My Sugar My Precious

My Sugar My Precious
Memantau Keadaan



Venus berjalan santai mengelilingi kantor tersebut, Venus juga berusaha mengingat rute-rute koridor yang tidak terkena CCTV. 


Venus terus memperhatikan setiap jengkal ruangan setiap lantai. 


‘Gedung ini gede banget,' batin Venus.


Ia juga mencoba menyusuri tangga darurat dari bawah hingga lantai paling atas.


Venus mengakui jika gedung itu memiliki sistem keamanan yang ketat serta canggih. Bahkan jika ingin masuk untuk sekedar bertamu saja mereka menyediakan pengawas khusus yang ditunjuk oleh Bagas langsung.


‘Gila, ini susah buat nembus sendirian ke kantor ini,' batin Venus.


Venus juga mempelajari beberapa sistem keamanan yang ada di gedung pencakar langit tersebut. Ia bahkan melihat-lihat ke bagian operator untuk memastikan lokasi-lokasi yang ia ingat tidak masuk rekaman kamera CCTV.


Setelah ia memastikan hal tersebut Venus pun kembali ke ruangan Bagas, saat masuk ke dalam lift terlihat ada seorang karyawan juga berada di dalam lift tersebut.


Mereka saling menyapa satu sama lain dan melempar senyuman.


Karyawan itu memperhatikan wanita tinggi semampai berwajah cantik serta bermata tajam tersebut. Merasa di perhatikan Venus pun menoleh dan tersenyum kepadanya.


“Mbak pacar Pak Bagas ya?” tanya karyawan itu sopan.


Venus pun menggelengkan kepalanya, “Bukan, saya asisten pribadinya,” sahut Venus dengan tersenyum.


“Asisten? Saya kira pacarnya.”


Tidak lama ponsel Venus berdering, dari layar terlihat nomor dengan nama kontak 'hulk'. 


“Apaan?” tanya Venus dalam telepon.


“Ke ruangan  sekarang!”


Tiba-tiba panggilan itu beralih menjadi panggilan video, Venus pun mau tidak mau mengangkatnya.


“Aku lagi di lift nih kalo gak percaya kamu liat aja,” ucap Venus mendekatkan layar ponselya.


“Jangan lama! Aku mau ketemu klien,” sahut Bagas.


“Iya Bos!” ucap Venus sambil mematikan video callnya bersama Bagas.


‘Kenapa sih? Ada yang aneh memang?’ bayun Venus.


Venus masuk ke dalam ruangan Bagas, terlihat Bagas masih sibuk dengan pekerjaanya.


“Loh katanya mau ketemu klien?” tanya Venus.


“Bikinkan kopi!” pinta Bagas.


‘Kampret ini orang, emang aku pembantunya apa,' omel Venus dalam hati.


Venus mendengus lalu berbalik, baru beberapa langkah Venus pergi Bagas kembali memanggilnya dan membatalkan pesanan kopinya.


“Gak jadi. Aku gak suka kopi,” ucapnya.


“Lalu ngapain kamu nyuruh aku bikin kopi?” omel Venus.


“Gak aku lagi pengen nyuruh-nyuruh kamu aja. Ya sudah kamu duduk di sana,” pinta Bagas.


Dengan wajah kesal Venus pun mendaratkan tubuhnya ke sofa sambil menunggu Bagas. 


Sesekali mata Bagas melirik ke arah wanita berambut panjang berkulit putih itu, ia bahkan mengeluarkan senyuman tipisnya secara diam-diam.


Venus yang mengetahu hal itu pun merasa heran dengan sikap Bagas.


“Ngapain senyum-senyu” tanya Venus.


“Hah? Siapa? Aku?” tanya Bagas.


“Gak aku lagi nanyain setan yang ada di samping kamu!” ucap Venus.


Waktu terus berlalu, Bagas dan Venus larut dalam suasana sepi serta senyap, map-map menumpuk tinggi di atas meja kerja Bagas.


‘Banyak banget mapnya, ini udah sore tapi dia belum selesai,' batin Venus.


‘Eh ... Kenapa aku jadi kasihan sama dia coba?’ batin Venus berusaha menepis pikirannya tersebut.


Hingga langit terlihat semakin gelap, sebagian lampu-lampu di kantor tersebut telah dimatikan, Venus yang sedari tadi menunggu Bagas di sofa pun akhirnya tertidur.