My Sugar My Precious

My Sugar My Precious
Masa lalu Venus



Raut sedih serta penyesalan terlihat jelas dari wajah Lingga, baru satu tahun ia bertemu dengan adiknya tersebut. Namun hari ini ia harus menelan pil pahit, ia bertatapan dengan adiknya dalam kondisi sudah tidak bernyawa lagi. 


Desta dan juga Bagas mulai menyusun rencana balas dendam untuk Bastian. Bagas juga memerintahkan para bawahannya untuk segera mencari keberadaan agen mata-mata yang dikirim oleh Bastian.


“Cari dan selidiki siapa mata-mata yang dikirim oleh Bastian sialan itu," pinta Desta pada bawahannya. 


Sementara itu, Venus tidak merasa khawatir atau pun takut akan pergerakan Bagas serta Desta karena yang mengetahui siapa mata-mata yang dikirim hanyalah bos agen tersebut. 


Bahkan Bastian tidak mengetahui siapa yang menjadi mata-matanya, ia hanya akan menerima informasi lewat telepon atau pun pesan singkat. 


Karena kerahasiaan agen itu sangat terjaga dan tidak ada seorang pun yang boleh mengetahuinya termasuk klien. 


Semua orang berkumpul untuk memakamkan Andre termasuk ayah Lingga yang saat itu terbang langsung dari luar negeri. 


Langit mendung dan berangin, seakan menggambarkan suasana hati mereka yang berkabung.


Setelah memakamkan Andre, Lingga dan ayahnya itu duduk bersama di sebuah sofa. Bagas, Venus dan juga Desta memilih untuk meninggalkan mereka berdua. 


“Kenapa kamu tidak bilang kalau kamu menemukannya?” tanya pria bertubuh tegap dengan wajah ditumbuhi berewok itu.


“Untuk apa? Bukannya Ayah tidak peduli,” sahut Lingga.


“Bagaimana pun juga Andre adalah anakku juga,” sahutnya. 


“Aku bertahun-tahun mencarinya, sdan sekalinya bertemu malah tinggal nama,” sambungnya lagi.  


Lingga hanya terdiam, ia mendengus dan berdiri berjalan meninggalkan pria bernama Darman itu. 


“Siapa yang melakukannya?” tanya Darman. 


Mendengar pertanyaan itu langkah Lingga terhenti dan berbalik, “Bastian.”  


Mendengar nama itu mata Darman menuju ke arah Bagas, “Kamu sudah aku peringatkan berkali-kali jangan berurusan dengan keluarga mafia itu!” ucapnya dengan nada tinggi.


“Lalu yang ada di hadapanku ini siapa? Ayah bahkan santai membunuh orang degan keji. Lalu apa bedanya,” sahut Lingga yang pergi meninggalkan Darman. 


“Lingga ... aku belum selesai bicara!" teriak Darman.


Lingga berjalan menghampiri Bagas, “aku ikut kamu, aku muak melihat pria tua itu,” ucap Lingga. 


Tanpa berkata apa pun merek semua keluar dari rumah itu dan meninggalkan Darman sendirian. 


Dalam perjalanan Bagas kembali bertanya dengan keputusan Lingga itu. 


“Kamu serius ingin tetap ikut?” tanya Bagas. 


“Memang aku harus kemana lagi?” Lingga balik bertanya. 


Bagas menghela nafas pelan dan memacu mobilnya lebih cepat. Kali ini mereka tidak pergi ke apartemen melainkan rumah Bagas.


Mobil melaju menyusuri padatnya jalanan kota, dengan lihai Bagas menyalip satu per satu kendaraan yang menghalangi jalannya. 


Hingga mobil memasuki jalan yang tidak terlalu ramai dan berhenti di sebuah rumah dengan pagar besar serta tinggi berwarna hitam. 


Bagas membunyikan klaksonnya satu kali dan pagar megah itu pun terbuka. 


‘Gila rumahnya gede banget,’ batin Venus. 


Bangunan yang mengusung tema Eropa berdiri megah dengan arsitektur klasik serta pilar-pilar tinggi dan besar menghiasi teras rumah tersebut. 


Di depanya terdapat dua buah patung yang beridi di samping kanan dan kiri pintu besar  seakan menyambut kedatangan mereka semua.


Venus terperangah tidak percaya dengan bangunan yang luasnya hampir setengah dari lapangan sepak bola itu. 


Rumah itu tampak bersih lantainya pun sangat mengkilap, saat mereka semua masuk semua lampu menyala dengan sendirinya.


Mereka pun duduk di sebuah sofa berwarna hitam. 


‘Rumah segede ini masa gak ada TV dan yang lainnya,’ batin Venus yang melihat sebuah meja panjang melintang di depan sofa. 


“Kalian santai saja dulu, aku mau ganti baju sebentar,” ucap Bagas. 


Venus dan Lingga menyenderkan tubuhnya ke sofa.


“Sejak kapan kamu bisa berkelahi?” tanya Lingga memecah keheningan diantara mereka berdua. 


“Sejak kecil mungkin,” sahut Venus. 


“Pasti di sekolah kamu paling bandel dan suka berantem,” ucap Lingga. 


“Aku berkelahi bukan untuk sok jagoan, tapi untuk bertahan hidup,” sahut Venus. 


