My Sugar My Precious

My Sugar My Precious
Pergi ke Bar



Venus kembali ke kamarnya dan kembali beristirahat, sedangkan Bagas memilih untuk duduk di sofa sembari membaca berkas-berkas yang ia terima dari sekretarisnya. 


Keesokan harinya, Bagas dan Venus perg ke pabrik tersebut. Bagas bahkan tidak memberi kabar jika ia akan berkunjung ke sana. 


Mobil berhenti di sebuah tempat dengan pagar beton yang tinggi saat memasuki kawasan itu terlihat sebuah pabrik besar dan luas dengan banyak karyawan di dalamnya. 


Pabrik itu dilengkapi dengan peralatan canggih serta modern. Saat Venus dan Bagas ingin masuk ke dalam pabrik tersebut mereka tiba-tiba dicegat oleh kepala keamanan yang ada di pabrik itu.


“Tunggu!” teriak kepala keamanan itu sembari berlari kecil menghampiri Bagas dan juga Venus. 


“Siapa dan ada keperluan apa kalian memasuki kawasan pabrik ini?” tanyanya. 


Mata Bagas melirik ke arah name tag yang tertera di seragam kepala keamanan tersebut. “Kerja bagus,” ucapnya sembari menepuk pria bertubuh tinggi tersebut. 


“Orang gak jelas di samping saya ini adalah pemilik pabrik ini, ada hal yang harus kami periksa terkait produksi pabrik ini,” ucap Venus. 


“Saya tidak percaya, ada banyak orang datang ke sini mengaku-ngaku pemilik pabrik ini jadi saya tidak bisa mempercayainya begitu saja.”


Bagas pun mengeluarkan kartu nama dari balik jas hitamnya tersebut serta tanda pengenalnya, pria itu pun percaya dan memperbolehkan Bagas dan Venus masuk. 


“Kamu ikut saja dengan saya,” pinta Bagas kepada pria itu. 


“Baik Pak,” sahutnya sembari berjalan beriringan dengan Bagas. 


Sambil berjalan, Bagas membisikkan sesuatu kepada Venus, “Ada gunanya juga aku ajak kamu,” bisik Bagas sambil meniup telinga Venus. 


Plak! Satu pukulan mendarat di lengan Bagas. 


“Aduh sakit!” ucap Bagas pelan sambil mengusap-usap lengannya. 


Tanpa banyak basa-basi Bagas menanyakan perihal pabrik kepada kepala keamanan itu, dengan sigap pria berseragam itu pun menjelaskan apa yang ia ketahui.


Bagas juga meminta  pria itu  untuk mengantarkannya ke bagian direksi yang ada di pabrik tersebut. 


Mereka pun masuk ke sebuah gedung yang ada di samping pabrik. 


“Bukannya ini jam kerja, ke nama manajer dan yang lainnya?” tanya Bagas. 


“I-itu ....”


Pria itu seakan bingung untuk menjawabnya. 


Bagas kembali melihat nametag milik pria itu, “Doni,” ucap Bagas membaca nama yang ada di seragan pria itu. 


“Baik Doni, kamu ceritakan saja saya akan menjamin rahasia ini.”


“Sebenarnya Pak, mereka jarang datang. Apa lagi pak Roni. Dia hanya terus memerintah namun tidak pernah membayar gaji kami sesuai kontrak kerja.”


“Memang biasanya dia dimana?” tanya Venus. 


“Kalau jam segini paling lagi di Bar,” sahut Doni. 


“Di Bar? Di jam begini? Kamu tahu dari mana?” tanya Venus. 


“Karena pak Roni sering minta saya jemput dia.”


Bagas pun langsung meminta alamat Bar yang sering Roni datangi kepada pria itu.


“Tapi ... bapak gak akan bilang kan kalau saya yang kasih tahu.” 


“Kamu berhenti dari pabrik ini dan-“


“Ta-tapi pak saya tidak salah!” ucapnya yang langsung memotong ucapan Bagas.


“Kamu datang ke perusahaan saya, dan jadi pengawal pribadi saya. Kamu bisa berkelahi kan?”


