
Cahaya matahari masuk melalui sela jendela, biasan cahaya itu juga mengenai mata Venus.
Venus pun membuka matanya perlahan, matanya terasa sangat silau sesekali ia mengerutkan alisnya.
Dengan menggunakan telapak tangannya Venus menghalau cahaya itu dari wajahnya.
Venus pun bangkit dari kasur besar itu dan mencoba mengenali ruangan tersebut.
“Kaya gak asing, ini kamar siapa?” ucap Venus.
Hingga Venus ingat jika kamar itu adalah kamat Bagas.
Spontan Venus langsung berdiri tiba-tiba.
“Ahhh ... Aduh sakit,” ucapnya sembari meringis kesakitan.
‘Kenapa aku bisa ada di sini?’ batin Venus.
Hingga perlahan Venus mengingat kejadian ketika ia di serang oleh sekelompok pria saat berada di Swiss.
“Apa mereka suruhan Bagas?” ucap Venus.
Dengan tertatih Venus berjalan menuju pintu untuk ke luar.
“Kok di kunci?” ucap Venus sambil berkali-kali berusaha membuka pintu.
“Bagas! Bagas! Buka pintunya!” teriak Venus sambil menggedor pintu kamar itu.
“Bagas!” teriak Venus lagi.
“Bagas Buka!”
“Aku tidak akan membiarkanmu pergi lagi Venus, kamu harus tetap di sampingku.”
“Maksud kamu apa Bagas?” teriak Venus.
“Dinginkan kepalamu. Aku akan membuka pintu ini jika kamu sudah tidak menolakku lagi.”
“Brengsek kamu Bagas! Sampai kapan pun aku gak akan sudi bersama kamu!” teriak Venus.
‘Lebih baik aku cari jalan keluar dulu,' batin Venus.
Venus pun berjalan ke arah jendela kaca besar yang ada di kamar Bagas, ia berencana kabur lewat jendela, namu rupanya jendela itu sudah di kunci sebelumnya oleh Bagas.
‘Sialan! Dikunci.”
Venus pun mencari beberapa benda yang bisa ia gunakan untuk membuka kunci itu, hingga ia menemukan sebuah lawat kecil dan menggunakannya untuk membuka kunci.
Demgan keahliannya membobol segala jenis kunci akhirnya jendela besar itu terbuka, Venus keluar dari jendela itu dan keluar melewati balkon.
Venus meregangkan semua jemarinya dan mulai melompat dari balkon satu ke balkon lainnya. Ia harus berusaha menahan rasa sakit akibat luka di bawah perutnya itu.
Hingga ia berada di balkon kamar paling ujung. “Tinggi banget, aku gak bisa turun kalau gini caranya,”
Tiba-tiba jendela yang ada di belakang Venus itu terbuka, terlihat seorang wanita terkejut karena di balkonnya ada Venus.
“Kamu siapa? Kamu maling ya?” ucapnya sembari bersiap melempar Venus dengan sebuah gelas.
“Bukan. Tolong jangan salah paham aku bisa jelaskan,” ucap Venus.
Melihat kondisi Venus yang pucat serta nafasnya tersengal-sengal, ia menurunkan gelas yang ia pegang.
“Gimana cara kamu ke sini?” tanya wanita itu.
“Aku di sekap di kamar yang ada di ujung sana, dan aku melarikan diri dengan cara melompati balkon-balkon itu hingga sampai di sini,” tutur Venus.
“Di-disekap? Apa kamu korban penculikan? Aku harus lapor polisi.”
Wanita itu bergegas mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi polisi.
“Tunggu dulu. Jangan lapor polisi,” pinta Venus.
“Kami punya masalah pribadi jadi mungkin karena itu dia mengurungku di dalam kamarnya,” sahut Venus.
“Apa dia pacar kamu? Itu tetap aja kriminal aku harus lapor polisi.”
“Tolong jangan aku mohon.”
