
Dalam ruang kerja yang luas itu Bagas duduk termenung sembari mengepalkan kedua tangannya menunggu dengan cemas kabar dari Venus.
Beberapa kali Bagas berusaha menghubungi Venus namun tidak pernah tersambung.
Bagas pun menghubungi Desta untuk menanyakan perihal informasi tentang Venus.
“Apa kamu sudah dapat informasi dari Venus?” tanya Bagas di balik telepon.
“Untuk saat ini masih belum, anak buahku masih terus berusaha menggali informasi,” sahut Desta.
“Ya sudah kalau begitu,” sahutnya sembari menutup telepon.
Bagae mendengus, ia merasa kesal an juga khawatir dengan Venus.
‘Venus kemana sebenarnya kamu,” batin Bagas.
Hati Bagas sangat kalut, ia merasa Venus begitu jahat karena tiba-tiba menghilang tanpa kabar.
Di tempat lain, Venus yang tengah berada di rumahnya sedang menyusun rencana.
Ia mengambil selembar kertas dan membuat sebuah denah dari gedung perusahaan Hilman Group itu.
Venus sangat hafal dengan tata letak serta lokasi-lokasi dengan penjagaan yang tidak terlalu ketat, bahkan Venus bisa mengetahui saluran-saluran angin yang dapat dimasuki dan terhubung langsung dengan ruangan kerja Bagas.
Ia membuat denah itu dengan sangat rapi dan rinci, usai membuat denah Venus mulai mempersiapkan alat-alat penunjang miliknya serta senjata untuk berjaga-jaga.
Sesekali Venus menghela nafasnya, karena ini pertama kalinya ia merasa akrab dengan targetnya sendiri.
‘Hah ... rasanya seperti menjadi seorang penghianat,’ Venus bermonolog.
‘Setelah semua ini selesai sepertinya aku harus cuti dulu,’ batinnya.
Langit biru berangsur senja, matahari perlahan akan bergulir dan berganti dengan sinar bulan. Venus duduk sembari menatap ke arah luasnya langit senja.
‘Untuk pertama kalinya aku merasa sangat bersalah dan merasa sangat jahat,’ Venus bermonolog.
Mau tidak mau Venus harus menepis perasaan itu, walaupun ia sering terbayang masa-masa ia ketika bersama Bagas.
Sesekali Venus tersenyum ketika mengingat kejadian lucu bersama Bagas.
Venus melepas nafasnya pelan, ‘Bagas ... Bagas. Seandainya kita dipertemukan sebagai rekan dan bukan lawan. Mungkin aku akan mengejar-ngejarmu sekarang.’ Venus bermonolog.
Venus pun berjalan menuju kamar mandi, ia menatap dirinya di cermin. Venus mengambil gunting, tanpa basa-basi ia langsung memangkas rambut panjangnya yang hampir menyentuh pinggang itu menjadi pendek di atas bahu lalu membuang potongan rambut itu ke dalam bak sampah.
Ia kemudian mencuci wajahnya berkali-kali di wastafel kamar mandi itu dan sesekali menghela nafas lalu kemudian ia keluar dari kamar mandi itu.
Langit mulai berangsur gelap, hingga waktu menunjukkan pukul 22.30 malam, Venus telah bersiap dengan mengenakan rompi anti peluru serta pakaian serba hitam, topi dan juga penutup wajah.
Ia keluar dari rumahnya sambil membawa beberapa peralatannya dan memasukkannya ke dalam mobil.
Mobil itu melaju dengan kecepatan tinggi menuju kantor Bagas, Mobil yang di kendarai Venus melaju membelah jalanan yang tidak terlalu ramai.
Hingga Venus berhenti di sebuah jalan yang ada di belakang gedung perkantoran itu, Venus memarkirkan mobilnya di sebuah pergudangan kosong dan keluar dari mobil sembari membawa perlengkapannya.
Dari kejauhan Venus memantau keadaan, dan perlahan berjalan menuju basemen dan masuk lewat pintu darurat, karena hanya di sana yang tidak di pasangi kamera CCTV.
Walaupun pintu itu di kunci, namun tentu saja Venus dengan mudah dapat membukanya dengan bantuan alat yang ia bawa.
Venus memasang alat tersebut ke kunci pintu tangga darurat itu, dalam hitungan detik alat itu bisa merusak pintu besi itu.
Saat pintu itu terbuka dengan cepat Venus masuk ke dalam dan menaiki anak tangga, hingga Venus sampai di bagian lantai di mana ruangan Bagas berada.
Venus perlahan berjalan, menyusuri beberapa koridor serta melewati beberapa ruangan, saat itu ia hampir berpapasan dengan beberapa penjaga yang tengah patroli. Beruntung Venus bisa bersembunyi di balik pintu ruangan yang sudah di matikan lampunya.
Venus berjalan tanpa hambatan, karena ia sudah hafal dengan situasi kantor tersebut dan saat di jam malam seperti itu ada banyak lampu yang dimatikan dan tidak terlalu banyak orang yang berjaga.
