
“Pak Bagas, pertemuan anda dengan pak Haris sekitar tiga jam lagi,” ucap Adam kepada Bagas di sambungan telepon.
“Baiklah,” sahutnya.
Telepon pun di tutup, Bagas tengah bersiap di kamarnya kali ini ia berpakaian sangat rapi.
Begitu pula dengan Venus, Bagas sudah menyiapkan gaun untuk Venus pakai untuk menemaninya bertemu dengan pebisnis terkaya nomor lima di Asia itu.
Tidak lama ini Bagas menjalin relasi dengan pebisnis tersebut, mereka berencana bekerja sama membangun sebuah perusahaan di bidang industrial.
Sebenarnya data yang Venus curi bukanlah data yang terlalu merugikan Bagas, data itu hanyalah segelintir dari vendor-vendor kecil yang ia terima bergabung dalam bisnisnya.
Bahkan Bastian pun sebenarnya tidak terlalu mengetahui bisnis apa saja yang Bagas miliki, karena semua data bisnis di kelola oleh Bagas sendiri dan di simpan rapi oleh Desta adiknya.
Hal itu untuk meminimalisir kemungkinan pencurian data penting perusahaannya.
Beberapa orang tengah berkumpul di kamar Venus, mereka memilik tugasnya masing-masing. Kali ini Bagas memilihkan dress yang lebih santai untuk Venus. Dress berwarna peach itu membuat kesan feminim pada Venus.
Tatanan rambut pendeknya pun di biarkan terurai dengan make up tipis.
Tidak lupa Bagas juga memilihkan tas serta higheels untuknya.
‘Apa setiap hari aku harus memakai ini?’ batin Venus.
Tidak lama Bagas tiba-tiba masuk ke dalam kamar Venus.
“Sudah siap?” tanya Bagas.
“Kita mau kemana sih?” tanya Venus.
Bagas terpana melihat Venus dengan dandanan sedikit feminim itu, wajahnya yang cantik serta manis itu membuat Bagas tak henti-hentinya menatap ke arah Venus.
“Bagas! Bagas!” panggil Venus.
Seketika Bagas tersentak dan langsung mengalihkan pandangannya, “ Ka-kalau sudah siap ayo berangkat,” ucapnya sedikit gelagapan.
Mereka pun berjalan ke luar, Venus begitu anggun hingga membuat para pelayan yang ada di rumah Bagas terpana melihatnya.
“Kita akan minta restu,” ucap Bagas.
“Ma-maksud kamu ke rumah orang tua kamu?” ucap Venus terkejut.
“Gak ... Aku gak siap kita pergi nanti aja,” sambung Venus sembari berbalik ingin kembali.
Namun Bagas menariknya dan memaksanya masuk ke dalam mobil, wajah Venus berubah menjadi sangat panik.
“Kamu kenapa gak bilang kalau kita bakalan ketemu orang tua kamu?” tanya Venus.
Tanpa menjawab, Bagas hanya tersenyum lalu memegang tangan Venus dengan erat.
Mobil terus melaju ke sebuah restoran mewah milik Bagas, saat sampai di sana Bagas langsung menggandeng Venus dan masuk ke ruang VVIP.
Mereka berdua berjalan menuju sebuah pintu besar, di depannya ada dua orang penjaga yang siap untuk membukakan pintu untuk mereka.
Saat Venus dan Bagas masuk, ruangan itu masih kosong belum ada seorang pun di sana.
Bagas menarik kursi untuk Venus dan Venus pun duduk di kursi itu.
Sekitar lima menit mereka menunggu, pintu itu terbuka. Sepasang suami istri masuk ke dalam ruangan tersebut. Bagas langsung berdiri untuk menyambut mereka.
“Selamat datang pak Haris,” ucap Bagas menjabat tangan pria itu.
Sementara Venus berdiri perlahan menatap lirik ke arah pasangan suami istri tersebut. Matanya langsung berkaca-kaca seakan tidak percaya dengan apa yang ada di hadapannya.
Venus hanya bisa terdiam seakan kehilangan kata-kata.
“Perkenalkan pak Haris Ibu Rosa, ini calon istri saya, namanya Venus,” ucap Bagas.
“Ve-Venus,” ucap istri pria itu.
Wanita berumur namun masih terlihat cantik itu mendekati Venus perlahan, matanya dan mata Venus saling bertemu seakan mereka memiliki kontak batin yang kuat.
Rosa mengusap wajah Venus dengan lembut, “Saya juga memiliki anak perempuan bernama Venus, dia cantik, cerewet namun sangat pintar. Melihatmu saya seperti melihat anak saya sendiri,” ucap Rosa dengan mata yang sedikit berkaca-kaca.
“Andai saja anak saya masih hidup mungkin sudah seusia kamu,” sambungnya.
Rosa menghela nafasnya, sedangkan Venus menyembunyikan rasa terkejut dan bahagianya itu dalam hatinya.
‘Jadi mereka masih hidup, syukurlah,' batin Venus.
“Baik silahkan duduk pak Haris dan Ibu Rosa,” ucap Bagas memecah suasana haru itu.
Bagas pun duduk di samping Venus, Venus duduk perlahan Bagas dengan cepat menggenggam tangan Venus dengan erat.
Sambil menikmati makanan, mereka berbincang mengenai bisnis yang akan mereka dirikan bersama.
