My Sugar My Precious

My Sugar My Precious
Satu piring berdua



‘Kok pada ngeliatin sih? Apa ada kotoran di mukaku?’ batin Venus.


Mereka berjalan masuk ke dalam lift, tidak hanya Venus dan Bagas saja yang ada di lift tersebut beberapa karyawan pun juga ikut masuk ke dalam lift bersama mereka.


Sejumlah mata memandang ke arah Venus bahkan Venus merasakan ada tatapan sinis di belakangnya.


“Kamu ikut meeting hari ini,” ucap Bagas.


“Siap Bos,” sahut Venus sambil cengengesan.


Terlihat Bagas mengeluarkan senyum tipisnya, sembari membenarkan jasnya Bagas berdiri tegap mengangkat kepalanya seakan bersikap angkuh.


Namun, anehnya tidak ada yang berani menatap bahkan menyapa Bagas. Saat berada di lift mereka semua diam seribu bahasa.


Pintu lift terbuka, Venus dan Bagas masuk ke dalam ruangan dan di sambut oleh Adam.


“Selamat pagi Pak Bagas,” ucapnya.


“Selamat pagi.”


“Pagi Pak,” sahut Venus  sambil tersenyum.


“Selamat pagi, apa anda asisten pribadi itu?” tanya Adam.


“Iya betul Pak,” sahut Venus.


“Saya Adam, sekretaris Pak Bagas,” ucapnya sambil mengulurkan tangannya.


“Saya Venus,” sahutnya sambil menjabat tangan Adam.


Bagas pun duduk di kursi kebesarannya itu, dan tanpa basa-basi Adam menjelaskan mengenai perkembangan beberapa perusahaan yang di naungi oleh Hilman group secara detail.


“Kamu duduk di sana,” pinta Bagas sambil menunjuk sofa hitam yang ada di ruangan itu.


Baru beberapa detik Venus mendaratkan bokongnya di sofa empuk tersebut, tiba-tiba Bagas berdiri.


“Kita ke ruang meeting sekarang,” ucapnya sambil berjalan berlalu di depan Venus.


‘Sialan. Dia mau ngerjain aku apa gimana sih, baru juga bokongku ini nempel di kulit sofa,' omelnya dalam hati.


Venus berjalan mengikuti Bagas serta Adam hingga masuk ke dalam ruang meeting. Di dalam terdapat banyak orang tengah duduk rata-rata usianya di atas Bagas.


“Baik mulai saja persentasenya,” pinta Bagas.


Persentase pun dimulai, seorang wanita menjelaskan proposal yang nantinya akan di tawarkan kepada vendor-vendor luar negeri.


Venus yang saat itu berdiri di samping Bagas pun juga memperhatikan wanita itu menyampaikan proposalnya.


Terlihat beberapa orang menganggukkan kepalanya seakan mengerti dengan apa yang di jelaskan wanita tersebut.


Pertanyaan demi pertanyaan dilayangkan kepada wanita itu dan ia pun dapat menjawab serta menjelaskannya secara jelas.


Usai meeting Venus dan Bagas kembali masuk ke dalam ruangan kerja, di sana Venus hanya duduk tanpa melakukan apa pun.


Suasana sepi dan senyap begitu terasa, hanya ada terdengar suara lembaran kertas yang sedari radi dibolak-balik oleh Bagas. Hingga terdengar suara dari panggilan alam yang berasal dari Venus.


Krruuuukkk.


Dengan cepat Venus menutup perut dengan kedua tangganya.


‘Duh bunyinya kok bisa nyaring begini sih. Malu-maluin aja,' batin Venus.


Bagas langsung menutup map yang ada di depannya dan meletakkan bolpoin yang ia pegang.


Bagas beranjak dari tempat duduknya.


“Ikut saya,” ucap Bagas singkat.


Tanpa bertanya Venus mengikuti Bagas, hingga sampai ke basemen dan masuk ke dalam mobil.


