My Sugar My Precious

My Sugar My Precious
Menjemput Adik Ipar



“Kita hancurkan tempat dia malam ini,” ucap Bagas.


“Kamu serius?”


“Tentu saja.”


“Dia pasti sekarang sedang bersenang-senang di rumahnya bersama para wanita,” ucap Bagas.


Bagas, Desta dan Lingga sepakat mengatur rencana untuk menyerang langsung ke kediaman Bastian. Tidak lupa Bagas juga bekerja sama dengan para polisi untuk menangkap Bastian.


Beberapa hari yang lalu.


Sebelumnya Bagas melaporkan Bastian atas tuduhan pengedaran obat-obatan terlarang serta perdagangan anak.


“Kamu dapat bukti itu dari mana?” tanya Desta.


“Aku sudah mengintai dia dari lama, dan aku memiliki satu orang saksi kunci yang bisa menjebloskan dia ke penjara.”


“Saksi? Siapa? Kok aku gak tau?”


Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu.


“Tuan tamu anda sudah datang,” ucap pelayan yang ada di luar.


“Masuk.”


Pintu terbuka, seorang pemuda dengan wajah yang sangat familiar bagi mereka masuk ke dalam ruang kerja Bagas.


“Dia siapa?” tanya Desta.


“Dia, adik ipar,” sahutnya dengan santai.


“Maksudnya dia adik Venus? Kamu serius?” tanya Desta lagi.


Sebenarnya saat Venus pulang dan berada di rumah orang tuanya, Bagas melakukan penyelidikan tentang adim Venus yang bernama Orion.


Bagas bahkan mencari orang yang dulu menculik mereka yang rupanya masih mendekam di penjara.


“Siapa yang menyuruhmu saat itu?” tanya Bagas.


“Siapa? Tidak ada siapa pun. Itu adalah usaha milikku sendiri,” ucapnya.


“Oh iya, aku dengar anakmu kini sedang belajar di universitas. Aku lihat dia cantik juga sayang sekali untuk di lewatkan.”


“Kamu jangan pernah menyentuh putriku!” bentaknya.


Bagas bersandari di bangku lalu melipat tangannya, “Aku bisa dengan mudah melepaskan putri serta istrimu dari perbudakan Bastian asal kamu memberi tahuku siapa yang menyuruhmu,” ucap Bagas.


Pria bertubuh tambun itu terdiam sejenak.


“Apa kamu bisa menepati janjimu?” tanyanya kepada Bagas.


“Aku orang yang konsisten dengan ucapan.”


“Bastian dia lah orangnya, bahkan dia punya beberapa tempat untuk mengumpulkan para anak-anak.”


“Lalu siapa yang membeli anak laki-laki ini,” Bagas memperlihatkan foto seorang anak laki-laki kepada pria itu.


“Pengusaha konveksi dari kota Z, namanya Martin,” ucapnya.


“Baik itu sudah cukup, aku sudah merekam ucapanmu jadi ketika kamu di panggil untuk jadi saksi jangan mengelak. Kalau tidak anak dan istrimu yang akan menaggungnya.”


Bagas berlalu pergi meninggalkan pria tersebut lalu masuk ke dalam mobilnya.


“Kita ke kota Z sekarang,” ucap Bagas.


“Untuk apa? Bagaimana dengan meeting dan pertemuan dengan beberapa Vendor?” tanya Adam.


“Batalkan saja. Aku ingin menjemput adik ipar sekaligus menyapa teman lama,” ucap Bagas.


Mobil melaju menuju bandar udara, di sana sudah di siapkan sebuah jet pribadi milik adik ya Desta. Pesawat pun terbang menuju kota Z.


Saat sampai di kota itu Bagas mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.


“Apa kamu ada di kantor?” tanya Bagas dalam telepon.


“Tumben kamu ke sini, aku ada di kantorku kalau kamu mau berkunjung silahkan saja,” ucapnya.


“Baik kalau begitu.”


Bagas masuk ke dalam mobil yang sudah di siapkan oleh bawahannya, mobil Bagas melaju menuju pusat kota Z dan berhenti di sebuah gedung perkantoran.


Bagas pun masuk dan langsung masuk ke dalam lift menuju sebuah ruangan di temani oleh sekretarisnya Adam.


Tanpa pikir panjang Bagas langsung masuk ke dalam ruangan itu.


“Akhirnya kamu datang juga,” ucapnya sembari menjabat tangan Bagas.


“Lama tidak bertemu Martin,” sahut Bagas menjabat tangan Martin.