
Bagas membawa Venus ke pusat perbelanjaan yang saat itu masih belum buka, ia menarik Venus berjalan menuju tempat tersebut. Pintu kaca lebar itu terbuka secara otomatis dan ia mengajak Venus masuk ke dalamnya.
Mereka berjalan menuju sebuah toko yang menyediakan pakaian kerja dengan merek ternama. Di dalam toko tersebut sudah ada beberapa pramuniaga yang tengah menyortir barangnya.
Bagas pun menarik masuk Venus. Tanpa basa-basi mengambil satu persatu baju yang tergantung di sana. Para pramuniaga itu hanya diam sambil berdiri memperhatikan Venus dan Bagas.
Seorang lagi bersiap di meja kasir dengan senyum semringah seakan tahu jika baju yang ada di tokonya akan diborong.
Venus mencoba beberapa baju kantor dengan desain serta model terkini, bahkan beberapa pramuniaga memberikan rekomendasi pakaian yang cocok untuk Venus.
“Saya ambil semua,” ucap Bagas.
“Hah? Kamu gila ya ini banyak banget. Aku juga punya banyak baju kenapa harus membeli semua ini?” ucap Venus protes kepada Bagas.
“Gak usah mbak, saya beli yang ini aja,” ucap Venus.
“Gak ambil semua,” ucap Bagas sambil menyodorkan kartu debitnya.
“Gak mbak jangan, satu ini aja.”
“Ambil semua atau saya pecat!” ancam Bagas.
Duukk!
Seketika tangan Venus memukul lengan Bagas dengan cukup keras hingga membuat Bagas meringis.
‘Gila pukulannya keras banget,' batin Bagas.
Venus pun pergi meninggalkan Bagas, ia keluar dan ingin menuju mobil Bagas.
Baru saja ia memegang gagang pintu, tiba-tiba terdengar suara seseorang.
“Wah ... Wah. Ternyata pekerjaan kamu sekarang memelas dengan laki-laki kaya,” ucap suara itu.
Saat Venus berbalik rupanya ia adalah Johan, kakak tiri Venus yang juga seorang ketua gangster pinggiran.
Venus melipat kedua tangannya, “mau apa kamu?” ucap Venus.
Johan tertawa sinis, “Aku hanya ingin menagih bagianku yang sudah kamu ambil!” bentaknya.
“Bagian? Kamu mimpi hah? Dalam surat wasiat itu aja tertulis namaku bukan namamu Johan!” ucap Venus.
Tiba-tiba Johan memberi kode kepada beberapa anak buahnya untuk menangkap Venus. Venus pun mundur dan menjauh dari mobil Bagas.
Seorang pria berbadan tidak terlalu tinggi berkulit gelap mulai berusaha menangkap tangan Venus, namun tidak semudah itu.
Venus lah yang malah menangkap tangan pria tersebut lalu menendang tepat di bagian perut pria itu.
Seketika pria tersebut tersungkur, melihat salah satu temannya kalah mereka pun menyerang Venus secara bersama sama.
Mereka memegangi kedua tangan Venus hingga membuat Venus tidak bisa bergerak. Venus tak pantang menyerah, ia membenturkan jidatnya ke kepala salah satu anak buah Johan itu hingga melepaskan pegangannya lalu memikul wajah pria yang masih memegangi tangannya kanannya lalu menendangnya.
Tanpa basa-basi Venus menyerang pria bertubuh tinggi yang tengah kesakitan memegangi kepalanya tersebut.
Dari pintu masuk basemen pusat perbelanjaan yang masih sepi itu, dan tengah memegang banyak paper bag di tangannya, Bagas terkejut dan langsung melepas semua paper bag berisi pakaian untuk Venus. Ia berlari menghampiri Venus yang tengah di ganggu oleh beberapa orang.
Namun niat ingin membantunya itu sirna ketika para anak buah Johan itu semuanya tumbang hanya tersisa Johan saja.
Bagas hanya berdiri mematung, seakan tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Seorang wanita bisa melumpuhkan beberapa orang pria.
“Venus ada apa ini?” tanya Bagas yang langsung menghampiri Venus.
“Oh jadi ini yang lagi kamu manfaatkan uangnya,” ucapnya menghina Venus.
“Sekarang gini aja deh Johan, jangan banyak omong kamu mau pergi sekarang atau mau nasib kamu sama kaya anak buah kamu ini?”
“Awas kamu Venus, tunggu pembalasanku!” ancam Johan.
Johan pun membantu anak buahnya untuk berdiri dan pergi meninggalkan basemen dengan tertatih.
Bagas kembali mengambil paper bag yang ia bawa tadi dan memasukkannya ke dalam mobil.
Tanpa banyak bertanya Bagas melaju menuju sebuah restoran yang kemarin mereka datangi dan memesan makanan.
Bagas duduk sembari menatap tajam ke arah Venus.
“Sebenarnya mereka siapa?” tanya Bagas.
“Bukan siapa-siapa cuma preman iseng yang sukanya ganggu cewek yang lagi sendirian,” sahut Venus.
“Oh ya. Tapi sepertinya dia kenal sama kamu,” sahut Bagas.
“Lalu apa kamu bisa bela diri?”
“Menurutmu?” tanya Venus balik.
‘Pantas aja dia gak takut tinggal di sarang gangster itu,” batin Bagas.
“Oh iya, di gedung kantor kamu kayaknya keamanannya cukup ketat ya,” ucap Venus.
“Ya aku sengaja biar gak ada penyusup atau mata-mata yang bisa masuk, karena aku dulu sudah beberapa kali kebobolan dan akhirnya keamanan aku perketat lagi,” tutur Bagas.
“Tapi bisa saja kan, salah satu dari karyawan kamu jadi mata-mata.”
“Itu gak mungkin terjadi, karena semuanya atas persetujuannku. Termasuk kamu,” sahut Bagas.
“Berarti aku beruntung dong,” sahut Venus tersenyum.
“Ya begitu lah.”
‘Sayang sekali kamu cukup bodoh dan mudah untuk dikelabui Bagas,' batin Venus.