
Zara masih teringat kejadian di depan kelas IPA 3 tadi siang. Dia benar-benar tidak menyadari kalau Dirga berjalan di belakangnya. Ketika Dirga memanggilnya dan badannya langsung berbalik, dia menabrak dada Dirga yang berperawakan tinggi itu. Aroma wangi maskulin menyeruak ke dalam hidung Zara.
Zara mendadak emosi karena accident itu. Zara merasa malu. Entah kenapa jantungnya berdetak kencang ketika berada di dekat siswanya yang satu itu.
Ketika dia tanya ada perlu apa Dirga memanggilnya, Dirga pun mendadak lupa.
'Huh, dasar aneh. Tapi kenapa aku tadi jadi galak dengan dia, ya' batin Zara.
Setelah menetralisir hatinya, Zara baru mengetuk pintu kelas IPA 3, sambil mengucapkan salam dia masuk ke dalam.
***
“Za, aku duduk di sini, yah” ujar Ayumi.
“Kenapa kamu?. Mau makan aja ribet banget, sih” omel Zara.
“Tuh, ada Dirga lagi makan di kantin juga. Handsome and cute banget tuh anak” tunjuk Ayumi.
“Lebay lagi” gerutu Zara memasukkan potongan bakso ke dalam mulutnya sambil melihat ke arah yang dimaksud Ayumi.
Deg. Netranya bertemu dengan netra Dirga. Siswa berparas Korea itu melihatnya atau Ayumi, ya. Zara menunduk melanjutkan suapan berikutnya agar makanannya cepat habis dan segera pergi dari kantin.
“Iih, tuh Angel ngapain coba duduk di samping Dirga?. Dasar cewek gatel!!” ujar Ayumi sewot. Dia benar-benar risih dengan siswa yang pecicilan seperti Angel itu.
Benar saja Zara melihat Angel tampak sedang membawa makanannya dan duduk di samping Dirga yang kebetulan kosong. Zara melihat Dirga agak sedikit terkejut dengan keberadaan siswi agresif tersebut.
“Kamu masih mau mengomel?. Sana samperin saja tuh Angel, Yum. Aku mau balik ke kantor, di sini gerah,” ujar Zara meninggalkan Ayumi. Entah memang gerah karena cuaca panas atau gerah karena melihat Angel mendekati siswa ganteng tersebut.
Kalau Dirga risih dengan Angel seharusnya dia juga pergi dari sana. 'Haduh, kenapa denganmu Zara?. Urusan begitu aja kamu pikirkan' omel Zara sambil berjalan menuju ke ruangan guru. Zara menarik napas panjang, dia sudah duduk di ruang guru.
Gadis itu melirik di sudut kanan ruangan, dia melihat di sana seperti ada Candra. Candra pun ternyata sedang melihat ke arah Zara. Laki-laki itu berusaha pendekatan dengan Zara, tapi sudah sekali untuk bisa bicara berdua saja.
'Ya Tuhan. Dia pasti mau menghampiriku. Sebelum kejadian, aku lebih baik bergegas keluar dari ruang guru' batin Zara melihat gelagat Candra. Ruangan guru masih tampak sepi karena semua guru makan di kantin guru. Para guru dilarang makan di dalam kantor oleh kepala sekolah.
“Bu Zara!” panggil Candra mengejarnya. Benar sekali dugaan Zara, Candra memang mau mendekatinya.
“Maaf, Pak. Saya lagi ada perlu,” ucap Zara meninggalkan Candra, dia cepat-cepat melangkahkan kakinya keluar dari kantor.
Setelah meninggalkan ruangan guru. Zara tampak berpikir. Satu-satu tujuan gadis itu untuk menghindari Candra adalah ke perpustakaan. Waktu istirahat masih 15 menit lagi.
Zara tampak celingak-celinguk di dalam perpustakaan yang tampak sepi, takut kalau Candra menyusulnya. Zara pun masih berjalan sambil mundur-mundur di sisi rak buku.
Bukk!!
Zara tanpa sengaja telah menabrak seseorang. Saat dia membalikkan badannya, dia sangat terkejut melihat sosok orang yang telah ditabraknya.
“Dirga!!. Ngapain kamu di sini?” tanya Zara kaget setengah mati melihat sosok yang ditabraknya.
