
Darah terus keluar, sambil mengemudi Venus terus memegangi bawah perutnya itu.
Baru setengah perjalanan, Venus merasa mobilnya sedang di ikuti.
Saat melihat ke bagian kaca spion benar saja mobil yang ada di belakangnya adalah mobil Bagas.
“Arghhh sialan!” umpat Venus sembari kembali memakai penutup wajah dan topi.
Venus pun meminta bantuan kepada Leon, beruntung Leon saat itu berada di dekat jalan yang Venus lalui karena sedang melakukan pemantauan.
Mobil Venus dan Bagas beradu, mereka saling kejar mengejar. Hingga mobil Bagas dapat mengimbanginya, saat Bagas sudah berada di samping mobil Venus ia membuka kaca mobil dan mengarahkan pistol ke mobil Venus.
Baru saja akan menarik pelatup tiba-tiba mobil Bagas di tabrak dari belakang dengan cukup kencang dan membuat Bagas oleng lalu menabrak pagar pembatas jalan.
Dengan kaca spion Venus melihat ke bagian belakang, terlihat Leon melambaikan tangannya sambil memacu mobil dengan kap yang penyok itu.
Sementara itu Bagas keluar dari mobilnya dan melihat mobil BMW hitam dengan plat yang di tutup itu melaju cepat meninggalkan Bagas.
“Sialan!” pekik Bagas.
Mobil Venus melaju melintasi jalan menuju pinggiran kota di susul oleh mobil Leon yang sedari tadi berada di belakangnya.
Venus keluar dengan baju penuh darah, ia meringis sambil mengambil barang-barangnya.
“Venus kamu terluka? Kenapa kamu gak bilang,” ucap Leon yang langsung membantu Venus berjalan dan membopongnya.
“Udah gak apa-apa, ini gak parah kok,” ucap Venus.
Leon membantu Venus duduk di sofa lalu memanggil seorang dokter dari agen mata-mata yang biasa menangani mereka ketika mereka terluka.
Mendapat kabar jika Venus terluka, Ronald sang bos agen mata-mata itu pun mendatangi Venus.
Tidak lama beberapa mobil berhenti di depan rumah Venus, terlihat Ronald keluar dari mobil sambil membawa seorang dokter.
Mereka pun masuk ke dalam rumah Venus, Ronal menyuruh dokter itu untuk mengobati Venus.
Wajah Venus yang sedikit memucat itu membuatnya cukup khawatir.
“Bagaimana keadaan kamu?” tanya pria berbadan tinggi serta tegap itu.
“Aman Bos, tenang aja,” sahut Venus.
Dokter pun mulai memeriksa luka Venus, rupanya darah Venus terus keluar.
“Luka tusukannya cukup lebar dan dalam, aki tidak bisa menanganinya di sini. Dia harus di bawa ke rumah sakit dulu.”
“Oh iya Bos, ini semua data sudah aku copy,” ucap Venus sambil memberikan hardisk itu kepada Ronald.
Ronald pun mengambilnya, lalu tiba-tiba menggendong Venus dan memasukkannya ke dalam mobil.
“Kita ke rumah sakit sekarang,” ucapnya kepada Leon dan juga dokter itu.
Mobil mereka pun melaju menuju sebuah rumah sakit besar yang ada di tengah kota.
“Bos mukanya kok panik gitu sih?” tanya Venus sembari bersandar di kursi mobil.
“Maafkan aku karena mendesakmu,” sahutnya.
“Dih ... Tumben Bos ngomong gitu,” sahut Venus.
“Ini akan jadi misi terakhirmu Venus. Kamu sudah aku anggap seperti anakku sendiri aku selalu merasa bersalah jika kamu terluka dalam misi,” sahutnya.
Venus pun terdiam dengan senyum kecil yang menghiasi bibir manisnya itu.
“Jika tidak ada Bos waktu itu, aku pasti sudah mati,” sahut Venus.
15 tahun yang lalu.
“Aduh sakit tante!” pekik Venus.
“Ingat ya, kamu jangan malas! Kamu harusnya bersyukur karena sudah aku bawa ke rumah ini,” ucap Agnes sembari menjambak rambut Venus.
Sementara itu Johan, adik tiri Venus terkekeh tertawa melihat Venus di perlakukan buruk oleh Agnes.