“Suatu kehormatan bagi saya karena anda mau bekerjasama dengan saya,” ucap Bagas.
“Saya memilih anda bukan tanpa alasan, saya tahu dan percaya dengan kemampuan anda yang dapat mengembangkan bisnis hingga berkembang,” ucap Haris.
Venus sedari tadi hanya menatap Rosa, begitu pula sebaliknya.
“Calon istrimu sangat cantik sangat serasi dengan anda,” puji Rosa.
“Oh ya, apa anda berdua merestui kami berdua?” tanya Bagas tiba-tiba.
“Tentu, kalian sangat serasi. Seandainya anakku ada pasti secantik dia,” ucap Rosa memuji Venus.
“Baiklah kalau begitu, aku sudah mendapat restu,” ucap Bagas tersenyum.
Venus tiba-tiba berbisik kepada Bagas, “Apa maksud semua ini?”
“Kamu akan melihatnya nanti,” sahut Bagas.
Tiba-tiba Adam masuk ke dalam ruangan dan memberikan sebuah amplop putih kepada Bagas lalu Adam kembali keluar.
Bagas membuka amplop tersebut yang berisi selembar kertas, isinya adalah hasil dari tes DNA yang Bagas lakukan diam-diam.
Saat membacanya Bagas tersenyum lalu memasukkan kembali surat tersebut ke dalam amplop putih itu.
Semua hidangan sudah habis mereka makan hingga hidangan penutup pun telah di berikan.
Bagas tiba-tiba berdiri lalu berjalan ke belakang Venus, tangannya mengusap lembut bahu Venus.
“Ibu Rosa apa boleh saya bertanya?” ucap Bagas.
“Tentu silahkan,” sahutnya.
“Kapan terakhir kali anda bertemu dengan putri anda?”
Rosa terdiam sejenak, ia sedikit kaget dengan pertanyaan Bagas namun tetap menjawabnya.
“Dulu kami memiliki dua orang anak, yang pertama perempuan bernama Venus dan yang kedua kami memberi nama Orion. Saat itu Mas Haris di fitnah oleh seorang wanita bernama Agnes,” tuturnya.
“Difitnah?” ucap Venus.
“Ya, wanita itu menyusun skenario yang sangat rapi seakan-akan dia telah dihamili oleh Mas Haris, dan mau tidak mau Mas Haris harus menikahinya. Singkat cerita Mas Haris tiba-tiba mengalami kecelakaan dan menghilang tanpa ada yang menemukan jasadnya. Sebulan kemudian Agnes datang dan menuntut semua aset milik saya dan Mas Haris di alih nama menjadi namanya.”
“Agnes? Sepertinya saya pernah mendengar nama itu. Apa dia pemilik restoran kecil di pinggiran kota?” tanya Bagas.
“Benar dia orangnya,” sahut Haris.
“Lalu apa yang terjadi setelah itu?” tanya Bagas.
“Agnes datang bersama orang suruhannya, dia mengancam akan membunuh saya serta anak-anak saya. Namun saya tetap menolak tapi tetap saja ia memaksa dan menyiksa saya hingga saya tak sadarkan diri. Saat bangun saya sudah berada di rumah sakit dan anak-anak saya serta berkas penting menghilang,” tuturnya.
“Lalu pak Haris?” tanya Bagas.
“Mobil saya masuk ke dalam jurang tapi saat itu saya bisa keluar dari mobil dan berjalan masuk ke dalam hutan hingga saya di selamatkan oleh orang yang tinggal di dalam hutan, mereka merawat dan mengobati saya hingga sembuh.”
“Bagaimana? Kamu sudah dengarkan,” ucap Bagas kepada Venus.
Venus yang sedari tadi menahan kesedihan dan air matanya akhirnya menyerah, air matanya mengalir deras ia menangis begitu lirih.
“Mama ... Papa,” ucap Venus.
Rosa yang mendengar ucapan itu pun langsung berdiri mendekati Venus begitu pula dengan Haris.
Bagas kembali mengeluarkan amplop putih itu dari saku jasnya dan memberikannya kepada Rosa.
“Maaf saya lancang terhadap anda, tapi saya yakin anda akan menerimanya,” ucap Bagas sembari memberikan amplop itu kepada Rosa.
Rosa pun membuka amplop itu dan membaca isinya. Seketika tangis Rosa pecah dan langsung memeluk Venus dengan sangan erat.
“Venus! Kamu Venus anakku!” teriaknya histeris sambil menangis.
Rosa bahkan berteriak histeris sembari memeluk Venus, ia tidak menyangka jika anaknya yang hilang belasan tahun yang lalu kini berada di hadapannya.
Haris pun langsung membaca isi dari amplop itu, ia langsung mundur dan terduduk lemas di lantai karena mengetahui perempuan cantik yang menjadi calon istri Bagas itu adalah Venus anaknya.
Bagas dengan sigap membantu Haris untuk berdiri, dan mengambil kursi lalu mendekatkannya ke sebelah Venus.
Dengan tangan yang gemetar serta linangan air mata Haris langsung memeluk Venus.
Tangis mereka pecah, mereka saling berpelukan melepas rindu. Anak yang selama ini mereka kira sudah tiada ternyata masih hidup dan tumbuh menjadi perempuan yang sangat cantik.