“Miss sendiri ngapain, mengendap-endap seperti sedang menghindari seseorang” tatap Dirga penuh selidik.
“Bukan urusan kamu!” kata Zara cuek lalu duduk di meja baca. Dirga pun ikut duduk di sebelah Zara sambil melirik gurunya itu.
“Kamu sendiri ngapain di sini?. Bukannya tadi sedang makan di kantin?” tanya Zara. “Kamu menghindari seseorang juga, ya?.”
Zara melihat Dirga hanya tersenyum. 'Senyuman kamu itu benar-benar menyebalkan, karena sudah membuat hatiku dag-dig-dug begini' batin Zara sambil mencoba menetralisir hatinya.
“Jadi cowok ganteng dan jomblo itu susah juga, ya” toleh Dirga ke arah Zara.
Zara melebarkan matanya. 'Nih, anak narsis juga. Emang sih, dia ganteng tapi ... tunggu dulu ... Dirga jomblo?. Nggak masuk akal. Masa siswa seperti dia, JOMBLO' dialog hati Zara tidak yakin dengan ucapan siswanya itu.
“Kenapa?” tanya Zara ingin tahu apa alasan Dirga sampai bisa bicara seperti itu.
“Banyak yang naksir” jawab Dirga santai.
Gubrak!!. 'Pede abis, dah. Eh, tunggu dulu. Kenapa aku dan dia kayak teman saja nih ngobrolnya?' tanya hati Zara merasa aneh. Dirga dan dia mengobrol tanpa rasa canggung. Padahal statusnya, Dirga itu adalah muridnya.
“Kalau kamu nggak mau banyak gadis yang naksir, ya pakai topeng saja” saran Zara tersenyum geli.
Dirga menoleh melihat ke arah Zara. “Pakai topeng joker,” lanjut Zara sambil menutup mulutnya menahan tawa. Dirga menatap Zara dengan tatapan jengkel. Bisa juga gurunya itu bercanda. Dirga pikir Zara termasuk guru yang serius.
“Sudah tertawanya?” tanya Dirga cool.
'Oh, My God' jerit hati Zara.
Dia menoleh ke kanan dan ke kiri, ternyata di ruang perpustakaan itu ada beberapa siswa yang sedang membaca. Zara senyam-senyum sendiri karena masih geli membayangkan Dirga memakai topeng joker.
“Bukannya cowok kayak kamu senang kalau banyak yang naksir. Kenapa malah susah?” tanya Zara heran. Dirga kan banyak fansnya di sekolah. Baik yang terang-terangan mengaguminya maupun yang hanya diam-diam saja.
“Aku tidak suka!” jawab Dirga singkat sambil melirik Zara.
“Ya, baguslah kalau begitu. Itu artinya kamu bukan tipe cowok yang suka memanfaatkan tampang hanya untuk mempermainkan perasaan cewek. Emang kamu nggak ada yang suka apa dengan cewek-cewek yang naksir sama kamu?” tanya Zara lagi.
“Nggak. Perempuan yang mengejar laki-laki itu nggak bagus. Di mana harga dirinya sebagai seorang perempuan. Tidak punya malu. Kalau agresif seperti itu, siapa yang mau” jelas Dirga mengutarakan pendapatnya. Zara hanya terdiam mendengarkan jawaban Dirga.
Tidak terasa waktu istirahat sudah berakhir. Obrolan Zara dengan Dirga terjadi tanpa sengaja. Ternyata Dirga memiliki penilaian tersendiri tentang perempuan.
'Huh, untung aku nggak termasuk fans dia' batin Zara bersyukur. Bisa jatuh harga dirinya di mata siswanya itu.
“Kamu masih mau di sini?. Udah bel, sana masuk kelas” perintah Zara menatap Dirga sambil menyilangkan tangannya di dada.
Dirga beranjak dari tempat duduknya. Sebenarnya dia masih ingin ngobrol dengan gurunya itu tapi apa daya, bel masuk sudah berbunyi.
“See you” Dirga tersenyum sambil melambaikan tangannya melihat Zara yang masih berada di dalam perpustakaan lalu bayangannya pun menghilang di balik pintu perpustakaan.