
Bagas dan Venus berangkat bersama, namun kali ini Venus tidak diikut sertakan dalam meeting.
Karena bosan Venus pun berkeliling kantor hingga ia sampai di cafetaria yang ada di gedung itu.
Venus duduk santai sambil memperhatikan sekeliling. Hingga seorang pria menghampri Venus.
“Permisi, boleh duduk di sini?” tanya pria itu.
“Boleh, duduk aja gak ada yang melarang,” sahut Venus.
Sambil memegang segelas kopi, pria itu duduk di depan Venus.
“Kamu karyawan baru ya? Aku baru kali ini lihat kamu di sini,” ucapnya memulai obrolan.
"Iya baru satu minggu,” sahut Venus
“Oh ya, di bagian mana?” tanyanya lagi.
“Pelayan.”
“Pelayan cafetaria?”
Venus menggelengkan kepalanya, “bukan, pelayan bos,” sahut Venus.
“Bos? Maksudnya Pak Bagas?”
“Ya. Memang siapa lagi.”
“Cewek secantik kamu jadi pelayan? Gak mungkin,” ucapnya sambil meminum kopinya.
“Di dunia ini gak ada yang gak mungkin,” sahut Venus.
“Pasti kamu dibayar mahal per malamnya. gimana kalau sama aku aja," ucapnya sambil meraba punggung tangan Venus yang saat itu berada di meja.
Pria itu mulai menatap ke arah Venus, ia memperhatikan setiap lekuk tubuh Venus dari ujung kaki hingga kepala.
Tangannya mulai meraba lebih jauh, bahkan ia mulai mendekatkan kursinya ke samping Venus.
beberapa karyawan menatap ke arahnya dengan senyum seakan berpikir jika Venus wanita murahan.
Venus menatap pria tersebut, “Kamu berani bayar aku berapa?” tanya Venus.
“lima juta, bagaimana?” ucapnya dengan percaya diri.
“Pppptthhh hahaha. Lima juta? Kamu serius?” ucap Venus dengan nada yang cukup nyaring membuat karyawan serta pengunjung kafetaria menatap ke arah mereka.
“Ada apa ini?” terdengar suara Bagas dari belakang Venus.
“Eh ... Pak Bagas,” ucapnya yang langsung berdiri.
Bagas pun mendekat ke arah Venus, “sepertinya kamu senang sekali,” ucap Bagas.
“Ya. Dia ingin menyewaku satu malam seharga lima juta. Tapi keburu kamu datang.”
Bagas menyenyitkan alisnya, “Memangnya kalau aku tidak datang kenapa?”
“Ya jelas akan aku patahkan tangannya!”
Mendengar ucapan Venus, pria itu malah tertawa dan meremehkan Venus.
“Kamu jangan mengada-ada. Kamu hanya pemuas nafsu pemilik perusahaan,” ucapnya tertawa.
“Oh ya?”
Venus mendekati pria bertubuh tambun tersebut, dengan satu kali pukulan dari tangannya Venus dapat membuat pria itu tersungkur di lantai.
Bagas pun mendekati pria itu dengan mengucapkan sesuatu.
“Sayang sekali nasibmu hanya sampai hari ini,” ucap Bagas.
“Ma-maksudnya apa?” ucap pria itu terbata.
“Bawa dia dan beri dia pelajaran!” ucap Bagas pada dua orang yang sedari tadi berdiri di belakang Bagas.
Pria itu di seret oleh kedua bawahan Bagas, pria itu di bawa ke ruangan sempit yang ada di basemen.
Di sana pria itu diikat di kursi.
“Kalian mau apakan saya? Kalian jangan macam-macam!”
Buk!
Sebuah pukulan mengenai mulutnya hingga berarah.
“Kalian tidak tahu siapa saya! Kalian akan menyesal nanti!” ucapnya dengan mulut penuh darah.
Kedua bawahan Bagas itu tiba-tiba memukul wajah pria tambun itu dengan sebuah tongkat dan juga balok kayu.
Bahkan perut pria itu di tendang dengan keras hingga ia memohon untuk di lepaskan.
Tidak lama Bagas pun masuk ke dalam ruangan tersebut dan melihat pria itu terkulai lemas bersimbah darah.
Tanpa berkata apa pun Bagas mengambil tongkat baseball yang tengan di pegang oleh bawahannya dan memukul kepala pria tersebut.
