
Dalam dinginnya lantai rumah sakit Bagas duduk termenung menunggu Venus untuk segera sadar.
Beberapa kali ponsel Venus mendapatkan panggilan telepon, tapi untungnya saat itu ponsel Venus dalam mode diam.
Empat jam berlalu, langit pun mulai gelap lampu-lampu rumah sakit mulai di nyalakan sepenuhnya.
Namun Venus tak kunjung sadar. Hal itu membuat Bagas panik.
Bahkan serangan panik extrimnya itu mulai menunjukkan gejala.
Tangannya gemetar, ia pun berdiri dan mondar-mandir sembari mengepal kuat tangannya.
Wajahnya mulai berkeringat, pikirannya mulai berkecamuk dengan berbagai macam asumsi yang dibuat oleh pikirannya sendiri.
Bagas pun masuk ke dalam ruangan Venus dan terus bolak-balik di samping ranjang rawat Venus.
“Mondar-mandir kaya setrikaan aja.”
Terdengar suara Venus menegur Bagas.
Dengan cepat Bagas langsung memegang tangan Venus dengan jemarinya yang gemetar itu
“Ka-kamu sudah sadar,” ucap Bagas.
Venus mengedipkan matanya beberapa kali karena pandangannya masih terasa buram.
“Ini aku dimana?” tanya Venus.
“Kamu tadi pingsan, lalu aku bawa kamu ke rumah sakit.”
“Hah pingsan?”
Venus berusaha mengingat apa yang terjadi.
“Bisa-bisanya aku pingsan di saat seperti ini,” ucapnya pelan.
Tiba-tiba Venus bangkit dan langsung melihat tas miliknya yang diletakkan di samping ranjang rawatnya.
Ia merogoh tasnya, dan memeriksa ponselnya. Terdapat banyak panggilan tidak terjawab.
‘Untung aku silent, coba kalau enggak bisa bahaya,’ batin Venus.
“Apa ... kamu takut naik pesawat?”
Tiba-tiba saja Bagas bertanya hal itu kepada Venus.
“Enggak lah kenapa harus takut,” sahut Venus sambil memalingkan wajahnya.
Bagas pun memanggil perawat untuk melepaskan jarum infus yang masih terpasang di tangannya.
Saat jarum itu terlepas, Bagas langsung menggendong Venus dan membawanya keluar dari rumah sakit.
“Seharusnya kamu gak perlu begini. Aku bisa jalan sendiri,” ucap Venus.
“Lalu kenapa kamu masih berpegangan sama aku? Sudahlah kamu diam saja dan menurut.”
Venus pun terseyum kecil sambil tangannya melingkar erat di leher Bagas.
Mereka pun masuk ke dalam mobil, mobil pun melaju menuju sebuah vila yang lokasinya berdekatan dengan pabrik garmen milik Bagas.
Bagas pun langsung mengatar Venus ke kamarnya dan membiarkan Venus istirahat.
Saat Bagas keluar dari kamar itu, Venus bergegas mengambil ponsel dan menelpon orang yang sedari tadi menelponnya.
“Halo Bos,” ucapnya salam telepon.
“Venus kamu kemana saja? Aku meneleponmu berkali-kali!” bentaknya.
“Maaf Bos, ada kendala sedikit tadi.”
“Aku ingin memberitahukan hal penting. Kamu harus mendapatkan data vendor dari perusahaan itu dan berikan kepadaku,” perintahnya.
"Tapi bos, aku sedang di kota Z. Dia membawaku ke kota ini,” ucap Venus.
“Kalau begitu setelah dari pekerjaan ini kamu harus bisa mendapatkan data itu secepat mungkin!”
Telepon pun langsung dimatikan. Venus menghela nafasnya, ia bahkan belum menguji keamanan dari gedung itu ia hanya mengetahui titik-titik tempat yang memiliki sistem keamanan rendah.
Seketika Venus terdiam sambil memegangi keningnya, ia harus memutar otak serta siasat secepat lantai mungkin.
Venus perlahan membuka pintu kamarnya dan melihat situasi.
Villa berlantai dua itu cukup sepi dengan beberapa orang berjaga di ruang tamu.
Venus keluar perlahan dari kamarnya, dan mengendap-endap.
“Mau kemana?”
Venus langsung menoleh, “Eh Bagas,” ucap Venus.
“Aku bosan jadi cari udara segar,” sambung Venus.
‘Duh ini orang kenapa sih selalu muncul?’ batin Venus.