
Tiba-tiba Venus langsung membuka matanya dan mencerna isi dari percakapan telepon yang baru saja ia terima.
“Gila besok!” pekik Venus.
Leon yang saat itu tengah tegang dengan gamenya pun tiba-tiba terkejut setengah mati karena saat itu Leon duduk di samping kasur Venus.
“Kamu ngagetin aku aja!”
“Leon. Besok ... Besok harus ada di apartemennya!” ucap Venus langsung bangkit dari kasur dan modar mandir seperti setrikaan.
“Ya kamu tinggal datang terus beri salam dengan senyum yang hangat,” sahut Leon.
“Kita tukeran deh gimana?” tanya Venus.
“Memangnya kamu mau berurusan sama mafia? Apalagi pengawalnya itu preman semua. Gak ... Aku gak mau.”
“Aargghh ... sial banget kenapa harus jadi kaya gini sih!” teriak Venus kesal.
“Kamu lupain masalah kamu sama dia, kamu fokus sama tujuan kamu saat ini. Dan ingat satu hal jangan sampai kamu jatuh cinta sama targetmu sendiri itu bakalan bikin kamu gak akan bisa selesaikan pekerjaan ini.”
“Gila aja aku jatuh cinta sama dia itu gak akan terjadi,” sahut Venus dengan yakin.
Keesokan harinya pada pukul enam pagi Venus sudah berada di depan pintu apartemen milik Bagas, seperti biasa Venus menekan bel terus menerus dan berulang-ulang tanpa jeda.
“Bisa gak pencet bel itu sekali aja!” ucap Bagas sambil membuka pintu.
“Hehehe maaf kebiasaan,” sahut Venus.
“Masuk.”
Venus pun masuk ke dalam dan berjalan membuntuti Bagas hingga sampai depan kamar mandi.
“Kamu mau ngapain? Mau ikut aku mandi? Atau kamu mau aku mandikan?” tanya Bagas sambil mendekat perlahan ke arah Venus.
“Memangnya aku mayat mau kamu mandikan? Aku masih bernafas dengan nyaman aku bahkan bisa mencium bau ketek naga dari kejauhan, jantungku juga masih sehat belum mau mati masa mau kamu mandikan aku yang benar aja,” sahut Venus.
“Ah sudahlah! Aku mau mandi kamu siapkan baju-bajuku!”
Bagas masuk dan langsung membanting pintu kamar mandinya.
“Apaan sih gak jelas banget!”
Semua itu ia letakkan di atas kasur dengan rapi, hingga ia membuka sebuah lemari yang berisi underware.
‘Apa ini harus aku siapkan juga?’ batinnya sambil menenteng underware berwarna hitam.
‘Ini elastis juga, bahannya bagus pasti mahal,' pikir Venus sambil merentangkannya serta menarik-nariknya dengan cukup kuat.
“Kamu ngapain?” ucap Bagas.
Venus berbalik, dan betapa terkejutnya Bagas melihat underware miliknya tengah di pegang oleh Venus.
Dengan cepat Bagas menghampiri dan merebut underware yang di pegang oleh Venus.
“Kamu kan suruh aku siapin baju,” sahut Venus.
“Aku nyari kolor tapi gak ketemu, adanya cuma itu,” sambungnya.
“Untuk bagian ini kamu skip aja. Ini urusanku,” sahut Bagas.
“Lalu aku harus ngapain lagi?” tanya Venus.
“Bikin sarapan kalau kamu bisa,” sahutnya singkat.
“Itu gampang,” sahut Venus.
Ia pun berjalan menuju dapur dan membuka kulkas.
‘Apaan nih isinya cuma telur. Dia tiap hari makan ini? apa gak bisulan?’ pikir Venus.
Tanpa pikir panjang Venus membuat sarapan yang ia bisa untuk Bagas.
“Boleh juga,” ucap bagas ketika melihat sandwich isi telur di atas meja.
“Kamu bisa gak sih masang dasinya kok begitu,” ucap Venus.
Venus pun menghampiri Bagas dan membenarkan dasi yang dikenakannya, dengan piawai Venus membuat simpul dasi hingga terlihat rapi.
Usai sarapan Bagas dan Venus keluar apartemen dan menuju kantornya, saat sampai di pintu masuk semua mata tertuju pada Venus.
Wanita cantik berkaki jenjang itu berjalan beriringan dengan Bagas di mata orang lain mereka berdua bukan terlihat seperti bos dan asisten melainkan seperti pasangan.