
Saat sampai di dermaga, Bagas turun dan membuka pintu mobil untuk Venus, di hadapannya sudah terparkir sebuah yard kapal mewah mirip speed boat dengan berbagai fasilitas lengkap di dalamnya di samping yard tersebut bertuliskan nama Venus Bagaskara.
“Yard? Kita naik ini?” tanya Venus.
“Ya, ini aku siapkan sudah lama sebenarnya. Aku memesannya dan baru datang seminggu yang lalu.”
“Kenapa ada namaku?”
“Ya karena aku ingin.”
Venus memandang Bagas dengan senyuman kecil dan gelengan kepala, ia sangat tidak percaya dengan apa yang dilakukan Bagas untuknya.
Bagas pun menuntun Venus masuk ke dalam yard tersebut.
“Ngapain naik ini sih buang-buang duit tau gak,” ucap Venus.
“Masalah uang itu gampang aku dapatkan, tapi kamu.”
“Aku? Kenapa?”
“Kamu cuma ada satu dan itu harus jadi milikku,” ucap Bagas.
Mendengar rayuan gombal ala Bagas itu membuat Venus terkekeh tertawa.
“Tunggu dulu kamu belajar dari mana rayuan gombal kaya gitu hah? Pasti dari Desta kan?” ucap Venus sembari tertawa.
“Ya-ya itu insting alamiahku saja,” sahutnya sambil terbata.
“Insting alamiah apanya, bilang aja kamu belajar kan dari Desta,” ledek Venus sembari tertawa.
“Tapi ... Terima kasih kamu orang pertama yang membuatku seperti ini,” ucap Venus sambil menatap Bagas dengan sorot matanya yang tajam.
“Baguslah kalau begitu,” ucap Bagas sembari menyembunyikan perasaan senangnya itu.
Namun Venus yang pandai membaca sikap seseorang itu lagi-lagi meledek Bagas karena ia tahu jika Bagas berusaha tetap bersikap dingin walaupun sebenarnya Bagas menahan rasa senangnya itu.
“Kalau mau senyum ya senyum aja ngapain di tahan-tahan,” ucap Venus.
Bagas memalingkan wajahnya sambil melihat ke arah lain.
“Jaga image banget sih. Udah lah ini kita mau kemana?” tanya Venus.
“Ke Villa.”
“Villa mana lagi?”
“Di pulau seberang sana tapi kamu jangan kabur lagi.”
‘Gila aja kali aku kabur ke tengah laut begini, memangnya aku punya insang apa,' batin Venus.
20 menit berlalu, mereka pun sampai di sebuah pulau dengan pasir pantai yang putih, air laut berbias biru kehijauan dan jernih itu membuat mata Venus terpana di buatnya bahkan Venus dengan mudah melihat biota yang ada di dalamnya.
Mereka berdua pun turun, bukannya naik ke daratan Venus malah asyik bermain air serta ikan-ikan kecil yang ada di pantai itu.
Bagas pun lebih memilih pergi dan duduk bernaung di pinggir pantai.
‘Sepertinya sia-sia aku mendandaninya. Tapi ya sudahlah,' batin Bagas.
Rupanya Villa itu tidak kosong, saat Bagas duduk bernaung di bawah payung besar di tepi pantai ia di hampiri beberapa pelayan yang membawakan dua gelas minuman dingin, handuk serta sun block.
“Ini Tuan,” ucap pelayan itu.
“Apa Tuan berencana menginap di sini?”
“Tidak, aku hanya mampir nanti malam kami akan pulang,” sahutnya.
“Apa Tuan mau kami siapkan Barbeque?”
“Boleh, siapkan saja.”
“Baik Tuan.”
Mereka pun pergi masuk ke dalam Vila untuk menyiapkan semuanya.
Matahari semakin terik, Bagas pun menarik Venus yang sedari tadi tidak berhenti bermain air.
Terlihat tubuh dan wajahnya sangat merah akibat terkena sengatan matahari.
“Sudah cukup, kalau mau lanjut nanti sore saja.”
Bagas menarik Venus untuk bernaung dan duduk di kursi.
“Kamu suka pantai?”
“Gak juga. Cuma ini kali pertama aku datang ke tempat seperti ini,” sahut Venus.
“Lalu biasanya kamu kemana?”
“Sarang gangster, gang sempit, club malam, kalau ketahuan aku harus berkelahi untuk melarikan diri dan terakhir aku malah kena tembak dan tusukan belati oleh anak buahmu,” sahutnya.
Mendengar hal itu Bagas terkejut karena ia tidak mengetahuinya. Ia mengingat-ingat jika saat itu Venus memiliki luka di bagian perut samping kananya.
Melihat wajah Bagas yang berubah saat mendengar ucapannya Venus pun berusaha menenagkannya.
“Tapi lukanya hampir sembuh dan di obati oleh dokter pribadi Ronald jadi kamu gak perlu khawatir,” ucap Venus lagi.
“Apa selama bekerja kamu selalu seperti itu?” tanya Bagas.
“Berkelahi, lalu melawan orang-orang bersenjata dan sebagainya,” ucap Bagas.
