My Sugar My Precious

My Sugar My Precious
Menjenguk Ronald



Suasana haru berangsur berubah menjadi kebahagiaan, namun ada satu hal yang membuat mereka masih merasa sedih yaitu mereka tidak tahu dimana keberadaan Orion.


Saat itu Venus masih kecil dan tidak mengingat siapa dan bagaimana wajah orang yang membawa Orion.


Rosa tak henti-hentinya mengucap syukur dan berterima kasih kepada Bagas.


“Jadi sejak awal kamu sudah mengetahuinya?" tanya Venus.


"Sebenarnya aku belum tahu, tapi saat aku bertanya siapa orang tuamu di situ aku cukup terkejut," sahut Bagas.


"Jadi maksudmu meminta restu adalah ini?" 


"Ya, bukankah aku harus meminta restu kepada orang tua dari calon istriku terlebih dulu," sahut Bagas.


Rosa dan Haris tersenyum simpul melihat putri mereka mendapatkan orang yang sangat peduli terhadapnya, mereka juga tidak menyangka jika saat ini mereka akan di pertemukan kembali dengan Venus yang sudah tumbuh dewasa.


"Lalu kapan kalian akan melangsungkan pernikahan? Saya dan suami saya sangat setuju dan merestui kalian berdua," ucap Rosa.


"Secepatnya, bahkan jika kalian minta hari ini pun saya akan menyanggupinya."


Venus menyikut perut Bagas, "Kamu jangan bercanda! Kamu pikir bisa semudah itu," ucap Venus.


"Lalu Venus, apakah kamu mau pulang bersama mama dan papamu ini?" tanya Haris.


Venus menatap ke arah Bagas, ia masih bingung karena Venus terbiasa hidup sendirian.


"Ikutlah untuk beberapa hari, aku akan mengirim beberapa orang untuk menjaga kalian," ucap Bagas.


"Dan kamu tidak boleh membantahnya," sambung Bagas sambil menatap ke arah Venus.


Venus terus menempel kepada Rosa, rasa rindunya yang begitu dalam kini terbayar sudah. 


Acara pertemuan itu pun berakhir, Bagas meninggalkan Venus bersama orang tuanya dan mengirim beberapa orang untuk mengawal mereka.


Walau Bagas tahu Venus bisa menjada dirinya, namun tidak kecil kemungkinan Bastian akan mudah menemukan Venus saat ini. Mengingat Rosa dan Haris adalah pebisnis terkenal pasti banyak wartawan yang akan meliput mereka nantinya.


Hal itu lah yang di pikirkan oleh Bagas dan membuatnya untuk terus tetap waspada.


Bagas masuk ke dalam mobilnya, saat itu ponselnya berdering dan itu panggilan dari orang suruhannya.


"Bagaimana?" tanya Bagas.


"Kirimkan aku alamat rumah sakitnya."


"Baik Bos," sahutnya.


Bawahannya itu pun langsung mengirimkan alamat rumah sakit kepada Bagas, saat itu juga Bagas memacu mobilnya untuk menuju rumah sakit.


Sesampainya di rumah sakit itu, dua orang bawahannya langsung menyambutnya lalu mengantarkan ke ruang rawat tempat dimana Ronald di rawat.


Bagas pun masuk ke dalam ruangan itu, terlihat Ronald sudah sadar namun tidak terlalu bisa banyak bergerak.


Saat melihat Bagas masuk Ronald terkejut.


"Tidak perlu terkejut seperti itu," ucap Bagas.


"Aku sudah mengetahui semuanya, Venus aman bersamaku."


"Syukurlah anak itu selamat," ucapnya dengan nada yang masih lemas.


"Aku ke sini hanya ingin mengatakan untuk tidak memberi perintah kepada Venus lagi," ucap Bagas.


"Sebenarnya Venus sudah aku bebas tugaskan saat sebelum aku mengirimnya le Swiss. Aku tidak ingin anak kesayanganku itu terluka lagi," tutur Ronald.


"Lalu dimana dia sekarang? Apa dia terluka?" tanya Ronald.


"Venus sudah menemukan orang tuanya dan hari ini aku izinkan dia tinggal beberapa hari dengan mereka," sahut Bagas.


"Syukurlah. Aku turut senang mendengarnya. Sebenarnya saat pertama kali mengetahui siapa orang tua Venus aku sudah tahu kalau mereka masih hidup. Mereka masih hidup, namun saat itu untuk menemui mereka sangat sulit, apa lagi semua orang tahu jika aku ini adalah rentenir judi," tuturnya.


"Baiklah kalau begitu, aku akan mengirimmu undangan secepatnya jadi kamu harus datang dan menyaksikan anak kesayanganmu itu mengenakan pakaian pengantin," ucap Bagas sembari berdiri.


"Maksudnya kalian akan menikah?" tanya Ronald terkejut.


Bagas beranjak pergi dan berjalan menuju pintu, "tunggu saja undangan dariku."


Bagas keluar ruangan dan meninggalkan rumah sakit itu, sebelumnya Bagas meminta pada tim dokter untuk merawatnya dengan baik hingga Ronald sembuh.


"Semua sudah beres, sekarang tingga aku memberi pelajaran kepada Bastian sialan itu."