
ZARA POV
Keluar dari kantor Pak Farhan, guru baru di sekolah ku tiba-tiba memanggil ku.
“Bu Zara. Maaf kelas IPA 3 di mana, ya? Kebetulan saya belum tahu”
Pak Farhan berjalan di samping mengiringi langkah ku. “Bukannya Pak Farhan udah satu minggu di sini. Kok, nggak tahu?”
“Saya mengajar di kelas XI, hari ini ada guru agama kelas XII yang minta digantikan” jelasnya.
“Oh” aku tersenyum baru nyambung.
Senyum ku mendadak menghilang ketika netra ku bertemu dengan netra Dirga yang sedang berjalan berlawanan dengan ku. Tanpa tersenyum dia melengos mendahului kami naik tangga.
Sebentar lagi bel pergantian pelajaran. Kebetulan aku mengajar di kelasnya. Ada apa dengan anak itu. Dia sepertinya tidak suka sekali melihat ku dengan Pak Farhan. Atau jangan-jangan dia berpikiran kalau Pak Farhan sedang pedekate dengan ku.
Di kelas IPA 1, tatapan dingin yang ku dapatkan dari Dirga. Tak ada senyuman di wajahnya dari awal aku masuk sampai pelajaran ku selesai. Atas dasar apa dia bersikap begitu dengan ku. Di mana senyum manis itu yang telah membuat hati ku dag dig dug ?
Beberapa hari setelah kejadian itu. Dirga terlihat sangat cool. Senyumnya hilang entah ke mana. Di kantor kepala ku mumet. Guru-guru sedang gembar-gembor menjodohkan ku dengan Pak Farhan. Pak Farhan itu laki-laki yang baik, sopan dan sholeh. Tapi kenapa juga harus dengan ku. Bukan kah Ayumi juga masih gadis atau Sulis, guru seni budaya yang juga masih jomblo.
“Pak Farhan sukanya sama kam,u Za” ujar Ayumi.
Aku menghentikan koreksian ku di kantor. Aku tidak percaya dengan ucapan Ayumi. Aku memang kagum dengan Pak Farhan tapi tidak ada getar-getar aneh yang ku rasakan ketika berada di dekatnya.
Aku menolak Pak Candra dengan alasan sudah punya calon yang sedang belajar di luar negeri jadi mana mungkin aku menerima Pak Farhan. Ah pusing. Belum ditambah sikap Dirga yang dingin dengan ku. Aaargh.
***
Hari minggu begini, ku putuskan mengisi perut ke Korean Food. Refresing menyegarkan otak yang mumet karena laki-laki. Benar saja di sana aku melihat Dirga sedang mengantar pesanan seorang pelanggan di mejanya. Dia melihat ku. Apa dia mau menolak pelanggan seperti ku?. Dia bisa tersenyum dengan pelanggan itu kenapa dengan ku pelit sekali. Emang apa salah ku.
Dia menghampiri ku sambil membawa daftar menu.
"Mau pesan apa?” tanyanya datar.
Aku mengambil daftar menu yang diletakkannya di meja.
“Kalau ekspresi mu begitu. Pelanggan bisa lari, lho” ledek ku.
“Udah pesan aja. Aku banyak kerjaan lain” ujarnya dingin.
Aku menghempaskan daftar menu di atas meja. Kesal.
“Aku nggak jadi makan di sini. Pemiliknya jutek banget” kata ku berdiri dari tempat duduk.
Dia menghela napas “Duduklah, aku minta maaf” tangannya mengisyaratkan agar aku duduk kembali.
“Sebagai permintaan maaf ku, Miss Zara boleh makan apa aja. Gratis” lanjutnya masih tanpa senyuman.
Aku bergeming. Bukan itu yang aku mau. Apa senyumannya yang harus ku bayar.
"Mau pesan apa?” tanyanya tersenyum kecil. Seolah mengerti apa maksud ku.
“Yang enak pokoknya” jawab ku datar karena masih merasa kesal.
“Ok Miss cantik. Ditunggu, ya”
“Bukan kamu yang buat?”
“Udah ada kakek”
“Oh, beliau udah sehat?”
“Alhamdulillah”
Lalu suasana hening. Apa aku harus menanyakan kenapa sikapnya berubah dengan ku?. Aku sibuk dengan pikiran ku sendiri.
“Miss” panggilnya.
“Ya” aku tersadar lalu melihatnya.
“Ada hubungan apa dengan Pak Farhan?” tanyanya.
Hah, apa gosip itu udah sampai ke telinga para siswa termasuk Dirga.
“Dia mau melamar ku” jawab ku pelan.
Ku lihat perubahan ekspresi Dirga ketika mendengar jawaban ku.
“Selamat kalau begitu” ucapnya serak.
“Apanya yang selamat, aku kan belum memberinya jawaban. Ya atau tidak” kataku.
“Bukannya Miss suka dengannya?”
“Siapa yang bilang?”
Dirga menggaruk tengkuknya. Kelihatan salah tingkah. Aku tersenyum kecil melihatnya.
“Menurut mu bagaimana?” tanya ku coba meminta pendapatnya. Dia tampak kaget dengan pertanyaan ku.
“Nggak usah diterima” jawabnya cuek.
“Hah, kenapa?” tanya ku bingung.
“Karena ada laki-laki lain yang mencintai mu” jawabnya serius menatap ku.
“Who?”
“Me”
Aku terbengong. Aku seperti melihat laki-laki dewasa dihadapan ku bukan seorang murid. Benarkah?. Its really.
“Kamu bercanda, kan?” tanya ku sambil tertawa kecil menutupi rasa gugup ku mendengar pernyataannya.
“Its true” jawabnya yakin.
Sejak pertemuan di Korean Food, aku hampir tidak berkomunikasi lagi dengan Dirga. Bukan karena pernyataan cintanya kepada ku waktu itu tapi karena kesibukan siswa kelas XII sedang Ujian Sekolah