My Student, I'm in Love

My Student, I'm in Love
Part 15: Rindu



Dirga POV


Sudah tiga hari aku tidak menghubungi Zara. Apa kabar dia di sana, ya? Dia pun tidak menghubungi ku. Apa dia sedang sibuk ?


Aku memandangi ponsel di atas meja tempat ku membaca buku di perpustakaan kampus. Aku rindu dengan suaranya. Padahal belum lama kami terpisah oleh jarak dan tempat tapi serasa sudah berbulan-bulan tidak bertemu.


"Dirga, eojeneun eoje eottaess-eo?Kkeutnass-eo? (Dirga, bagaimana tugas kemarin? Apakah sudah selesai?)" Tegur dosen ku tiba-tiba membuyarkan lamunan ku ketika sedang duduk di perpustakaan. Beliau lalu duduk di samping ku.


"Imi seonsaengnim (sudah, Pak)" jawab ku menoleh ke arah beliau.


"Dangsin-eun mueos-e daehae saeng-gaghago issseubnikka ? (Apa yang kamu pikirkan?). Geuleon gongsang-eul. (Sampai melamun begitu)" ujar beliau.


"Amugeosdo anibnida. Naneun abeojiui bang-e nae uimuleul mo-eul geos-ida. (Tidak ada. Aku akan kumpulkan tugas ku ke ruangan bapak)" ucap ku tersenyum.


"Al-***-eo gidaligo iss-eoyo. (Baiklah. Saya tunggu)" beliau menepuk pundak ku lalu beranjak meninggalkan ku.


Huh. Lega sekali beliau sudah pergi. Pak Ahnjong adalah salah satu dosen yang sangat perhatian dengan mahasiswanya. Jika melihat mimik wajah kita tidak seperti biasanya maka dia akan bertanya. Sebenarnya beliau bisa menjadi tempat curhat dan mencari solusi jika ada masalah. Beliau akan senang hati membantu mahasiswanya yang sangat terbuka dengannya.


Aku ingin menelpon Zara. Tapi jam segini dia pasti sedang mengajar. Udahlah nanti sore saja.


***


Menjelang sore hari di Seoul, aku video call dengan Zara. Belum ada tanda-tanda Zara mengangkat panggilan dari ku.


Tak lama layar ponsel ku menampilkan wajah wanita yang ku rindukan. Sepertinya dia berada di dalam kamar, karena terlihat Zara sedang tidak memakai jilbabnya.


[Assalamualaikum, Miss Zara] sapa ku tersenyum.


[Ihh apaan sih, kamu. Panggil Miss Zara segala]


Zara tampak tersipu malu kalau ku sapa dengan panggilan Miss Zara, panggilan ku dulu ketika menjadi muridnya.


[Honey, I Miss you]


Ku lihat dia tertawa kecil mendengar ucapan ku.


[I Miss you too, My husband]


[Ra, kamu lagi sibuk ya?]


[Namanya juga guru, banyak juga kerjaan di sekolah. Kenapa?]


[Sampai nggak sempet menghubungi suami lagi?]


[Aku menunggu kamu aja yang menghubungi ku. Karena aku takut mengganggu kamu, mungkin kamu sedang belajar]


[Kenapa?]


[Kapan, ya? Aku bisa menemui kamu?]


[Kamu, cepat selesaikan study di sana.]


[Iya, doain saja]


[Ga, udah adzan ashar. Tutup dulu,ya. Aku mau sholat]


Oh ya, beda waktunya kan dua jam lebih dulu di tempat ku.


[Ya udah, nanti aku telpon lagi]


Ku lihat Zara mengangguk lalu aku memutus sambungan video call kami. Kalau soal sholat Zara selalu tepat waktu, kadang aku merasa tersentil oleh kedisiplinannya. Aku pun yang dipercayainya sebagai imam dalam rumah tangga akan berusaha untuk lebih baik lagi.


***


Selesai sholat isya aku menelpon Zara kembali. Untuk mengobati rasa rindu aku pun selalu menggunakan video call. Hingga larut malam kami berbagi cerita tentang aktivitas dari pergi kerja hingga pulang ke rumah.


[Ga, kamu nggak ngantuk apa? Nanti kesiangan, lho]


[Nggak ngantuk kalau lihat wajah kamu]


Zara tersenyum kecil. Aku belum mau mengakhiri telpon.


[Makin lama kamu makin hobi menggombal, ya]


[Karena sebelum kita nikah, aku nggak berani gombalin kamu. Nanti nilai bahasa Inggris ku kecil lagi]


Aku terkekeh sendiri mengingat masa sekolah dulu.


[Untung ya, kamu nggak ngelakuin itu. Kalau dulu kamu sampai berani gombalin aku, mana mau aku sama kamu]


Zara memanyunkan bibirnya. Kalau dia berada di dekat ku, sudah ku sosor tuh bibir. Aku jadi tertawa geli melihatnya.


[Ya udah, istirahatlah. Jangan lupa mimpikan aku malam ini, ya]


Aku menggodanya, sebelum mengakhiri video call kami lalu aku memberikan kiss bye kepada Zara. Setelah itu aku baru mengucapkan salam. Zara tersenyum lebar lalu membalas ucapan salam dari ku.


Esok pun akan selalu berkomunikasi seperti ini. Menyimpan rindu dari hari ke hari sampai ada waktu aku bisa menemuinya di sana.