My Sugar My Precious

My Sugar My Precious
Perkelahian di Bar



“Kamu biasanya memang kaya gini ya?” tanya Venus sambil memandang ke arah kaca jendela mobil.


“Maksudnya?” tanya Bagas.


“Jangan terlalu baik sama orang yang baru kamu kenal, bisa aja nanti orang itu malah jadi manfaatin kamu,” sahut Venus.


Bagas tersenyum, “Ini pertama kalinya aku mempercayai seseorang. Kalau pun orang itu nantinya malah menusukku dari belakang aku akan menganggap itu adalah kebodohanku karena terlalu percaya,” sahut Bagas.


“Di dunia ini ada banyak sekali orang baik, tapi menemui orang yang benar-benar baik itu seperti satu banding seribu,” sahut Venus sambil menoleh ke arah Bagas.


Mobil berhenti di dalam basemen gedung Hilman Group, mereka berdua berjalan beriringan. 


Seperti biasa tatapan penuh tanya masih di terima oleh Venus, sesekali Venus malah melempar senyuman kepada para karyawan yang menatapnya.


Mereka pun masuk ke dalam lift berbarengan dengan beberapa karyawan lain.


Bagas hanya diam sambil mengangkat kepalanya dengan penuh karisma, hingga tatapannya teralihkan pada pergelangan tangan kiri Venus yang terlihat memar, kulitnya yang putih membuat bekas memar itu menjadi sangat terlihat.


“Tangan kamu gak apa-apa?” tanya Bagas.


“Tangan?” sahut Venus sambil memeriksa tangannya.


“Oh ini. Aman gak masalah nanti juga hilang,” sahut Venus.


“Nanti akan aku suruh adam untuk mengobatinya,” sahut Bagas yang mulai bicara formal.


“Yah begini doang gak masalah, kamu lupa ya saat aku masuk ke ka-” ucapan Venus tethenti karena mulutnya di tutup oleh Bagas.


Bagas memberi kode kepada Venus kalau mereka sedang bersama karyawan lain di dalam lift.


Venus yang mengerti situasi pun menganggukkan kepalanya, dan Bagas melepaskan tangan dari mulut Venus.


“Berisik jangan banyak bicara!” ucap Bagas.


Para karyawan lain hanya bisa diam sambil mendengarkan pembicaraan Venus dan juga Bagas.


Ting! Pintu lift terbuka.


Saat mereka akan keluar terlihat Lingga berada di depan pintu lift.


“Venus kamu di sini?” ucap Lingga terkejut namun terlihat senang.


“Kamu dokter itu kan?” tanya Venus.


“Kamu masih ingat aku rupanya,” sahut lingga.


“Kamu ngapain ke sini?” tanya Bagas sinis.


“Ada urusan sedikit dengan Adam,” sahutnya.


“Oh iya aku juga mau bicara empat mata sama kamu Bagas,” ucap Lingga.


Venus yang paham langsung pergi meninggalkan Lingga dan juga Bagas dan memilih untuk berkeliling gedung itu lagi.


Sementara Bagas dan Lingga masuk ke dalam ruangan.


“Ada apa?” 


“Ini tentang Bastian.”


Bagas mulai serius untuk mendengarkan Lingga.


“Aku dengar Bastian menyewa seorang agen mata-mata, info ini aku dapat dari Andre yang saat itu tidak sengaja mendengar pembicaraan Bastian dengan seseorang di ruangannya,” tutur Lingga.


“Lalu apa lagi?” tanya Bagas.


“Andre juga menyebutkan kalau anak buah Bastian mencoba menyabotase Bar kita dengan menjebak dua orang karyawan Bar,” sahut Lingga.


“Kalau begitu kita ke Bar sekarang, dan sepertinya kita butuh orang tambahan,” sahut Bagas.


“Aku akan menghubungi Desta,” sahut Lingga.


“Tidak perlu.”


Bagas mengambil ponselnya dan menyuruh Venus untuk datang ke ruangannya.


“Kamu ke ruanganku sekarang,” ucapnya lalu menutup telepon.


Selang beberapa menit Venus pun masuk ke dalam ruangan Bagas.


“Kenapa Venus?” tanya Lingga.


“Bantuan apaan? Kalau kamu suruh aku beli baju lagi aku gak mau,” sahut Venus.


“Bukan itu. Kamu masih kuat kan?”


“Ya masih lah, memang ada apa sih?”


“Ya sudah ikut kami sekarang!” ucap Bagas tanpa menjelaskan apapun kepada Venus.


Mereka berdua berjalan menuju basemen dan masuk ke dalam mobil, dalam perjalanan Venus terus bertanya kepada Bagas apa yang sebenarnya terjadi namun Bagas hanya diam dan fokus mengemudikan mobilnya.


Hingga mereka berhenti di sebuah Bar yang cukup terkenal, Bagas memarkirkan mobilnya dan masuk ke dalam Venus pun mau tidak mau mengikuti Bagas.


