sedikit pun suaranya ia pun bergegas masuk lagi ke kursi VIP nya tersebut.
‘Aduh sial banget aku kenapa harus terpeleset sih!’ guman Venus.