“Bi-bisa pak,” sahutnya dengan wajah semringah. 


“Bagus. Ikut saya sekarang. Karena saya butuh orang tambahan saat ini juga.”


Mereka semua masuk ke dalam mobil dan menuju Bar tersebut, Venus penasaran kenapa Bagas meminta Doni untuk ikut.


“Kok kamu bawa pistol?” tanya Venus. 


“Kita mencari satu orang, tapi sebelum itu kita pasti akan berhadapan dengan banyak orang,” sahutnya. 


“Maksudnya?”


“Kita sekarang sedang masuk ke dalam sarang musuh. Bar ini milik Seno. Dia pasti ada kaitannya dengan Seno,” sahut Bagas yang keluar dari mobil. 


“Kamu gila ya? Kalau tahu sejak awal aku gak bakalan mau ikut,” omel Venus. 


“Mbak biar di dalam mobil saja, biar saya yang ke dalam,” ucap Doni.


“Gak lah, aku ikut masuk aku gak tenang kalau dia sendirian di dalam.”


Venus melepas blazer panjangnya lalu keluar mobil dan menyusul Bagas yang sudah berjalan terlebih dulu di depan.


Di depan pintu masuk Bar, terlihat dua orang berbadan besar berdiri menjaga pintu.


Dua orang itu langsung menahan Bagas untuk masuk lalu ancang-ancang untuk menyerang Bagas.


Bukk Bukk! 


Terdengar suara pukulan yang dilayangkan Bagas kepada dua orang penjaga itu, keduanya masih belum menyerah.


Venus berlari langsung melompat dan  menendang punggung salah satu pria itu hingga tersungkur.


Doni yang melihat serangan mendadak Venus itu pun terkejut, dirinya mengira Venus hanyalah wanita biasa yang sama sekali tidak bisa berkelahi.


Bagas dan Venus menerobos masuk ke dalam Bar tersebut, dan benar saja di sana ada anak buah Seno. Bahkan ia bertemu dengan orang yang sempat membuatnya terluka.


“Kali ini aku akui, gak sia-sia aku ikut kamu,” ucap Venus.


“Memangnya ada yang kamu incar di antara mereka?” tanya Bagas.


“Ada.”


Dalam Bar tersebut begitu banyak wanita penghibur dengan pakaian kurang baham. 


Mereka menggoda beberapa pria ber jas berperut buncit yang duduk di sofa dengan jejeran botol-botol yang ada di atas meja.


Sebagian dari mereka juga menggoda Bagas saat melihat Bagas masuk ke dalam Bar tersebut.


“Ganteng banget, mau aku elus-elus gak,” ucapnya sembari mengusap tubuh Bagas.


“Wow ... ototnya keras banget. Pasti kuat,” ucapnya lagi.


Venus mendengus dan langsung menjambak wanita penghibur tersebut.


“Berisik, banyak omong! Minggir!” ucap Venus sembari mendorong wanita itu hingga jatuh tersungkur di atas meja dengan susunan botol kosong.


Melihat hal itu Bagas hanya tertawa sambil melipat kedua tangannya.


“Maaf pak. Kok dia jadi mengerikan sih?” tanya Doni mendekat ke samping Bagas.


“Itu masih belum seberapa,” sahut Bagas sambil mencari-cari seseorang.


‘Sepertinya orang-orang ini tidak terlalu peduli dengan keributan yang aku buat,' pikir Venus.


Venus melirik seorang pria yang tengah duduk di sofa bersama beberapa orang dan di pangkuannya duduk seorang wanita penghibur. Rupanya kumpulan pria itu adalah anak buah Seno.


‘Banyak banget wanita penghibur di sini,' batin Venus.


Tiba-tiba dari belakang seorang pria merangkul Venus, “Anak baru ya?” ucapnya kepada Venus.


Venus mendengus dan melepas paksa rangkulan dari pria tampan bertubuh tinggi berkulit kecokelatan itu.


“Gak usah sok asik!” ucap Venus ketus.


Tiba-tiba tangan kiri pria itu ingin menelusup ke pinggang Venus namun tangannya itu di tahan oleh Bagas.