Saat masuk, terlihat bar itu sudah berantakkan kursi-kursi bergelimpangan di lantai bahkan lantai itu penuh pecahan kaca. 


Di dalamnya terlihat segerombolan preman tengah menghancurkan semua botol-botol minuman mahal yang ada di Bar itu, bahkan beberapa bartender pun di pukuli hingga tergeletak tak berdaya di lantai.


“Kamu bilang mereka menyabotase, kenapa sekarang Bar ku malah berantakan?” tanya Bagas.


“Aku juga gak tahu, info ini aku dapat dari Andre.”


“Berarti kita sudah masuk perangkap. Kalau begitu kita tinggal hancurkan aja biar bisa keluar kan,” sahut Venus sambil membuka blazer kerjanya.


“Lain kali jangan mudah percaya sama seseorang,” sambung Venus.


“Ya sudah kalau kamu siap kita mulai aja,” ucap Bagas melepas jas hitamnya tersebut dan menaruhnya di kursi.


Segerombolan preman itu berjumlah lebih dari 10 orang, mereka menatap ke arah Venus dan Bagas.


‘Kayaknya aku kenal mereka deh, bukannya mereka preman yang ada di pinggiran kota,' batin Venus.


Dengan tubuh tegapnya Bagas berjalan santai maju menghampiri salah seorang preman yang tengah memegang sebuah balok kayu yang ia gunakan untuk menghancurkan botol-botol minuman mahal itu.


“Kalian sudah merusak Bar ku,  apa kalian tahu harga satu botol minuman itu  bisa membeli kepalamu,” ucap Bagas.


“Kamu pemilik tempat ini? Kebetulan sekali. Kalian membangun tempat ini tanpa izin dari kami dan harusnya kalian membayar kepada kami!” bentaknya dengan mata melotot.


“Untuk apa aku bayar kalian, memang kalian siapa? Petugas pajak?”


“Kalian cuma segerombolan rayap kecil yang kerjanya hanya menggerogoti uang recehan,” ejek Lingga.


Kata-kata dari Lingga itu membuat mereka semua naik pitam dan langsung menyerang secara bersamaan.


Dengan cepat Venus naik ke atas meja lalu melompat dan menendang salah satu dari preman tersebut, tidak hanya sampai di situ Venus melayangkan bogem mentahnya itu dengan tepat sasaran ke wajah preman yang lain.


Begitu pula dengan Bagas, gerakannya cukup cepat untuk melumpuhkan dua preman sekaligus. 


Beberapa preman yang membawa senjata pun mulai menyerang Bagas, namun dengan mudah Bagas menghindar lalu melayangkan pukulan pada perut mereka secara cepat.


Lingga sendiri terkejut saat melihat Venus bisa berkelahi dengan para preman itu, bahkan Bagas dan Venus bekerja sama untuk melumpuhkan lawan secara bersama-sama.


Gerakan lincah Venus membuat Lingga terdiam. Hingga ia tidak sadar jika ada yang sedang diam-diam ingin mengakapnya.


Pria tampan berkaca mata itu mulai tersadar dan berbalik lalu langsung melakukan serangan, ia menangkis tangan preman yang ingin menyerangnya dengan sebuah celurit.


Beruntung sabetan celurit itu tidak mengenai perut Lingga, dengan kepiawaiannya Lingga menyerang titik lemah ya itu di bekalang kepala.


Ia memukul belakang kepala preman tersebut dengan sebuah balok kayu yang terdapat di lantai hingga preman itu langsung tersungkur dengan hidung yang berdarah.


Venus dan Bagas mulai terpisah, mereka melawan preman itu masing-masing.


Dengan kemampuan parkournya Venus dengan mudah menghindar, kaki jenjangnya mulai melawan.


Ia menendang wajah pria yang sempat berdebat dengan Bagas tadi.


“Halo kita ketemu lagi,” ucap Venus melambai ke arahnya.


Seketika pria itu ingat jika ia pernah di hajar Venus habis-habisan beberapa bulan lalu karena ia mencoba menggoda Venus saat ia tengah menjalankan misi.


“Sialan wanita ******, kamu rupanya!” preman itu mengolok Venus.


Tanpa basa-basi Venus mengambil sebuah botol yang masih utuh dan menghampiri preman itu dan melemparnya ke arah pria itu.


Rupanya lemparannya tepat sasaran dan mengenai kepalanya. Seketika darah langsung mengalir di kepalanya.


Pria itu mengerang kesakitan sambil memegangi kepalanya, hal itu menjadi kesempatan Venus. Ia menyikut punggung pria itu hingga tersungkur di lantai.


Semua preman itu berhasil di lumpuhkan, Bagas mengambil ponselnya dan menghubungi polisi untuk menangkap mereka semua dengan tuduhan penghancuran dan perusakan aset.