“Rasain kamu! Emang enak,” olok Johan.
“Johan kamu cepat berangkat nanti kamu terlambat ke sekolah,” ucap Agnes.
“Iya Ma, tapi pulang sekolah aku boleh jalan sama temen-temen ya,” ucapnya.
“Iya yang penting kamu sekolah yang pintar, jangan sampai kaya dia,” ucap Agnes melirik ke arah Venus yang masih sibuk membereskan rumah.
Johan pun berangkat dengan di antar oleh seorang sopir menggunakan mobil mewah milik Rosa yang di rampas oleh Agnes dulu.
Kehidupan Venus berbanding terbalik dengan Johan yang selalu di manja oleh Agnes, di rumah mewah yang berada kota kecil itu Venus di perlakukan layaknya seorang budak.
Bekerja tanpa henti dan diberi makan jika makanan yang ada di atas meja masih tersisa.
Venus yang saat itu sudah berumur 15 tahun itu tumbuh menjadi wanita yang cantik berkulit putih dengan bola matanya yang coklat itu menambah kecantikannya semakin terpancar.
Meskipun begitu, tubuhnya cukup kurus karena ia jarang bisa mendapatkan makan.
Sesekali Anto, sopir pribadi dari Agnes merasa kasihan dan diam-diam memberinya makanan.
Hingga suatu hari rumah megah Agnes itu kedatangan tamu dari ibu kota, seorang pria muda bersama seorang pria paruh baya.
Mereka datang dengan mobil mewah membawa beberapa penjaga berpakaian serba hitam.
“Tu-tuan Boris,” ucap Agnes terbata.
“Tanda tangani surat ini dan pergi dari rumah ini!” ucap pria paruh baya itu tiba-tiba.
“Tu-tuan saya mohon beri saya waktu, saya pasti akan melunasi semuanya,” ucap Agnes.
“Sudah berapa lama aku memberi kamu kesempatan? Bahkan bunganya saja kamu tidak membayar. Sekarang cepat tanda tangani surat ini dan silahkan angkat kaki dari rumah ini!”
Agnes bersujud sambil memegangi kaki pria itu, “Saya mohon Tuan Boris saya berjanji akan melunasinya tolong beri saya waktu,” ucap Agnes tersedu.
“Aaarrgh! Persetan! Cepat tanda tangani surat itu kalau tidak anak buahku akan sangat bersedia untuk menghabisi nyawamu dan juga anak bodoh itu!”
Rupanya Johan di tangkap oleh anak buahnya dengan tangan yang diikat.
“Johan! Saya mohon jangan sakiti anak saya,” ucapnya kembali bersujud di kaki pria itu.
Dukk! Pria itu menendang Agnes dengan kencang hingga Agnes tersungkur di lantai.
Pria muda yang sedari tadi terdiam itu pun lalu menghampiri Agnes dan langsung menjambaknya dengan kuat.
“Aku sudah memperingatkanmu Agnes, sekarang aku tidak ingin memberimu kesempatan lagi!”
Pria muda itu berdiri, “ Habisi dia,” ucapnya kepada para pengawal yang ada di belakangnya.
“Aku mohon Ronald beri aku kesempatan!”
“Mama! Jangan sakiti mamaku!” teriak Johan.
Bukk! Satu pukulan mendarat di perut Johan dan langsung membuatnya pingsan.
Terlihat para pengawal dari pria itu melucuti pakaian Agnes dengan paksa, Venus yang melihat hal itu hanya menatap ke arah Agnes dengan sorot mata penuh dendam dan tanpa sadar Venus mengeluarkan senyum kecil di bibirnya.
Semua pakaian Agnes robek dan berserakan, kini Agnes tidak mengenakan sehelai benang pun. Tubuh Agnes di lempar di sofa.
Para pengawal itu menggilirnya secara bergantian, teriakan minta tolong dari Agnes kini tidak ada artinya.
Pria muda itu duduk di sofa yang ada di seberangnya dan bersantai sambil menyalakan rokoknya. Ia seakan menikmati adegan itu dengan santai seakan sedang menonton siaran di TV.
Agnes terus berteriak, para pengawal itu mengepungnya dengan resleting yang telah di buka dan siap untuk melancarkan serangan.
