
“Kita berangkat sekarang,” ucap Bagas.
Lebih dari 10 iring-iringan mobil melaju secara teratur di jalan raya.
Mereka semua melaju menuju kediaman Bastian. Sementara itu di rumah Bastian terlihat orang-orang tengah berpesta untuk merayakan kemenangannya dalam membatalkan semua investor serta para vendor yang akan bekerja sama dengan Bagas.
Bagas mengalami kerugian yang cukup banyak, namun Bastian tidak mengetahui jika ini hanyalah jebakan untuknya.
Bastian menyewa banyak wanita penghibur hanya untuk sekedar menemaninya minum dan bersenang-senang.
Beberapa wanita itu bahkan duduk di pangkuan Bastian sembari menggelayut di tubuh Bastian.
“Bersenang-senanglah sepuas kalian, kali ini aku tidak akan melarang,” ucap Bastian.
Tidak lama pintu rumah itu terbuka, seorang wanita cantik mengenakan mini dress masuk ke dalam.
Semua mata tertuju padanya, ia berjalan anggung dengan kaki jenjangnya. Bastian pun lantas berdiri dan menatap wanita itu tanpa henti.
Kulitnya yang putih bersih, wajahnya yang cantik dengan sorot mata yang tajam membuat siapa pun terpana.
“Hahaha ... Rupanya aku tidak perlu mencarimu. Malah kami yang menghampiriku,” ucap Bastian.
“Sepertinya aku datang di saat yang gak tepat.”
“Tidak. Kamu datang di saat aku merayakan ke suksesanku. Kemarilah dan duduk di pangkuanku,” ucap Bastian.
‘Dasar mesum, kalau bukan karena Bagas aku tidak mau begini,' batinnya.
Ia pun berjalan menghampiri Bastian dan duduk di sampingnya.
“Venus, kamu begitu cantik tidak salah aku selalu mengidamkan kamu,” ucap Bastian sembari mengusap dagu Venus.
‘Semoga aja Bagas tidak lama, aku takuh kesabaranku habis menghadapi pria gila ini,' batin Venus.
“Kalian semua pergi!” Bastian mengusir para wanita penghibur itu.
Bastian menuangkan minuman untuk Venus, ia merasa jijik dengan minuman itu karena sebelumnya minuman di dalam botol itu sudah di minum oleh Bastian.
‘Sialan. Siapa yang mau minum bekas jigong dia!’ batin Venus.
“Aku heran kenapa aku tergila-gila senganmu padahal aku bisa dengan mudah mendapatkan wanita,” ucap Bastian meracau.
“Kayaknya kamu mabuk, sudah berapa botol yang kamu habiskan?” tanya Venus.
“Hahaha ... Kalian! Lihat wanita ini ternyata perhatian terhadapku,” ucap Bastian terbahak.
Venus menyenyitkan alisnya, ‘rasanya pengen baget aku bungkam mulut gilanya dengan botol itu,' batin Venus lagi.
“Ayolah minum! Kita bersenang-senang, dan nanti malam kita akan berkeringat bersama di atas ranjang.”
Bastian terus meracau tanpa henti hingga membuat Venus harus terus menahan emosinya.
Di tempat lain, Bagas dan para bawahannya sudah sampai di depan pintu gerbang rumah Bastian.
Mereka semua keluar dari mobil, jumlah mereka ada puluhan, pertama-tama Bagas melumpuhkan penjaga gerbang rumah tersebut.
“Sepertinya penjagaan tidak terlalu ketat, kita bisa menyelinap dengan mudah,” ucap Desta yang juga ikut dalam rombongan.
“Tapi tetap saja kita harus berhati-hati,” sahut Bagas.
Mereka semua masuk perlahan, dan mengepung rumah besar itu, beberapa orang masuk lewat pintu belakang.
Dari luar terdengar suara musik yang cukup nyaring, ini sangat menguntungkan Bagas karena pergerakan mereka tersamarkan oleh suara musik itu.
Satu persatu penjaga dari rumah Bastian itu di lumpuhkan lalu di kumpulkan di satu tempat dengan keadaan kaki dan tangan terikat.
Saat itu Venus juga melancarkan aksinya, saat Bastian mabuk Venus dengan sengata memasukkan obat tidur dengan dosis tinggi ke dalam minuman Bastia.
Gerakan tangannya cepat sehingga Bastian tidak menyadarinya, Bastian juga sudah nenggak minuman itu hingga habis.
Terlihat Bastian mulai sempoyongan dan beberapa kali terjatuh hingga beberapa bawahannya membantunya berdiri.
“Gimana rasanya? Udah ngefly banget ya?” ucap Venus sambil tertawa.
Saat itu Bastian sadar ada yang tidak beres dengan dirinya.
“Kamu ... Kamu masukkan apa ke minumanku?”
“Apa memangnya? Gak ada tuh, kamu aja yang kebanyakan minum,” sahut Venus.
“Kalian tangkap dia!” ucap Bastian.
Lima orang bawahan Bastian itu mencoba menagkap Venus, namun mereka tidak tahu jika Venus dapat mengalahkan mereka dengan mudah.
Perkelahian pun terjadi antara Venus dan bawahan dari Bastian. Mereka menyerang Venus secara bersamaan.
Dengan ilmu bela diri yang di milik Venus itu ia bisa dengan mudah melumpuhkan mereka.
Serangan demi serangan di tangkis oleh Venus, dan bukan Venus namanya kalau tidak menyerang balik dengan pukulan serta tendangannya.
