
“Kamu istirahatlah di kamarmu,” ucap Ronald.
Venus hanya tersenyum dan masuk ke dalam kamar tersebut. Venus membaringkan tubuhnya di kasurnya itu.
‘Kangen banget aku sama kamar ini. Gak banyak berubah ternyata,' batin Venus.
Venus tiba-tiba merenung mengingat perlakuan dari Bagas yang menurutnya sangat keterlaluan. Dalam benaknya Venus sebenarnya juga memiliki perasaan yang sama namun akibat dari perlakuan Bagas terhadapnya membuatnya berpikir ulang untuk menyukai mafia berdarah dingin tersebut.
Di satu sisi Venus juga khawatir akan identitasnya, ia takut Bagas mengetahui yang sebenarnya tentang dirinya.
Cukup lama Venus merenung di dalam kamar lamanya tersebut, hingga terdengar suara gaduh
.
"Venus! Venus!" ucap Leon sembari menerobos masuk ke dalam kamar Venus.
"Leon, ada apaan sih berisik banget," ucap Venus.
"Venus kamu kembali," ucapnya dengan wajah semringah.
"Iya kembali tanpa di sengaja dan gratis," sahut Venus.
"Maksudnya?"
"Aku ketemu bagas di Swiss, dia nyuruh anak buahnya buat nangkap aku," sahut Venus.
"Hah? Bagas? Lalu kamu kabur ke sini?" tanya Leon.
"Bukan kabur tapi di culik, tiba-tiba pas aku udah bangun aku udah ada di kamar apartemennya dan di kurung di sana."
"Kamu ketahuan?"
Venus pun menggelengkan kepalanya, 'Gak. Dia nembak aku," sahut Venus.
"Serius? Dia nyatain cintanya ke kamu?"
"Perlu aku perjelas memangnya?" tanya Venus.
"Aku gak tahu ini, tapi kayaknya aku bakalan menghadapi masalah besar," sambung Venus.
Tidak lama seorang dokter datang ke kamar Venus, ia kembali mendapat perawatan untuk lukanya.
"Kamu berkelahi lagi?" tanya dokter itu.
"Gak, aku di serang."
"Untungnya jahitan ini tidak lepas, tapi sepertinya ini infeksi. Aku akan memberikan antibiotik serta pereda nyeri," ucapnya.
Luka Venus kembali di bersihkan dan perbannya pun di ganti, sesekali Venus meringis menahan sakit yang ada di perutnya.
"Kamu di serang berapa orang?"
"Lima atau tujuh orang. Dan saat itu posisiku belum pulih," sahut Venus.
Perbincangan mereka semakin lama semakin melebar kemana-mana, Leon yang saat itu tidak menyangka jika target bisa jatuh cinta dengan Venus.
Begitu pula dengan Ronald ia menyesal karena melibatkan Venus dalam misi tersebut, ia tidak menyangka jika akan terjadi hal seperti itu.
Waktu berjalan begitu cepat, langit biru kini sudah berubah menjadi malam, Venus saat itu tengah duduk sembari memainkan game dari ponsel yang baru di berikan oleh Ronald.
Saat di tengah permainan Venus tiba-tiba kembali teringat dengan pernyataan cinta dari Bagas dan senyum simpul pun menghiasi bibirnya.
'Kita gak akan mungkin bisa bersatu Bagas,' gumam Venus.
Venus menghela nafas panjang lalu kembali melanjutkan permainannya, hingga malam semakin larut dan membuat Venus tanpa sadar tertidur.
Pagi harinya, Venus beserta yang lainnya duduk bersama di meja makan, suasana sangat riuh namun menyenangkan.
Venus duduk di meja itu sembari tersenyum memandang kehebohan mereka yang sibuk bersenda gurau.
"Venus, makan yang banyak," ucap Leon memberikan Venus sepotong sandwich miliknya.
“Makasih,” sahut Venus dengan wajah semringah.
“Hei ... Berisik! Kalian mau makan apa mau ngapain sih sebenarnya?” omel Leon.
Mereka yang berada di meja makan itu hanya bisa meledek Leon, Venus pun tertawa dibuatnya.
Suasana itu yang selalu di rindukan oleh Venus sejak lama, suasana yang hangat penuh keceriaan.
Karena selama ini Venus hanya berada di dalam lingkar masalah serta bahaya.