
13 jam berlalu, pesawat mendarat di Bandara Internasional Zurich, Venus bergegas keluar dari pesawat saat sudah di pintu keluar Venus menghubungi nomor yang di berikan oleh Leon kemarin.
“Hallo, Mr. Malvin?”
“Gak perlu pakai bahasa inggris, saya juga orang Indonesia,” sahutnya dalam telepon.
“Oh ya. Syukur deh jadi saya gak harus pakai bahasa lain,” sahut Venus.
“Ini pasti Venus kan, saya sudah menunggu di pintu keluar,” ucapnya.
“Oh ya, di mana?”
Venus menoleh ke kanan, terlihat seorang pria yang sepertinya berumur lebih muda darinya tengah berdiri.
Venus pun melambaikan tangannya ke arah pria itu, saat melihat Venus pria itu langsung menghampiri Venus.
“Udah lama nunggu?” tanya Venus.
“Gak juga. Ayo kita langsung ke mobil.”
Pria itu menarik dua koper besar milik Venus dan memasukkannya ke dalam bagasi mobil.
Venus pun masuk ke dalam mobil di ikuti oleh pria bernama Malvin itu.
“Aku sudah mempersiapkan segala sesuatu yang kamu butuhkan di rumah barumu nanti,” ucapnya.
“Terima kasih karena sudah repot-repot membantuku,” sahut Venus.
“Sama-sama, ini pertama kalinya kamu ke Swiss?”
“Ya, bahkan ini kedua kalinya aku menaiki pesawat,” sahut Venus.
“Oh ya,” sahutnya tersenyum.
“Kita mau kemana?”
“Wengen, Desa kecil dengan keindahan yang menakjubkan,” sahutnya.
“Aku pernah lihat desa itu di internet, jadi kita benara akan tinggal di sana?” tanya Venus sekali lagi.
“Ya benar.”
Sementara di tempat lain Bagas tengah bersiap untuk menuju sebuah desa yang sama dengan Venus.
“Pak di saat seperti ini apa tidak masalah berlibur?” tanya Adam.
“Aku sedang malas memikirkan perusahaanku,” sahut Bagas.
Adam pun terdiam mendengar ucapan Bagas.
Dalam benaknya masih terus terbayang Venus, untuk pertama kalinya Bagas memikirkan wanita sampai begitu keras.
Hingga mereka sampai di desa Wengen, udara sejuk dari pegunungan Alpen itu membuat Bagas merasa bebannya sedikit berkurang di tambah lagi dengan pemandangan lembah-lembah yang hijau membuat pikirannya sedikit relax.
***
Keesokan paginya dengan cuaca sejuk di selimuti sedikit kabut Bagas tengah berlari santai mengelilingi jalan yang ada di desa itu.
Hingga ia melihat seorang wanita tengah berdiri di pinggir jalan sembari memandangi sungai dengan air yang jernih itu.
Ia merasa tidak asing dengan wanita tersebut, ia perlahan mendekat dan benar saja wanita cantik berkulit putih itu adalah Venus.
“Venus ... Venus!” teriaknya.
Venus menoleh ke sumber suara itu dan betapa kagetnya Venus melihat Bagas.
“Bagas.”
Venus langsung berlari menghindari Bagas, dengan cepat Bagas mengejar Venus hingga mereka sampai di sebuah rumah.
“Kenapa kamu pergi?” ucap Bagas.
“Itu ... Karena ada hal yang harus aku selesaikan,” sahut Venus.
“Apa yang harus kamu selesaikan saat pergi dengan cara seperti maling?”
“Apa kamu tahu, aku mencarimu kemana-mana, bahkan seluruh anak buahku aku kerahkan untuk mencarimu,” sabung Bagas.
“Venus aku mohon kembalilah.”
“Bagas kamu jangan bodoh, kita bertemu itu adalah suatu ketidak sengajaan. Aku dan kamu bahkan tidak saling kenal.”
“Pergilah lupakan pertemuan kita,” sabung Venus.
Venus pun bergegas membuka pintu untuk masuk ke dalam rumah itu, namun tiba-tiba Bagas menariknya hingga membuatnya berbalik ke arah Bagas.
“Aku suka sama kamu.”
Venus langsung menatap ke arah Bagas, ia bahkan tak mampu berkata-kata. Pernyataan itu membuatnya terdiam mematung.
“Sepanjang hari aku selalu memikirkan kamu Venus, aku hampir gila karena kamu tiba-tiba menghilang,” sambungnya.
“Maaf aku gak bisa.”
Venus menepis tangan Bagas dan langsung masuk ke dalam rumah itu lalu menguncinya.
“Venus! Venus!” teriak Bagas dari depan pintu.
