
“Tumben kamu ke sini ada apa?” tanya pria paruh baya itu.
“Aku dengar perusahaanmu sedang mengalami krisis, dan banyak pekerja yang kamu berhentikan,” ucap Bagas.
“Anda tahu dari mana pak?” bisik Adam.
Bagas tidak menghiraukan pertanyaan sekretarisnya itu ia malah tersenyum.
“Ya begitu lah, ada seseorang yang menipuku. Dia memesan bahan baku yang cukup banyak hingga aku harus menyediakan biaya lebih untuk produksi saat semua pesanannya siap untuk di distribusikan orang itu malah kabur ke luar negeri sampai sekarang polisi masih belum menemukannya.”
“Aku turut prihatin, sebenarnya aku bisa membantumu tapi dengan syarat,” ucap Bagas.
Pria itu terdiam sejenak. “Apa syaratnya?”
Bagas pun mengeluarkan sebuah foto seorang anak kecil dan memberikannya kepada Martin.
“Aku tahu kamu membelinya dan sekarang aku ingin bertemu dengannya,” ucap Bagas.
“Ba-bagaimana kamu tahu?” ucap Martin terkejut.
“Itu cukup mudah untuk aku lakukan, aku hanya ada urusan dengan anak itu dan membawanya. Kamu mau atau tidak itu terserah padamu,” ucap Bagas.
“Tapi aku juga memiliki satu syarat, jangan libatkan aku dengan kasus penjualan anak itu,” ucapnya.
“Tentu. Itu tidak masalah jika kamu bisa di ajak kerja sama aku tidak akan merugikanmu Martin. Kamu pikirkan saja bisnismu yang sebentar lagi bangkrut ini,” sahut Bagas.
Martin pun mengambil telepon yang ada di sampingnya dan menghubungi seseorang.
“David, suruh tukang bersih-bersih itu ke ruanganku sekarang!” pinta Martin dalam telepon.
Beberapa menit kemudian seorang pemuda masuk ke dalam ruangan Martin, penampilannya begitu lusuh serta tubuh yang kurus. Di sekitar matanya terdapat lingkaran hitam pertanda jika pemuda itu kurang tidur, wajahnya pun terlihat sangat lelah.
“Permisi Bos, anda memanggil saya?” ucapnya dengan sedikit menunduk.
Bagas pun langsung berdiri dan menatap pemuda itu, ia menyenyitkan alisnya karena prihatin dengan keadaan pemuda itu.
“Orion, sekarang kamu ikut aku,” ucap Bagas.
Mendengar namanya di sebut pemuda itu langsung terkejut karena sejak pertama kali ia di beli oleh Martin ia di beri nama Reihan.
“Anda tahu dengan saya? Anda kenal saya? Bagaimana anda bisa tahu nama saya?” pemuda itu memberi Bagas banyak pertanyaan.
“Siapa lagi kalau bukan Venus,” sahutnya.
“Kamu anda kenal kakak saya? Dimana? Dimana kakak saya sekarang?” ucapnya dengan raut senang dan mata yang berkaca-kaca.
“Ikutlah denganku sekarang.”
“Tapi ... Saya tidak bisa meninggalkan Bos sendirian,” ucapnya sembari menatap Martin.
“Walaupun Bos galak dan suka membentak saya, tapi bagi saya Bos itu orang yang baik,” sambungnya.
Bagas tersenyum simpul, “Kalian berdua memang mirip.”
“Aku hanya membawamu sebentar, aku juga akan mengajak bosmu untuk ikut bersamaku. Kalau dia menolak maka dia akan tahu akibatnya.”
“Bagaimana Martin?” sambung Bagas.
“Aku akan mengikuti seluruh permainanmu, asalkan kamu tidak menjebloskan aku ke penjara.”
“Aku yakin anak ini juga tidak mau kamu di penjara iya kan?”
Orion hanya diam dan menganggukan kepalanya.
Mereka semua pun langsung di bawa menuju bandara dan menaiki pesawat pribadi yang di tumpangi Bagas.
“Wah ... Aku tidak tahu kamu bahkan memiliki pesawat pribadi,” ucap Martin.
“Aku meminjamnya, ini bukan milikku,” ucap Bagas.
Pesawat pun mendarat, mereka juga di jemput oleh para bawahan Bagas hal itu membuat Martin semakin yakin jika teman lamanya itu orang yang sangat berpengaruh di ibu kota.
Bagas mengantar mereka ke sebuah rumah untuk bermalam dan beristirahat.
Keesokan harinya Bagas membawa mereka berdua ke kantornya.
“Bahkan kantormu berkali lipat lebih bagus dari kantorku,” ucap Martin.
Saat itu lah Bagas memperkenalkan Orion kepada Desta dan juga Lingga.
“Dia adik ipar?” ucap Desta semringah.
“Adik ipar sekaligus korban penjualan anak, aku bahkan membawa pembelinya,” ucap Bagas.
Tiba-tiba ponsel Bagas berdering, rupanya itu panggilan telepon dari Venus.
“Kamu dimana? Aku bosan. Aku sekarang di depan kantor kamu,” ucap Venus dalam telepon.
“Sebegitu kangennya kamu sama aku, sampai kamu menyusulku ke kantor?” sahut Bagas.
“Apaan sih Bagas. Gombalmu itu bikin aku sakit perut!”
“Oh ya? Berarti ucapan aku tadi sangat membuat kamu bahagia bahkan perutmu pun menerima ucapanku ini,” sahut Bagas.