“Kita mau kemana sih?” tanya Venus.


“Pasang safety belt.”


Bagas mendengus, ia mulai mendekat ke arah Venus. Jarak mereka sangat dekat bahkan wajah mereka hampir bersentuhan.


Venus yang terkejut hanya terdiam sambil menatap ke arah Bagas, spontan Venus menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


“Jangan terlalu percaya diri,” ucapnya sambil memasangkan safety belt untuk Venus.


“Harusnya aku yang bilang begitu,” sahut Venus.


Mobil pun berjalan melaju memecah padatnya jalanan ibu kota, di dalam mobil Venus hanya diam dengan perasaan hati yang kesal namun ia tak dapat mengungkapkannya.


Tidak lama mobil pun berhenti di sebuah restoran, Bagas keluar mobil disusul oleh Venus.


“Kita mau ngapain ke sini? Kamu ketemu klien?” tanya Venus.


Bagas tidak menjawab pertanyaan Venus, ia hanya diam sambil terus berjalan, di restoran itu mereka berdua langsung di sambut dan di arahkan ke sebuah ruangan VIP.


Bagas pun duduk di kursi diikuti oleh Venus.


“Pesan,” ucapnya singkat sambil memberikan buku menu kepada Venus.


“Hah? Serius nih aku boleh pesan,” sahut Venus.


Bukannya menjawab Bagas malah menatap ke arah Venus, hingga membuatnya bingung.


“Kamu itu kalau ngomong jangan diirit! Bikin aku bingung,” ucap Venus.


“Ya sudah aku pesan. Awas aja kalau sampai kamu gak bayar!” ancam Venus.


Dengan semangat 45 Venus memesan beberapa makanan hingga hidangan penutup, karena sedari tadi ia menahan lapar membuatnya kalap dan memesan banyak makanan.


Sedangkan Bagas hanya memesan segelas americano coffee. 


“Kamu gak makan?” tanya Venus.


“Gak. Aku cuma mau kamu cicipi masakan di sini lalu kamu kasih tahu aku rasanya gimana,” sahut Bagas.


“Ohh ya sudah kalau gitu,” sahut Venus.


‘Aneh, mau makan aja harus suruh orang cicipi dulu,' pikir Venus.


Makanan yang Venus pesan pun datang, semua piring di tata di atas meja bundar berwarna putih itu.


Venus pun mulai mencoba satu persatu makanan itu dan menjelaskannya kepada Bagas.


“Ini rasa udang, dan memang ini beneran udang asli bukan kaleng-kaleng,” ucap Venua sambil mengunyah.


Alis Bagas pun berdenyit, “memangnya ada udang kaleng?” tanya Bagas.


“Nih kamu cobain aja jangan banyak nanya!” Venus tiba-tiba mengarahkan udang itu ke mulut Bagas dan memaksanya untuk memakannya.


“Nah gimana rasa udang kan?” 


“Memangnya ada udang rasa daging sapi?” tanya Bagas kesal.


Makanan demi makanan di coba oleh Venus dan setiap ia mencoba makanan itu ia akan memaksa Bagas untuk mencobanya juga hingga makanan di atas meja tersebut habis.


Tanpa mereka sadari mereka sudah makan satu piring berdua.


“Kenyang banget rasanya,” ucap Venus sambil bersandar di kursi dan menepuk perutnya.


“Akhirnya perutmu berhenti berbunyi,” ucap Bagas.


“Kalau begitu kita kembali ke kantor sekarang.”


Bagas beranjak dari tempat duduknya dan berjalan keluar ruangan tersebut, ia bahkan melewati meja kasir.


“Eh tunggu dulu! Kenapa kok kamu gak bayar? Bukannya harusnya kamu yang bayar. Jangan bilang kamu ngerjain aku,” ucap Venus sembari menarik tangan Bagas.


“Untuk apa membayar di restoranku sendir,” sahut Bagas sambil berlalu meninggalkan Venus.