
“Sebenarnya ... Tadi markas Ronald di serang,” ucap Venus.
“Ronald? Siapa?”
“Dia bos kami, para penjaga saat itu kalah jumlah waktu itu di markas memang tidak terlalu banyak penjaga,” tutur Venus.
“Siapa yang menyerang kalian?”
“Bastian dan anak buahnya, dan-” Venus tak kuasa menahan air matanya lagi.
Dengan tersedu Venus kembali bercerita. “Dan Leon sahabat terbaikku, tenggelam bersama mobilnya. Saat itu dia menyelamatkanku dan menyuruhku untuk langsung keluar dari mobil tapi dia malah tidak membuka sabuk pengamannya,” ucap Venus dengan air mata mengalir deras membasahi pipi manisnya.
“Aku memang kesal dan kecewa karena kamu bersekongkol dengan Bastian si brengsek itu. Tapi tetap saja aku tidak bisa melihatmu begini,” ucap Bagas sembari merangkul Venus.
“Tapi kenapa dia menyerang markas kalian?”
“Karena aku. Dia mengincarku untuk tidur bersamanya, itu sebabnya Ronald mengirimku ke Swiss,” sahut Venus.
Mendengar hal tersebut Bagas menjadi sedikit merasa bersalah, karena dialah yang menculik dan membawa Venus kembali ke Indonesia sehingga terjadi hal seperti ini.
Bagas berusaha menenangkan Venus yang terus menangis karena kehilangan sahabat baiknya itu, di tambah lagi ia merasa sangat khawatir dengan Ronald yang masih berada di markasnya tersebut.
“Kamu ganti baju dulu,” ucap Bagas sembari memberikan pakaian kepada Venus.
“Pakaian ini sebenarnya aku belikan saat kamu aku bawa kesini,” ucap Bagas.
Venus pun mengambil baju itu dan berjalan menuju kamar mandi, ia membersihkan tubuhnya lalu berganti pakaian.
“Apa gak ada baju lain selain ini?” tanya Venus sambil membenarkan bagian kerah dress berwarna hitam itu.
Rupanya Bagas memberikannya sebuah dress berwarna hitam dengan kerah yang sangat rendah yang hampir memperlihatkan bagian sensual Venus, di bagian bawah memiliki potongan yang cukup tinggi hingga memperlihatkan kaki jenjang Venus.
“Itu cocok, tidak salah aku memilih gaun itu,” ucap Bagas.
“Lalu sekarang kamu pakai ini.”
Sepasang higheels berwarna hitam di berikan kepada Venus.
Kini penampilan Venus sangat anggun dan sensual, Bagas juga memanggil seorang penata rias untuk mendandani Venus.
Begitu pula dengan Bagas, ia mengenakan setelan jas berwarna hitam dengan kemeja putih dan dasi berwarna hitam.
“Ini sebenarnya kita mau ngapain sih?” tanya Venus bingung.
“Aku akan menerima permohonan maafmu kalau kamu mengikuti kemauanku.”
“Kamu sudah selesai, ayo kita pergi,” Bagas langsung menarik tangan Venus dan keluar dari apartemen.
“Tapi aku harus lihat ke adaan Ronald, ini bukan saatnya aku harus seperti ini!” Venus melepaskan genggaman tangan Bagas.
Bagas mendengus sembari memutar kedua bola matanya, ia merogoh saku celananya dan mengambil ponselnya.
“Kalian semua pergi ke rumah Ronald Sudrajat dan lihat keadaan di sana lalu laporkan kepadaku!”
Bagas pun mematikan teleponnya dan kembali menarik Venus menuju lift.
“Tunggu dulu, kamu kenal Ronald?” tanya Venus.
“Siapa yang tidak kenal dia, rentenir yang kerjanya menagih hutang para pemain judi dan merampas harta para peminjam hutang,” sahut Bagas.
“Ayo pergi. Aku sudah menyiapkan ini.”
Bagas pun menggandeng Venus, mereka berjalan beriringan. Di mata orang-orang yang melihat mereka adalah pasangan serasi, banyak yang terkesima dengan Venus dan Bagas.
Mereka berdua seperti dua orang kaya yang sedang berjalan di red carpet.
Mereka berdua masuk ke dalam mobil, Bagas memacu mobilnya menuju sebuah dermaga.
Saat di perjalanan, Bagas tak henti-hentinya memegangi tangan Venus.
“Kamu bisa lepas gak sih,” ucap Venus.
“Gak bisa, tanganku ini sudah lengket dan gak bisa di lepas,” sahut Bagas.
Semakin Venus berusaha melepas genggaman itu maka semakin erat pula Bagas menggenggam tangan Venus hingga akhirnya Venus menyerah dan lebil memilih diam.