Venus kembali tersenyum melihat Agnes yang di perlakukan seperti hewan itu.
Pria yang bernama Ronald itu rupanya tidak sengaja menangkap ekspresi Venus hal itu membuatnya penasaran.
Ronald pun menghampiri Venus. “Kenapa kamu tersenyum?” tanya Ronald.
Venus menggelengkan kepalanya, “Tidak. Saya hanya senang karena dia sekarang merasakan apa yang saya rasakan dulu,” sahut Venus.
Mendengar jawaban itu Ronald pun tertawa, “Sepertinya kamu bukan anak dari wanita ****** itu.”
“Dia membunuh mama dan membuatku menjadi budak di rumah ini dan sekarang dia pantas mendapatkan itu.”
“Hahaha ... Kalau begitu ambil ini,” ucapnya sambil memberikan sebuah tongkat kepada Venus.
“Untuk apa?”
“Hey kalian hentikan!” ucap Ronald.
Ronald seakan memberi isyarat kepada Venus untuk memukulkan tongkat itu ke tubuh Agnes, Venus yang paham akan hal itu pun tersenyum dan langsung menghampiri Agnes.
“Mau apa kamu anak sialan!”
Buk! Buk! Tongkat itu mengarah tepat di wajah Agnes.
Karena belum merasa puas Venus kemudian menginjak perut Agnes dengan keras hingga membuat Agnes berteriak ke sakitan.
Venus pun mulai merasa hal itu menyenangkan, ia mulai membabi buta memukuli Agnes menggunakan tongkat tersebut.
Ronald pun memberi isyarat kepada salah satu bawahannya untuk segera menghentikan aksi gila Venus itu.
Kini tubuh Agnes penuh memar dan wajah penuh luka.
“Sekarang kamu tanda tangani surat ini!”
Dengan jemari yang gemetar Agnes mengambil bolpoin yang ada di tangan penjaga itu lalu menanda tangani surat tersebut.
“Dan sekarang kamu ikut bersamaku,” ucap Ronald kepada Venus.
“Ikut om? Untuk apa?”
“Aku akan mengajarimu cara bertahan hidup di dunia yang gila ini,” sahutnya.
Venus pun tersenyum, “Tunggu sebentar,” ucap Venus sambil berlari masuk ke dalam kamar Agnes.
“Mau apa kamu?” teriak Agnes dengan lirih.
Karena penasaran Ronald pun ikut masuk ke dalam kamar tersebut, terlihat Venus tengah mengobrak-abrik lemari milik Agnes.
Ia mengambil perhiasan milik Rosa dan juga beberapa dokumen serta sebuah brangkas kecil yang tersimpan di lemari Agnes.
“Kamu belum aku ajari sudah curi start duluan,” ucap Ronald.
“Saya bukan sedang merampok, saya hanya mengambil milik saya yang dia rampas, lalu mobil yang di depan milik mama.”
“Ya sudah kalau begitu akan aku suruh bawahanku untuk membawa mobil itu ke rumahku.”
Dengan wajah semringah Venus membawa semua barang yang ada di lemari Agnes.
“Mau kamu bawa kemana milikku!”
“Ini bukan milik tante, ini milik mama aku harus mengambilnya dan juga mobil itu,” ucap Venus.
Venus berlalu pergi meninggalkan Agnes yang tengah terduduk lemas di sofa itu dan masuk ke dalam mobil Ronald.
Sementara itu Johan di biarkan begitu saja di lantai.
“Cepat bawa barangmu dari rumah ini dan pergi!” ucap pria paruh baya itu.
Dengan tertatih Agnes berjalan masuk ke dalam kamarnya dengan kondisi polos dan cairan yang melekat di pahanya. Agnes pun masuk untuk membersihkan diri dan bepakaian.
Ia mengemas semua barangnya dan juga Johan lalu pergi meninggalkan rumah mewah itu.
Sementara Venus duduk bersebelahan dengan Ronald, ia terliah terus menatap ke arah jalan seperti orang yang baru keluar dari goa.
“Kamu belum pernah keluar?” tanya Ronald.
“Belum. Terakhir kali saya keluar saat saya melarikan diri dari tante tapi malah tertangkap lagi dan di bawa ke kota ini.”
“Siapa nama orang tua kamu?” tanya Ronald.