My Sugar My Precious

My Sugar My Precious
Panggilan Telepon Tengah Malam



“Aku kan udah bilang, makanya aku ngak mau kita tukeran klien. Tempat ini bahaya gimana pun kmi tetap cewek Venus.”


“Iya aku paham,” sahut Venus.


Di tempat lain, usai mengantar Venus Desta langsung menghubungi Bagas.


“Aku serius, dia tinggal di sana,” ucap Desta dalam telepon.


“Cewek seperti dia tinggal di sarang gangster Gas, aku gak nyangka aja. Pantas aja sikap dia seperti itu,” tutur Desta.


“Oh iya, aku ketemu sama orang yang namanya Leon itu tadi. Rupanya mereka Cuma temen, jadi kamu masih punya kesempatan besar Gas,” ucap Desta sambil tertawa.


Bagas pun menutup teleponnya tanpa berkata apa pun, ia duduk termangu di atas kasurnya. 


Tidak lama ia pun menghubungi Venus. Teleponnya beberapa kali di tolak oleh Venus hingga akhirnya Venus mau mengangkat telepon darinya.


Saat teleponnya diangkat, bukan suara lembut yang ia dengar melainkan omelan dari Venus.


“Apa sih, ini udah tengah malam kamu gak punya atau gak bisa lihat ini jam berapa? Gak puas kamu nyiram aku pakai kopi? Atau sekarang kamu mau ganggu tidur nyenyaku ini?” omel Venus dalam telepon.


Bukannya membalas omelan Venus, Bagas malah tersenyum.


“Kok diam? Kamu maunya apa sih Bagas? Mau di temani telponan malam sampai ketiduran gitu? Gak mungkin kan!” 


“Itu ide bagus, temani aku jangan matikan telepon ini. Kalau sampai kamu matikan aku tidak akan memperbolehkan kamu masuk ke perusahaanku lagi.”


Ucapan Bagas itu membuat Venus kesal, mau tidak mau Venus harus memasang earphone di kedua telinganya.


Hingga tanpa sadar Venus tertidur dalam keadaan earphone yang masih menempel di teinganya. Panggilan telepon antara Venus dan Bagas pun masih tersambung.


Dari balik telepon itu tidak terdengar lagi suara Venus yang meracau, hanya terdengar suara nafas yang lembut.


“Venus ... Venus,” panggil Bagas.


“hmmm,” Venus mendeham.


“Kamu tidur? Venus,” ucap Bagas.


“Halo Venus?” ucap Bagas sekali lagi.


Mengetahui Venus sudah tertidur, Bagas pun berjalan ke kasur empuknya itu dan mulai menarik selimutnya.


Sambil masih memegang ponselnya Bagas mengucapkan sesuatu di balik teleponnya, ia mendekatkan mulutnya di ponselnya.


“Good night and have a nice ******,” ucap Bagas dengan lembut.


“Oh ya,” sahut Venus dengan mata yang masih terpejam.


Malam semakin larut hingga berganti pagi, sayup-sayup Venus mendengar suara seseorang memanggil namanya.


“Venus ... Venus,” ucap suara itu.


Venus langsung membuka matanya dengan lebar dan bangkit dari tidurnya tanpa sadar earphone masih terpasang di kupingnya dan panggilan teleponnya dengan Bagas masih tersambung.


“Gila! Siapa tadi yang manggil-manggil namaku?” pekik Venus.


“Apa kamar ini ada hantunya?” ucapnya lagi.


“Siapa kamu? Aku gak takut ya sama hantu! Jangan macam-macam sama aku!” ancam Venus sambil berdiri di atas kasur dan memasang kuda-kuda.


“Ppppttthh hahaha,” terdengar suara tawa sangat jelas di telinganya.


Saat itu ia baru sadar jika earphone masih terpasang di telinganya dan masih melakukan panggilan telepon bersama Bagas. Saat itu juga Venus melepas earphone miliknya dan mematikan sambungan teleponnya.


“Astaga, bisa-bisanya aku ketiduran saat telponan sama dia,” ucap Venus sembari menepuk jidatnya.


“Aaahh ... Malu-maluin banget!” ucapnya sambil mengentakkan kakinya di lantai.


Venus pun bergegas membereskan barang-barangnya dan keluar dari kamar tersebut. Terlihat Leon sudah berada di ruang tamu sambi berbaring di sofa.


“Leon thanks ya, aku balik dulu,” ucap Venus.


“Ya hati-hati. Kalau ketemu bapak-bapak gendut tadi malam hiraukan aja.”


Venus pun keluar dan berjalan kaki menuju depan jalan, saat siang hari jalan tersebut sangat ramai.


Ada banyak orang yang duduk di pinggir jalan, ada yang sekedar duduk ada juga yang tengah melakukan transaksi.


Beberapa orang pun sempat memandang ke arah Venus, ia pun mempercepat jalannya hingga sampai di depan jalan.


Sebuah mobil sedan hitam tiba-tiba berhenti tepat di depannya, kaca pintu mobil itu pun terbuka.


“Ayo masuk,” ucapnya.


Rupanya orang itu adalah Bagas.


“Kamu tahu dari mana aku di sini?” tanya Venus kaget.


“Dari siapa lagi, ayo masuk.”


Tanpa pikir panjang Venus masuk ke dalam mobil tersebut, Bagas pun melaju dengan kecepatan sedang menuju kantor.


‘Duh kenapa dia ke sini sih, mana aku belum mandi lagi,' batin Venus.


Bagas tiba-tiba memperhatikan Venus, “Seprtinya kamu gak punya baju lain. Ya sudah kita beli baju dulu,” ucap Bagas sambil memutar kemudinya.