Melihat Venus memohon padanya wanita itu menjadi tidak tega, ia pun menyuruh Venus untuk masuk.
“Ya sudah kalau begitu kamu masuk dulu.”
Venus bergegas masuk, dan menutup jendela balkon itu dan menutup gordennya.
“Terima kasih kamu sudah mau menolongku,” ucap Venus.
“Minum ini, sepertinya kamu kelelahan,” ucapnya sambil memberikan sebotol minuman dingin.
Wanita itu terus menatap Venus hingga membuat Venus kebingungan.
“Ada apa?”
“Kamu mirip dengan seseorang yang aku kenal, tapi dia cowok.”
“Oh ya. Apa dia pacar kamu?” tanya Venus.
Wanita berparas manis itu pun menggeleng, “Bukan, kami hanya teman.”
“Aku boleh pinjam ponsel kamu gak? Aku mau telepon teman ku dan minta jemput,” ucap Venus.
“Boleh. Pakai aja,” sahutnya sambil menyerahkan ponselnya.
Tangan Venus dengan cepat menyambar ponsel itu dan menekan nomor telepon yang sangat ia hafal yaitu bosnya sendiri.
Telepon dari Venus beberapa kali di tolak, namun Venus tidak menyerah ia terus menelepon hingga akhirnya di angkat.
“Bos. Ini Venus!” ucapnya.
“Kamu. Kenapa pakai nomor berbeda?”
“Aku di sekap tapi berhasil kabur.”
“Di apartemen yang disewa untukku kemarin, di lantai yang sama tapi di kamar paling pojok sebelah kanan, aku di selamatkan oleh seseorang,” sahut Venus.
“Kamu tunggu di sana lima menit lagi aku sampai.”
Venus pun mematikan teleponnya dan menghapus nomor tersebut dari ponsel wanita itu.
“Ini, terima kasih ya,” ucap Venus.
“Kamu katanya mau telepon teman kamu, tapi malah telepon bos kamu.”
“Bos ku ya temanku juga bahkan sudah seperti orang tuaku.
Wanita itu hanya mengangguk, Venus pun duduk dengan gelisah karena takut Bagas mengetahuinya.
Tidak lama tersengar sebuah ketukan pintu, wanita itu pun memeriksanya lewat layar kecil yang ada di samping pintu.
“Apa dia orang yang menjemputmu?” tanya wanita itu.
“Sialan mereka tahu aku kabur,” ucap Venus.
“Kamu sembunyi aja di dalam lemariku cepat!” ucapnya.
Venus pun bergegas berlari masuk ke dalam lemari yang ada di dalam kamar wanita itu.
Sedangkan wanita itu membuka pintu.
“Ada apa?” tanya wanita itu.
“Apa kamu melihat wanita ini di sekitar sini?” tanya pria itu sembari memperlihatkan foto Venus kepadanya.
“Gak ada, aku dari tadi belum keluar. Memangnya ada apa?”
Bukannya menjawab pertanyaan wanita itu, pria itu malah menerobos masuk ke dalam apartemennya.
“Hei ... Kamu ngapain main masuk aja gak sopan!”
Pria itu mengelilingi seisi apartemen, hal itu membuat wanita itu marah.
“Keluar! Jangan sampai aku panggil petugas keamanan!” bentaknya.
Pria itu tak menghiraukannya hingga ia masuk ke dalam kamar dan berusaha membuka lemari namun wanita itu menahannya.
“Hentikan! Kamu jangan lancang! Kamu gak tahu siapa aku,” ucapnya sembari menghalangi pria itu.
Tiba-tiba tangan wanita itu di tarik dan di lempar ke lantai. Namun rupanya waita itu tidak menyerah dan kembali menghalangi orang suruhan dari Bagas itu.
‘Sialan. Kenapa Ronald lama banget sih,' batin Venus.