“Aku juga punya adik laki-laki, namanya Orion tapi tiba-tiba dia menghilang,” sambung Venus.


“Kenapa kalian di beri nama seperti nama planet?” tanya Lingga. 


"Kenapa?"


"Karena mereka sudah berada di tempat yang gak mungkin aku capai, kecuali aku mati mungkin bisa," sahut Venus. 


Seketika Venus kembali teringat dengan masa kelamnya saat masih berumur delapan tahun. 


Malam itu Se gerombolan orang berpakaian preman menerobos masuk ke dalam rumahnya sambil membawa sejumlah senjata tajam. 


Saat itu Venus tengah berada di kamar bersama Orion adiknya. Dari luar kamar terdengar suara gaduh. Bentakan demi bentakan terdengar jelas. 


Venus memberanikan diri keluar dari kamar dan mengintip di balik pagar pembatas di lantai dua rumahnya. 


Di sana terlihat Agnes, istri kedua dari ayahnya itu juga berada di sana, wanita berperawakan langsing itu berdebat hebat dengan Rosa ibu dari Venus. 


“Kamu tanda tangani surat itu atau aku akan suruh mereka menghabisi kalian,” ucap Agnes. 


“Aku tidak sudi! Kamu tidak berhak atas asetku!” ucap Rosa.


“Biarpun aku mati, kalian tidak akan bisa merebutnya!” sambung Rosa. 


Plakk! Tamparan mendarat di pipi Rosa. 


Rosa meringis namun masih sempat tersenyum ke arah Agnes. 


Karena takut, Venus perlahan masuk ke dalam kamar dan mengajak Orion keluar. 


“Sssttttt! Jangan bersuara di luar ada orang jahat kita harus sembunyi,” ucap Venus saat itu.


Dengan jemari yang gemetar dan dingin Venus menuntun Orion keluar dari kamar dan mengendap-endap turun ke lantai satu lalu pergi ke pintu belakang. 


Venus berlari bersama Orion menuju pintu gerbang besar rumahnya. Saat akan sampai di pos jaga ia terkejut melihat para security di pos itu sudah di bantai dengan keji.


Terlihat genangan darah di lantai itu. Sambil menangis Venus keluar  dan berlari berharap ada yang akan membantu mereka.   


Sepinya jalanan waktu itu menyulitkan Venus untuk meminta bantuan hingga ada seoran pria yang menghentikan mobilnya karena melihat Venus dan adiknya itu terduduk menangis  di pinggir jalan. 


“Kenapa kalian menagis?” tanya pria itu.


“Ada orang jahat di rumah kami dan mama di pukul,” ucap Venus. 


Orion dan Venus pun di ajak masuk ke dalam mobil, bukannya menuju rumah Venus pria itu malah membawa Venus dan Orion ke sebuah tempat dengan tembok besar serta di kelilingi oleh kawat berduri di atasnya. 


“Orang tua kalian mungkin sudah mati sekarang, jadi sebaiknya kalian ikut aku.”


“Gak ... gak mau! Aku mau pulang!” teriak Venus kecil histeris.  


“Om kami mau pulang, jangan bawa kami,” ucap Orion. 


Pria itu tidak memedulikan tangisan mereka berdua bahkahn pria itu melayangkan pukulan ke wajah Venus hingga membuatnya tak sadarkan diri. 


Mereka berdua dimasukkan ke sebuah ruangan yang mirip dengan penjara, di dalamnya hanya terdapat sebuah tempat tidur usang dan kamar mandi.  


Saat Venus sadar ia langsung berdiri dan berteriak memohon untuk dilepaskan namun tidak ada yang mendengar jeritan kecilnya itu. 


Mau tidak mau Venus beserta adiknya itu harus bertahan, mereka akan di beri makan dua kali sehari dengan menu seadanya bahkan tak jarang makanan basi di berikan kepada mereka. 


Hingga suatu hari terlihat pria berpakaian rapi datang bersama dengan orang yang membawa mereka ke dalam tempat itu. 


Pria itu memperhatikan Orion dengan seksama. 


“Aku pilih anak itu,” ucapnya sambil menunjuk Orion. 


Dengan penuh paksaan Orion di tarik dari pelukan Venus dan di berikan kepada pria itu. 


Terdengar jerit tangis Orion yang begitu pilu. 


“Jangan bawa adik aku om!” ucap Venus sambil hiteris. 


Tangis kecil itu seakan tidak ada artinya, pria itu tetap membawa Orion yang tengah histeris.


Venus hanya bisa memohon dibalik kamar beralis besi itu tanpa bisa berbuat apa-apa. 


Sepanjang hari Venus menangisi adiknya itu, setiap pengantar makanan datang ia selalu bertanya kemana perginya adiknya itu hingga ia mendapatkan jawaban yang membuatnya menyesali hidupnya. 


“Adikmu sudah aku jual dengan orang kaya itu. Jadi kamu jangan pernah bertanya lagi,” ucapnya.


Satu tahun berlalu, praktik penjualan anak terendus polisi dan tempat berdinding beton itu pun di geledah polisi. 


Saat itu polisi menemukan Venus dengan kondisi tubuh kurus dan juga lemas.


Berita pun menyebar hingga di tayangkan di TV. Saat itulah Agnes langsung mendatangi kantor polisi dan mulai bersandiwara.