My Sugar My Precious

My Sugar My Precious
Pergi meninggalkan Villa



“Kamu ambil data itu waktu kamu hanya dua hari mengerti!” bentaknya dalam telepon.


Telepon langsung terputus, dengan berat hati Venus langsung berkemas dari Villa saat itu juga.


Ia keluar melompat dari jendela, dengan pakaian serba hitam serta mengenakan topi Venus berlari keluar.


Sebelumnya ia sudah meminta Leon untuk menjemputnya di dermaga di kota itu. Venus memanggil taxi dan berangkat menuju Dermaga.


Perjalanan memakan waktu satu jam dari villa menuju dermaga. Di perjalanan Venus merasa bimbang.


Hatinya ragu dan ingin rasanya menentang perintah itu. Namun hal itu tidak bisa Venus lakukan lantaran hutang budi kepada bosnya dulu.


Beberapa kali Venus menghela nafas dan meyakinkan diri serta hatinya untuk tidak peduli dengan Bagas.


Hingga sampai di dermaga, Leon sudah menunggunya dengan sebuah speed boad. Tanpa pikir panjang Venus pun naik ke speed boat tersebut.


speed boat pun melaju meninggalkan dermaga tersebut.


“Kamu ke sini naik apaan?” tanya Leon.


“Pesawat,” sahutnya sambil bersandar menikmati angin.


“Hah? Bukannya kamu phobia naik pesawat?” ucap Leon.


“Ya gimana lagi. Dan akhirnya aku tahu-thu udah ada di rumah sakit,” sahut Venus.


“Tapi kamu sudah baikan kan?” tanya Leon.


Venus hanya menganggukkan kepalanya tanpa menjawab perkataan Leon.


“Bukannya kamu di beri waktu lama, kenapa kok sekarang mendadak?” tanya Leon.


“Aku gak tahu. Ditambah lagi aku masih belum yakin dengan sistem keamanan di sana,” sahut Venus.


“Aku bakalan bantu kamu,” ucapnya.


“Gak perlu, misi kamu kan juga belum selesai.”


Venus duduk termenung di temani oleh dinginnya hembusan angin laut, lajunya speed boat seakan membelah lautan yang sepi sesekali speed boat itu bergoyang karena hempasan ombak yang cukup kencang malam itu.


Hingga mereka berhenti di sebuah dermaga, Venus dan Leon pun naik ke dermaga dan berjalan menuju sebuah mobil hitam yang terparkir di dekat dermaga.


Mereka berdua pun masuk, mobil melaju dengan kecepatan tinggi melewati jalanan yang sepi mengingat saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 02.00 pagi.


“Kami kalau ngantuk tidur aja, perjalanan kita kurang lebih empat jam,” ucap Leon.


“Gak kok, aku gak ngantuk,” sahut Venus.


Dalam mobil Venus mempersiapkan perlatan yang akan ia gunakan untuk menerobos gedung perkantoran tersebut dan menyelinap masuk ke dalam ruang kerja Bagas.


“Kamu baik-baik aja kan?” tanya Leon.


“Iya, memang kenapa?” tanya Venus.


“Kataknya kamu gak semangat seperti biasanya, apa ada masalah?” tanya Leon.


“Gak kok aman,” sahut Venus tersenyum.


Waktu terus berjalan, perlahan sang surya mulai menampakkan bias cahayanya. Dari balik kaca jendela mobil Venus memandang ke arah matahari terbit tersebut.


‘Seandainya aja orang tuaku masih hidup mungkin aku gak bakalan hidup seperti ini,' batin Venus.


‘Kenapa waktu itu aku pergi, harusnya aku tetap di rumah dan menolong mama,' pikir Venus lagi.


Mobil terus melaju, hingga memasuki perkotaan.


“Antar aku ke apartemen aja,” pinta Venus.


“Ya sudah.”


Venus pun di antar le apartemennya, ia berencana untuk mengemas semua barang serta mengambil mobilnya.


Mobil pun sampai di depa  apartemen, Venus keluar dari mobil.


“Makasih ya kamu sudah mau bantu aku,” ucap Venus.


“Apa sih yang gak buat kamu,” sahut Leon.


“Hati-hati ya. Dan semoga berhasil,” ucap ya memberi semangat kepada Venus.


Venus pun tersenyum kecil, “makasih ya.”


Venus bergegas masuk ke dalam apartemen, ia naik ke dalam lift dan menuju kamar apartemennya yang berada di samping kamar Bagas.


Ia pun mengemas semua barang yang sempat ia bawa ke apartemen itu, Venus pun turun lalu masuk ke dalam mobil sembari memasukkan semua barangnya dan melaju menuju rumah sederhananya di pinggiran kota.


Di sisi lain, Bagas yang baru saja bangun tidur lantas bersantai sembari menikmati segelas kopi. 


Hingga waktu menunjukkan pukul 10.20 pagi, ia merasa Venus tak kunjung keluar kamar. Bagas pun memutuskan untuk membangunkannya.


Bagas pun mengetuk pintu kamar Venus beberapa kali.


Tok tok tok! 


“Venus? Venus?” ucap Bagas sembari mengetuk pintu.


Beberapa kali Bagas mengetuk namun tidak ada jawaban, Bagas pun mencoba membuka pintu kamar Venus dan ternyata itu tidak terkunci.


Saat Bagas masuk kamar itu kosong, dengan cepat Bagas memeriksa kamar mandi namun di sana juga kosong.


Bagas pun melihat bawang-barang Venus sudah tidak berada di kamar itu. Bagas pun keluar kamar dan bergegas mengambil ponselnya lalu menghubungi Venus.


Bagas melakukan panggilan telepon namun nomor Venus sudah tidak aktif.


Bagas menggenggam erat ponselnya, ia memerintahkan bawahannya untuk memeriksa CCTV serta menyelidiki Venus.


Ia pun kembali menghubungi seseorang, yaitu saudaranya Desta.


“Tumben kamu nelpon aku,” ucap Desta di balik telepon.


“Aku butuh bantuan kamu,” ucap Bagas.


“Hah? Bantuan apa? Kayaknya serius banget.”


“Venus tiba-tiba pergi dan menghilang. Aku ingin kamu menyelidikinya,” pinta Bagas.


“Ya sudah. Bisa kamu berikan dulu nomor ponsel Venus biar aku lacak keberadaanya.”


Bagas pun mengirimkan nomor ponsel Venus kepada Desta.