Tiba-tiba seseorang masuk lalu menendang punggung pria itu hingga tubuhnya terpental ke pintu lemari.
Wanita itu pun berteriak karena kaget, “Aaaaa!”
Orang suruhan Bagas itu pun bangkit sembari memegangi punggungnya. Ronald langsung menyerangnya lagi hingga pria itu tumbang dan terkapar di lantai.
Ronald pun membuka lemari itu dan melihat Venus berada di dalamnya.
“Ronald!” pekik Venus dengan tersenyum.
Venus pun keluar dan menghampiri wanita itu.
“Terima kasih karena sudah membantuku, kamu cepat telepon polisi dan laporkan saja dia.”
Ronald mengikat kedua tangan dan kaki pria itu dengan kain putih yang ada di samping kasur.
Ronald juga memakaikan hoodie kepada Venus agar menyamarkan wajah Venus.
“Ayo kita pergi sekarang, aku tidak punya banyak waktu.”
Venus pun berpamitan dan pergi meninggalkan apartemen itu bersama Ronald.
Mereka berdua turun lewat lift, saat di dalam lift mereka harus di hadapkan dengan para bawahan Bagas, mereka juga berada di dalam lift tersebut.
Ronald menggenggam erat tangan Venus, Venus hanya bisa bersembunyi di balik hoodie.
Hingga lift sampai di lantai dasar, mereka berdua berjalan dengan santai hingga sampai di basemen dan masuk ke dalam mobil.
Venus pun bisa bernafas lega karena dapat kabur dari tempat itu.
Di dalam perjalanan Venus menceritakan apa yang terjadi saat di Swiss hingga ia bisa berakhir di apartemen itu, Venus juga menceritakan pernyataan cinta Bagas kepadanya.
“Sepertinya aku salah mengirimmu ke sana, aku malah membangunkan singa yang tengah tertidur panjang.”
“Maksudnya?”
“Dulu dia di kenal sebagai mafia berdarah dingin. Dia bahkan tidak segan-segan membunuh dan menyiksa orang yang bertentangan dengannya walaupun dalam hal yang sepele. Tapi itu dulu, beberapa tahun ini aku tidak pernah mendengar kasusnya lagi. Tapi sepertinya kita sudah membangunkan monster dari tidur panjangnya.”
“Itu artinya aku dalam bahaya?” tanya Venus.
“Ya bisa dibilang begitu. Sebenarnya alasanku mengirimu ke Swiss adalah untuk melindungimu, tapi nyatanya malah seperti ini.”
“Melindungiku? Dari siapa?”
“Bastian. Dia klien kita adik tiri dari target kita. Dia mengetahui jika kamulah agen yang aku kirim untuk menjadi mata-mata di perusahaan Bagas,” tuturnya.
“Lalu kenapa kalau dia tahu? aku kan membantunya kenapa aku harus di jauhkan dari dia?”
“Saat pertama kali dia melihat kamu, dia tertarik dan memintaku membawamu untuk tidur dengannya. Makanya aku memintamu cepat mengambil data itu dan mengirimmu ke tempat yang jauh.”
“Bastian adalah orang yang sangat berbahaya dan juga sangat berpengaruh besar, dia memiliki banyak bawahan yang terdiri dari orang-orang hebat. Agen kita tidak mungkin bisa menandinginya, jadi satu-satunya cara adalah menjauhkanmu sejauh mungkin.”
“Apa orang-orang suruhan Bastian mengancam dan menyerang kalian akhir-akhir ini?” tanya Venus.
“Kamu tidak perlu memikirkan hal itu.”
“Sepertinya akibat kesalahanku ini membuat masalah kita semakin pelik. Maafkan aku Venus kamu jadi terlibat semakin jauh,” ucapnya sembari menghela nafas.
Mobil mereka pun sampai di depan rumah Ronald, ia membawa Venus masuk lalu menyuruh Venus untuk beristirahat sejenak.