“Masukkan dia ke dalam mobil dan buang mobil itu ke jurang!” pinta Bagas.
Bagas pun beralu pergi meninggalkan ruangan tersebut, lalu kembali ke ruangannya untuk menghampiri Venus.
“Kamu dari mana?” tanya Venus.
“Ada urusan sedikit.”
Tiba-tiba ponsel Venus berdering, ia pun melihat layar ponselnya.
‘Si bos kenapa nelpon di saat kaya gini sih,’ batin Venus .
“Siapa?” tanya Bagas.
“Oh ini nenekku,” ucap Venus sambil cepat-cepat keluar dari ruangan Bagas.
Venus bergegas masuk ke dalam lift dan naik ke lantai paling atas tempat di mana jarang ada orang di sana.
Venus pun kembali menelepon bosnya tersebut.
“Halo bos,” ucap Venus dalam telepon.
“Bagaimana? Apa ada informasi yang kamu dapatkan?” tanyanya.
“Untuk saat ini gak terlalu banyak, ada beberapa tempat di gedung ini yang memiliki sistem keamanan yang rendah. Bar miliknya kemarin di serang segerombolan preman. Aku sempat mencari informasi ternyata dia memiliki relasi yang kuat yaitu anak dari Darman,” tutur Venus.
“Darman? Sebaiknya kamu berhati-hati dengannya dan jalankan tugasmu dengan rapi. Jangan sampai kamu mengecewakanku Venus,” ucapnya.
“Baik bos,” sahut Venus.
Telepon pun di tutup, Venus pun bergegas kembali ke ruangan Bagas.
Saat Venus kembali terlihat Bagas tengah sibuk memeriksa banyak berkas.
Tidak lama Adam pun masuk ke dalam ruangan Bagas.
“Ya sudah lanjutkan pekerjaan kamu,” ucap Bagas.
“Baik pak,” sahutnya dan keluar dari ruangan.
“Besok kamu temani aku,” ucap Bagas.
“Kemana?” tanya Venus.
“Ke Kota Z untuk memberi pelajaran pada semut kecil,” sahutnya.
***
Keesokan harinya Venus berangkat ke luar kota bersama Bagas ia juga membawa beberapa orang bawahannya.
Mereka berangkat menggunakan pesawat pribadi milik Bagas menuju kota Z yang jaraknya cukup jauh.
Mereka mulai duduk di kursi, pesawat perlahan mulai naik. Dari balik jendela pesawat Venus dapat melihat kota yang ia tempati dari ketinggian.
Semakin tinggi kota itu terlihat semakin kecil dan perlahan menghilang karena tertutup awan.
“Kenapa kamu bangun pabrik jauh banget sih?” tanya Venus.
“Karena lokasinya strategis dan cukup luas untuk mendirikan pabrik yang besar,” sahut Bagas.
Venus pun terdiam dan lebih memilih untuk memandangi awan-awan putih yang menyelimuti pesawat di balik jendela.
Sudah sangat lama Venus tidak bepergian dengan menggunakan pesawat, ia lebih memilih menaiki mobil atau pun kapal laut ketimbang pesawat.
Namun, kali ini mau tidak mau Venus harus mau naik menggunakan pesawat.
Padahal sebenarnya Venus memiliki trauma yang membuatnya sangat takut naik pesawat.
Saat itu Venus di bawa oleh Agnes mengunakan pesawat sewaan, pesawat itu akan membawanya menuju sebuah kota kecil.
Saat itu Agnes mengetahui jika seluruh harta serta aset milik Rosa serta suaminya itu jatuh ke tangan Venus karena Venus adalah anak satu-satunya dan Orion adalah anak yang di adopsi dari panti asuhan saat itu.
Dalam surat wasiat itu Venus akan menerima aset serta warisan saat berumur 17 tahun di hari ulang tahunnya yang ke-17.
Agnes yang gila harta itu pun memiliki rencana untuk mengirim Venus ke sebuah tempat terpencil dan mengisolasinya dari dunia luar hingga nantinya Venus berumur 17 tahun.
Dalam perjalanan menuju tempat itu Venus mendapatkan perlakuan buruk oleh Agnes serta bawahannya.
Sesekali Venus kecil itu di jambak dan di pukul jika salah dalam melakukan perintah dari Agnes.
“Ambikan aku minum cepat!” perintah Agnes kepada Venus.