“Aarrrggh sialan!” umpat Bagas.
Venus mengintip di balik jendela, terlihat Bagas pergi menjauh dari rumah itu Venus pun akhirnya dapat bernafas lega.
Namun tidak dengan Bagas, ia menghubungi seseorang dan memerintahkan untuk segera mendatanginya di tempat itu dengan segera.
‘Kalau kamu tidak mau, dengan terpaksa aku akan membawamu Venus,' batin Bagas.
Karena ambisinya untuk memiliki Venus itu membuat sikap Bagas berubah dengan cepat, sekarang Bagas terlihat seperti hewan buas yang siap menerkam siapa saja yang ada di depannya.
Malam harinya Venus duduk santai sambil menikmati teh chamomile saat itu udara cukup dingin dan sedikit berangin.
Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu.
Tok tok tok
Venus langsung membuka pintu, terlihat ada banyak orang di depan pintu, tanpa basa-basi langsung menyerang Venus.
Venus pun berusaha melawan semampunya karena mengingat luka yang ia derita belum sembuh total.
Akibat luka itu membuat pergerakannya terganggu, hingga ia mendapatkan sebuah tendangan tepat di bagian lukanya.
Seketika Venus langsung mengerang kesakitan, sweater berwarna biru muda itu kini di penuhi oleh noda darah yang mengalir dari luka Venus sebelumnya.
Seseorang langsung mengangkat Venus, dan membawanya masuk ke dalam mobil.
Di dalam mobil Venus sudah tidak sadarkan diri, mobil itu melaju menuju sebuah tempat.
“Bos kami sudah bawa dia,” ucapnya.
“Venus!” pekik Adam.
“Bawa dia ke kamarku dan ikat dia dengan kuat!”
“Baik Bos.”
“Pak Bagas, ini ada apa? Kenapa Venus bisa berada di sini?”
“Kamu jangan banyak tanya Adam!” ucap Bagas dengan sorot matanya yang tajam.
“Besok kapan pesawat kita berangkat?” tanya Bagas.
“Pukul sembilan pagi,” sahut Adam.
“Siapkan semuanya, aku akan membawa Venus kembali.”
“Tapi pak Bagas, apa anda tidak melihat Venus terluka?”
“Itu bukan urusanmu.”
‘Kenapa pak Bagas jadi begini?’ batin Adam.
Karena takut terjadi apa-apa terhadap Venus, Adam pun berinisiatif menghubungi Desta dan memberi tahukan kejadian yang terjadi.
Bagas masuk ke dalam kamarnya, dan memandangi Venus yang tengah terikat itu.
“Kenapa rambut panjangmu menghilang Venus,” ucap Bagas sembari mengusap rambut Venus.
“Asal kamu tahu Venus, apa yang sudah di genggamanku tidak akan aku biarkan pergi,” ucapnya lagi.
Bagas menatap sweater Venus lalu membukanya, terlihat jelas sebuah luka yang masih belum sembuh itu kembali terbuka akibat serangan tadi.
Bagas pun mengambil kotak P3K dan mengobati Venus sendiri, ia membersihkan noda darah yang sedikit mengering lalu membalut luka Venus dengan perban.
Ia juga mengganti pakaian Venus dengan pakaian miliknya.
Hingga keesokan harinya Venus masih belum sadar, ia di bopong lalu di dudukan di kursi roda.
Jika kemarin Bagas naik pesawat komersil, sekarang ia memilih menggunakan pesawat jet pribadinya.
Karena jika menggunakan pesawat komersil lagi maka orang-orang akan mencurigainya.
Saat di dalam pesawat Bagas terus memegang tangan Venus dan mengelus wahah cantiknya itu.
“Sebentar lagi kamu akan terus berada di sampingku Venus,” ucap Bagas.
Adam yang melihat perubahan sikap yang drastis pada Bagas itu, merasa sangat khawatir karena Bagas sebelumnya tidak pernah seperti ini.
Dari penjelasan Desta saat ia menelepon, rupanya Bagas memiliki riwayat psikologi yang cukup rumit namun semua itu sudah bisa di tangani oleh Bagas sendiri.
Tapi hari ini sikap itu kembali muncul, sikap yang sangat di benci oleh Desta dan juga Lingga.
Sikap dingin, acuh tak acuh serta bisa dengan mudah melukai orang lain.
Di dalam pesawat Bagas tidak sedetik pun meninggalkan Venus, ia terus berada di samping Venus.
Bagas mulai memeluk erat Venus, “tidak ku biarkan seorang pun merebutmu dariku,” ucap Bagas.
“Jika itu terjadi aku tidak segan membunuhnya.”