Hingga Venus sampai di depan pintu ruangan Bagas, pintu itu terkunci.
Namun bukan Venus namanya jika tidak mempersiapkannya terlebih dahulu.
Venus memiliki kunci duplikat dari ruangan Bagas yang sebelumnya ia ambil dari Bagas.
Venus mengendap masuk dan tanpa menyalakan lampu. Ia langsung pergi menuju komputer yang ada di meja Bagas.
Venus mulai memasukkan hardisk yang sebelumnya ia bawa dan mulai berselancar mencari data-data yang bosnya minta.
Dalam komputer itu ia melihat begitu banyak file serta beberapa dokumen hingga Venus menemukan sebuah data perusahaan yang cukup penting tersimpan dan tersembunyi.
Venus pun membuka data tersebut dan benar saja itu adalah data-data Vendor serta data penting dari perusahaan Hilman Group.
‘Ceroboh banget, kenapa dia simpan data penting kaya gini di komputer ini,' gumam Venus.
Venus juga mengambil data keuangan, serta data investasi milik Bagas.
Ia mengcopy semua data tersebut ke dalam hardisknya lalu pergi meninggalkan ruangan tersebut.
Namun saat ia baru beberapa langkah meninggalkan pintu, ia melihat seseorang datang. Venus pun dengan cepat bersembunyi di salah satu ruangan.
Rupanya orang itu adalah Bagas, dari balik pintu kaca ruangan yang gelap itu Venus mengintip serta melihat Bagas masuk ke dalam ruangannya.
Beberapa detik kemudian Bagas keluar sambil menelepon seseorang.
“Cepat cek rekaman CCTV, ada semut kecil yang baru saja masuk ke ruanganku,” ucap Bagas.
‘Sialan!’ batin Venus.
Rupanya saat Venus keluar dari ruangan itu, Venus tidak sengaja menyenggol map-map yang menumpuk di meja dan membuatnya jatuh berhamburan.
Venus yang merasa ia tidak punya banyak waktu akhirnya membiarkannya dan langsung keluar.
Beberapa menit kemudian semua penjaga berpencar untuk mencari keberadaan penyusup. Venus tidak kehabisan akal.
Venus mengintip di luar sudah tidak ada orang, dengan cepat ia keluar dan berlari menuju pintu darurat yang letaknya tidak jauh dari ruangan ia berada.
Dengan cepat Venus masuk lalu mengunci pintu itu dari dalam, lampu di tangga darurat itu telah di matikan.
Venus mau tidak mau berusaha meraba dinding dan turun, karena jika ia menyalakan senter maka itu sama saja bunuh diri.
Venus mengunci pintu tangga darurat di setiap lantai lalu terus turun menuju basemen.
Namun, rupanya di depan pintu tersebut sudah ada beberapa penjaga yang heboh karena pintu besi dari tangga darurat itu telah rusak.
Karena tidak ada pilihan lain Venus berjalan perlahan menuju pintu itu dan menyerang mereka satu persatu.
Tanpa pikir panjang Venus menarik pelatup pinstol yang ia bawa dan menembak para penjaga itu tepat di kaki serta lengan mereka.
Suara tembakan itu cukup nyaring dan membuat penjaga lain berlari menghampiri basemen.
Venus pun bersembunyi di antara mobil-mobil yang terparkir di basemen itu, ia perlahan mengendap-endap agar bisa keluar basemen.
Saat Venus akan mencapai pintu keluar, ia tiba-tiba di hadang oleh dua orang penjaga.
“Siapa kamu?” ucapnya.
Tanpa menjawab apa pun Venus langsung menendang lalu menyerang dua penjaga itu, bahkan Venus sempat terkena pukulan dari salah satu penjaga di bagian perutnya.
Venus pun terduduk di tanah dan kembali bangkit sambil memegangi perutnya. Venus mengeluarkan pistol yang terselip di pinggangnya.
Belum sempat Venus menembak kedua pria itu, ia sudah mendapat serangan dari belakang. Seseorang menyerangnya dengan sebuah belati dan menusuk bagian pinggangnya dan menembaknya.
Venus terkena tusukan pisau itu karena rompi yang ia pakai tidak melindungi bagian pinggangnya.
Namun tembakan yang mengenai punggungnya itu untungnya tidak melukainya akibat rompi yang ia pakai.
Sambil memegangi pinggangnya Venus berdiri dan mengarahkan pistol ke segala arah peluru dari pistol itu mengenai kaca-kaca mobil serta beberapa penjaga.
Saat itu Venus memiliki kesempatan untuk berlari kabur meninggalkan gedung perkantoran tersebut.
Dengan darah yang mengalir akibat tusukan pisau itu Venus berusaha terus berlari menjauh dengan tertatih ia mencapai gudang kosong itu dan masuk ke dalam mobilnya.
Dengan cepat Venus melepas topi serta penutup wajahnya, lalu ia melepaskan jaket serta rompi anti peluru itu dan melemparnya ke bagian belakang.
Venus menyalakan mobilnya dan melaju dengan kecepatan tinggi menuju rumahnya.