Dengan kaki kecilnya Venus melangkah dan mengambilkan segelas minuman untuk Agnes.
“Ini Tante,” ucap Venus sambil menyodorkan segelas orange juice kepada Agnes.
Plak!
Tamparan mendarat ke wajah Venus.
“Siapa yang minta orange juice? Aku minta sort drink! Cepat ambilkan! Dasar bodoh.”
Sambil menangis menahan sakit Venus berjalan dan mengambil se kaleng soft drink.
Saat Venus ingin mengambil soft drink tiba-tiba seorang bawahan Agnes datang.
“Anak manis, sayang sekali kamu harus jadi bulan-bulanan bos,” ucapnya sambil meraba wajah Venus.
“Om mau menolong saya?” tanya Venus dengan polosnya.
“Om akan menolong, tapi dengan satu syarat,” ucapnya.
“Apa itu Om?” sahut Venus dengan wajah semringah.
Dengan cepat pria paruh baya itu menarik Venus masuk ke dalam toilet pesawat lalu melucuti pakaiannya.
Venus di lecehkan oleh pria tersebut, mulutnya di bekap teriakannya tidak berarti tubuh kecilnya pun tidak bisa melakukan perlawanan hingga ia terkapar dengan darah yang keluar dari organ vitalnya tersebut.
Hal itu di ketahui Agnes, bukannya menolong ia malah mencaci Venus dengan kata-kata yang menyakitkan.
“Anak sialan. Seharunya kamu aku jual saja biar tidak jadi beban!” ucapnya.
“Kamu juga bodoh. Kamu gak bisa apa tahan hasrat gilamu itu!” ucap Agnes memarahi bawahannya.
“Habis dia cantik bos,” sahutnya.
“Bantu dan bersihkan dia!” perintah Agnes pada salah satu penjaga wanita.
“Baik.”
Mengingat kembali hal itu membuat tangan Venus gemetar serta keringat dingin mengalir di keningnya bahkan matanya berkaca-kaca.
Kejadian itu terus terbayang di benaknya berulang-ulang. Venus menggenggam erat ponsel yang ada di tangannya hingga layarnya retak.
Tubuhnya seakan mematung tak dapat bergerak.
Bagas merasa aneh dengan sikap Venus yang sedari tadi diam dengan posisi yang sama dan tidak bicara sepatah kata pun.
Karena penasaran Bagas pun menghampiri Venus dan duduk di sebelahnya.
“Kamu kenapa dari tadi diam?” tanya Bagas.
Venus tidak menjawab pertanyaan Bagas, ia terus menatap ke arah jendela dengan tangan gemetar.
Bagas mulai curiga ada yang tidak beres dengan Venus. Ia mencoba memegang tangan Venus, tangannya terasa sangat dingin serta gemetar.
“Hey kamu kenapa?” tanya Bagas.
Venus berusaha mengatur nafasnya, akibat rasa traumanya itu membuat nafasnya sesak.
“Gak ... Aku gak apa-apa,” sahut Venus dengan tubuh gemetar.
Bagas paham dengan kondisi tersebut, tanpa basa-basi Bagas langsung menarik Venus lalu memeluknya.
Bukannya tenang hal itu malah membuat Venus menjadi sangat marah dan memukul wajah Bagas hingga ujung bibirnya terluka.
“Pergi! Jangan dekat-dekat!” pekik Venus.
Mendengar hal tersebut beberapa bawahan Bagas mulai menghampiri.
“Gak apa-apa. Kalian kembali ke tempat duduk kalian!” perintah Bagas.
Bagas mulai menjauh dan duduk kembali sambil terus mengawasi Venus hingga pesawat mendarat.
Saat pintu pesawat terbuka Venus langsung bergegas menuju pintu keluar dengan kaki yang gemetar.
Baru saja ia ingin melangkahkan kakinya keluar tiba-tiba pandangan Venus buram dan membuat Venus hampir terjatuh.
Beruntung Bagas yang saat itu berada di belakang berhasil menarik tubuh Venus dan tubuh Venus tersandar di tubuh Bagas.
“Hampir saja, kamu kalau jalan hati-hati,” ucap Bagas.
Saat itu juga Venus langsung tak sadarkan diri. Tanpa pikir panjang Bagas langsung menggendong Venus dan membawanya ke rumah sakit terdekat.