“Ya ... Semua pekerjaan pasti ada konsekuensinya.”
“Kenapa kamu tidak berhenti dan mencari pekerjaan lain?”
“Sebenarnya aku tidak menganggap ini sebuah pekerjaan, tapi sebuah misi dan balas budi. Kalau tidak ada Ronald aku mungkin sudah mati dan tidak bertemu sama kamu.”
“Ronald sudah aku anggap orang tuaku sendiri begitu pula sebaliknya, walaupun dia pemilik bisnis gelap tapi bagiku dia orang yang baik,” sambung Venus.
“Siapa nama orang tuamu?” tanya Bagas tiba-tiba.
“Irwan Haris dan ibuku bernama Rosa Subakti.”
Mendengar nama itu Bagas pun langsung terkejut dan bangkit dari tempat duduknya.
“Kenapa kamu tidak bersama mereka?” tanya Bagas.
“Kalau mereka masih ada di dunia ini aku tidak mungkin seperti ini,” ucapnya.
Mendengar ucapan itu Bagas langsung mengambil ponselnya dan bergegas menjauh dari Venus.
Ia menghubungi Adam yang saat itu berada di kantor.
“Halo Adam, kapan pertemuanku dengan Haris?” tanya Bagas.
“Kalau tidak salah lusa, karena hari ini pesawat pak Haris akan tiba,” sahut Adam dalam telepon.
“Baiklah.”
Bagas pun menutup teleponnya lalu kembali menghampiri Venus yang tengah memejamkan matanya dan berbaring di kursi pantai itu.
Tidak lama seorang pelayan kembali menghampiri Bagas.
“Tuan makan siang sudah siap.”
“Ya susah nanti aku ke sana,” sahut Bagas.
“Kita masuk dulu untuk makan siang dan kamu jga harus mengganti bajumu itu,” ucap Bagas melihat pakaian Venus yang masih basah.
Bagas menggandeng Venus, sambil menenteng highelsnya Venus berjalan masuk ke dalam Villa mewah dengan dinding kaca di depannya itu.
Seorang pelayan rupanya sudah menyiapkan pakaian untuk Venus, Venus pun berganti pakaian lalu menuju meja makan.
Meja makan itu sengaja di tata di depan dinding kaca agar mereka bisa menikmati pantai itu dari dalam.
Deburan ombak terdengar jelas di telinga, hembusan angin membuat daun-daun berayun dengan lembut.
Mata Venus terus menatap ke arah pantai itu, sampai selesai makan pun Venus masih duduk di sana.
Hingga matahari mulai turun, dari kaca itu Venus melihat beberapa pelayan mempersiapkan barang-barang untuk barbeque.
“Mereka mau ngapain?” tanya Venus.
“Pesta barbeque.”
“Hah serius?” ucap Venus dengan semringah.
“Untuk apa aku bohong.”
Dengan cepat Venus keluar dari Villa itu dan menghampiri para pelayan, ia membantu para pelayan itu walaupun mereka menolak dengan keras.
Seorang kepala pelayan memberi kode kepada Bagas yang sedari tadi memperhatikan Venus, Bagas mengangguk satu kali dan kepala pelayan langsung mengizinkan Venus untuk membatu hal-hal kecil saja.
Semua persiapan telah siap, langit cerah biru itu perlahan berbias jingga. Matahari sedikit demi sedikit mulai turun menciptakan efek yang begitu luar biasa di ujung langit.
Sinarnya seakan memancar di antara langit yang mulai gelap, Venus terus berdiri memandangi matahari terbenam itu.
Lagit semakin gelap, namun saat semua lampu di nyalakan villa dan tempat pesta barbeque itu begitu indah.
Tempat itu di pasangi lampu-lampu kecil di atasnya kursi-kursi mulai ditata, para pelayan pun berbaur dengan Bagas serta Venus.
Pesta barbeque itu tiba-tiba berubah romantis ketika salah seorang datang entah dari mana memainkan violin.
Seorang pelayan berlajan menghampiri Bagas dengan membawa sebuah tray yang ditutup rapat.
Saat di buka isinya hanyalah sebuah kotak kecil berwarna merah. Bagas mengambilnya.
Bagas membuka kotak kecil itu, ternyata sebuah cincin dengan permata kecil di tengahnya.
Bagas meraih tangan Venus lalu memasangkan cincin itu ke jari manis Venus tanpa berkata apa-apa.
Semua pelayan bersorak girang bahkan ada yang membuka botol champagne, seketika isi champagne itu menyembur keluar.
Venus yang masih bingung itu pun hanya bisa diam sambil menatap ke arah Bagas.
Kemudian Venus menatap jemari manisnya yang sudah terpasang sebuah cincin itu.
“Ini maksudnya apa Gas?” tanya Venus.
“Bukankan sekarang kamu milikku, jadi sekarang aku akan mengikatmu.”
Mata Venus berkaca-kaca seketika mendengar pernyataan yang tidak terlalu romantis itu namun hal itu sangat membuatnya tersentuh dan bahagia.
Venus langsung memeluk Bagas dengan erat sambil menangis karena terharu.