Tidak lama Bagas, Desta dan Lingga masuk ke dalam dan mulai melakukan serangan, di susul oleh para anak buah Bagas dan juga Desta.
Semua barang berhamburan, wanita-wanita bayaran itu lari tunggang langgang untuk berlindung.
Saat ini Bastian kalah jumlah, karena sebelumnya para penjaga yang ada di luar dan di belakang sudah terlebih dulu dibereskan.
“Brengsek kalian semua!” teriaknya.
Para polisi pun masuk ke dalam, satu per satu anak buah Bastian di bawa ke dalam mobil polisi hingga sampai pada giliran Bastian.
“Liat saja kalian akan aku balas! Aku tidak akan membiarkan kalian hidup dengan tenang!” teriaknya.
Tangan Bastian di borgol dan langsung di gelandang ke kantor polisi.
“Apa sekarang udah berakhir?” tanya Venus.
“Tentu, dia akan di vonis hukuman seumur hidup dengan banyak tuduhan dan barang bukti serta keterangan saksi sudah di kantongi polisi jadi kamu tenang aja,” sahut Lingga.
“Biarkan polisi yang mengurus masalah ini, aku juga sudah menyewa pengacara handal serta akan mendatangkan saksi kunci dari kasus perdagangan anak.”
Tiba-tiba mata Bagas tertuju pada Venus yang mengenakan dress dengan potongan yang cukup tinggi hingga paha mulus serta lekuk indah tubuh Venus begitu jelas tergambar.
“Kenapa kamu pakai baju kaya gini sih?” ucap Bagas.
“Memangnya kenapa? Apa aku terlihat jelek?” tanya Venus.
Bagas pun melepas jasnya lalu menutupi bagian punggung Venus yang begitu terlihat itu.
“Siapa yang bikin baju dengan punggung bolong seperti ini?” ucap Bagas.
“Punggung bolong?”
“Ya bolong, bahkan ini menurutku kurang bahan.”
“Ayo cepat masuk mobil, aku gak mau ada orang lain dengan bebas melihat tubuhmu,” sambung Bagas
“Sekalian aja kamu bungkus Venus pakai perban biar tertutup semua kaya mumi,” celetuk Desta.
Mereka semua pun masuk ke dalam mobil dan meninggalkan rumah Bastian yang berantakan itu.
***
“Good morning my precious,” ucap Bagas sembari mengecup lembut kening Venus yang baru bangun tidur itu.
“Morning my sugar,” sahut Venus sembari tersenyum manis ke arah Bagas.
“Sepertinya istriku ini baru mendapatkan panggilan romantis untukku,” ucap Bagas.
“Itu karena kamu manis kaya gula,” sahut Venus terkekeh tertawa.
“Aku tidak yakin, pasti maksudmu sugar itu sama halnya seperti sugar daddy,” sahut Bagas.
“Kalau di pikir-pikir memang hampir mirip kaya gitu karena kamu dulu suka belanjain aku barang mahal, makan di restoran mewah juga,” sahut Venus.
“Jadi menurutmu aku tua?”
“Nah ... Jangan bergerak sepertinya di rambutmu ada uban,” ucap Venus mendekat ke arah Bagas.
“Hah? Cepat singkirkan!” ucap Bagas panik sambil mendekatkan wajahnya ke arah Venus.
Tiba-tiba saja Venus memegangi wajah Bagas lalu mengecup lembut pipi Bagas.
“Tapi bohong,” ucap Venus sambil tertawa dan berlari pergi menuju kamar mandi.
Hal itu membuat Bagas terkejut dan salah tingkah, Bagas pun keluar kamar sambil menunggu istrinya itu selesai berpakaian.
“Sudah siap?” tanya Bagas kepada Venus yang keluar kamar sembari membawa sebuah koper.
“Sudah dong,” sahut Venus sambil menghampiri Bagas lalu menggandengnya.
“Pesawat kita akan berangkat satu jam lagi, jadi kita harus cepat,” ucap Bagas.
Mereka berdua pun masuk ke dalam mobil, dengan di antar oleh Orion adik Venus untuk menuju bandara.
Hingga sampai di bandara mereka berpamitan dengan Orion.
“Kalian hati-hati ya. Bagas, nanti kalau ketemu bule cantik kenalin ke aku ya,” ucap Orion.
“Itu gak akan mungkin bisa, yang ada kakiku bisa berpindah ke atas kepala,” sahut Bagas.
“Orion, aku pergi dulu ya. Kamu jangan sering pulang malam,” ucap Venus.
“Siap komandan!” sahut Orion.
Venus dan Bagas masuk ke dalam bandara, dan menunggu keberangkatan.
Saat berada di dalam pesawat mereka berdua sangat lengket, bahkan ketika Venus ke toilet saja Bagas akan langsung membuntuti dan menunggu di depan pintu.
Pasangan pengantin baru itu sekarang mendapatkan kebahagiaan mereka walau ada beberapa masalah yang menghadang mereka tapi akhirnya mereka bisa bersatu.
Kini mereka memilih berbulan madu ke Swiss, karena saat itu Venus belum sempat menikmati keindahan negara itu jadi ia meminta Bagas untuk mengajaknya ke sana, ke tempat dimana Bagas pernah menyatakan perasaanya kepada Venus.
Tamat
Terima kasih untuk reader yang telah membaca karya ini. Mohon maaf kalau author jarang up 🙏
motor mau ucapkan selamat menjalab ibadah puasa dan selamat idul Fitri bagi yang merayakannya mohon maaf lahir dan batin.