“Udah lah terserah, sekarang kami dimana? Di ruangan atau di luar?”
“Aku lagi di ruanganku se-”
“Sepertinya kakakmu perlu belajar banyak,” ucap Lingga pada Desta.
“Yah maklum kakakku ini sangat buruk kalau soal merayu wanita,” ledek Desta.
“Kalian ingin berdiskusi atau ingin membahas masalahku?” ucap Bagas ketus.
Lingga dan Desta hanya tertawa melihat Bagas yang cukup kesulitan untuk merayu Venus.
Tidak lama pintu terbuka dan Venus pun masuk ke dalam ruangan itu.
“Eh ... Kok rame banget apa aku datang di waktu yang gak tepat?” tanya Venus.
“Gak kok malah datang di waktu yang tepat,” sahut Desta.
Bagas menghampiri Venus dan meraih jemari lentik wanita yang di kaguminya itu, mereka saling berpegangan tangan lalu Bagas mengajak Venus mendekati Orion.
Orion yang sedari tadi merasa familiar denga sosok Venus itu pun tanpa henti menatapnya.
“Gimana kami cocok kan?” tanya Bagas pada Orion.
“Bagas apa-apaan sih bikin malu,” ucap Venus.
Dengan lembut Bagas mengecup punggung tangan Venus, “Mereka tidak akan membuatku merasa malu,” ucap Bagas.
“Desta, kakakmu ini kenapa? Dia salah minum obat apa gimana?” tanya Venus.
Bagas kemudian menarik Venus hingga Venus jatuh ke dalam pelukkannya, hal itu membuat Venus samakin malu.
Tanpa basa basi Venus memasang kuda-kuda lalu membanting tubuh Bagas ke lantai lalu Venus pun keluar dari ruangan itu.
“Ppttthh hahaha,” Desta tertawa terbahak.
Bagas bangkit sembari meringis memegangi punggungnya.
“Puas kalian menertawakanku?” ucap Bagas.
“Anda tidak apa-apa?” tanya Orion sembari manahan tawanya.
“Kalau kamu menertawakanku juga maka Martinyang akan menanggung akibatnya,” ucap Bagas Ketus.
Tawa Desta dan Lingga semakin menjadi-jadi hingga mereka menepuk-nepuk bahu Bagas.
Bagas pun mengambil ponselnya dan kembali menelepon Venus.
“Apa lagi?” ucap Venus saat mengangkat telepon dari Bagas.
“Kenapa pergi? Apa kamu tidak mau bertemu dengan adikmu?”
Saat mendengar hal itu Venus langsung berbalik berlari menuju ruangan Bagas.
Dengan mata yang berkaca-kaca Venus menatap Bagas.
“Hey kiddo, kamu ingin bertemu Venus kan,” ucap Bagas.
Venus berjalan perlahan, ia menatap ke arah Orion yang saat itu terus menatapnya.
“Orion,” ucap Venus dengan sedikit terisak.
Venus meraih wajah pemuda itu, air matanya mengalir begitu mengetahui pemuda yang ada di dalam ruangan itu adalah adiknya yang selama ini ia cari.
“Kamu masih hidup, kenapa kamu begitu kurus? Apa kamu menderita di luar sana,” ucap Venus sambil mengusap lembut wajah Orion.
Venus terus menangis air mata keluar deras dari matanya, ia memeluk Orion dengan erat begitu pun sebaliknya.
Namun Orion tidak bisa berkata-kata, ia seakan tidak percaya jika ia bisa bertemu lagi dengan saudara perempuannya itu.
Mereka berdua duduk di sofa, Venus sedari tadi tidak henti-hentinya menangis hingga membuat Bagas turun tangan. Ia memeluk Venus erat.
“Sudah jangan menangis lagi,” ucap Bagas.
“Terima kasih Bagas, karena kamu semua keluargaku kembali berkumpul,” ucap Venus dengan ssesenggukan
Desta memberi kode kepada Lingga dan juga Orion untuk keluar dulu sebentar meninggalkan mereka berdua.
“Kamu tahu, aku akan melakukan apa pun demi kebahagiaan orang yang aku cintai bahkan jika kamu ingin aku mati pun akan aku lakukan,” ucap Bagas.
“Jangan Bodoh, mana mungkin aku menyuruh orang yang aku cintai mati!” ucap Venus.
Untuk pertama kali kalimat cinta itu keluar dari mulut Venus, hal itu membuat Bagas semakin mantap untuk menjadikan Venus sebagai istrinya.
Mereka berdua duduk di sofa sambil berpelukan, tiba-tiba saja Venus mendaratkan ciuman di pipi Bagas dan hal itu membuat Bagas jadi terkejut sambil memegangi pipinya sendiri.
“Kenapa?” tanya Venus.
Bagas pun tersenyum simpul, mata mereka saling bertatapan begitu dalam, Bagas mengusap lembut wajah Venus perlahan Bagas mendekatkan wajahnya hingga hidung mancung mereka saling bersentuhan.
Venus menutup matanya perlahan, sambil mengusap lembut wajah Venus dan berniat mencium Venus.
Namun Desta membuka pintu secara tiba-tiba, “Gas ayo makan siang!”
Bagas tersentak kaget dan langsung melepas pelukannya lalu berdiri sambil merapikan jasnya.
Sedangkan Venus hanya terdiam karena malu dengan apa yang hampir mereka lakukan.