
Dirga melihat Zara makan di kantin. Di antara guru-guru yang lain memang hanya Zara dan Ayumi yang tampak suka membaur di kantin siswa. Sementara guru yang lain makan di kantin guru. Netra Dirga bertemu dengan netra Zara. Zara melihat Zara menyuap makanannya dengan cepat. Tiba-tiba Angel anak IPA 3 duduk di sebelah Dirga.
“Eh bangku di samping Dirga kosong, aku duduk di sini, ya” ujar Angel.
“Di sebelahku juga kosong. Maunya dekat Dirga saja” sungut Rio.
“Ga, kalau dia melihat kamu sama Angel nanti cemburu, lho” lanjut Rio melirik Angel.
“Dia?. Siapa?. Dirga sudah punya pacar, ya?,” tanya Angel penasaran. Ada raut kecewa di wajahnya ketika mendengarkan ucapan Rio.
Dirga hanya diam saja. Dia kemudian melihat Zara sudah tidak ada lagi didekat Ayumi.
'Ke mana?' batin Dirga. Dia kemudian langsung menghabiskan makanannya.
“Aku duluan, ya” kata Dirga meninggalkan Rio dan Angel.
“Eh, Ga mau ke mana?” panggil Angel. Wajah gadis itu cemberut karena sudah diabaikan oleh Dirga.
"Dirga!!" panggil Angel lagi.
Dirga tidak mengubris panggilan Angel. Cewek seperti Angel bukanlah tipenya.
'Sok cantik banget tuh anak, dia pikir aku bakal tertarik dengannya. Dengar dari teman-teman kalau ketua OSIS sudah jadi mantannya. Sekarang bukannya dia pacaran dengan Aldy, anak basket itu. Eh, malah mau mendekatiku. Ampun benar deh, cewek zaman sekarang' batin Dirga sambil menggelengkan kepalanya.
'Lebih baik aku ke perpustakaan saja, waktu istirahat juga masih banyak' batin Dirga lagi sambil melangkahkan kakinya menuju ke perpustakaan.
Dirga berdiri di depan rak buku, dia sedang mencari buku yang menarik untuk dia baca. Namun dia mengurungkan niatnya karena melihat sosok perempuan berjilbab panjang sedang berjalan mundur mengendap-endap di depannya.
Ternyata perempuan itu adalah gurunya, Zara. Ketahuan setelah Zara menabraknya. Mereka berdua pun mengobrol seperti teman dekat saja. Meskipun Zara suka meledeknya, namun dari sana dia bisa mengeluarkan pendapatnya tentang perempuan agar Zara tahu.
Tanpa terasa waktu bel istirahat berakhir, ada rasa enggan di hatinya untuk meninggalkan perpustakaan. 'Its crazy!!' batin Dirga sambil berjalan menuju ke kelasnya. Sungguh dia tidak percaya ingin berlama-lama berada di dekat gurunya itu.
***
Tiba di kelas, Rio langsung bertanya. Duduk saja belum, cowok satu itu memang suka kepo urusan orang lain.
“Darimana kamu, Ga?” tanya Rio ketika melihat Dirga baru masuk.
“Bertemu someone” jawab Dirga tersenyum.
“Cewek yang kamu suka itu, ya” tebak Rio. Dirga hanya mengangguk.
“Anak IPA berapa?. Atau anak IPS?” tanya Rio kepo.
“Secret!!” ujar Dirga tidak mau memberitahu Rio. Bibir Rio pun manyun.
“Jelek banget kamu, Ri” ledek Dirga tertawa kecil. Rio memukul pundak Dirga.
“Dia gadis yang anggun dan nggak agresif kayak cewek lainnya” kata Dirga hanya memberi clue kepada Rio.
Bagaimana pun dia tidak ingin Rio tahu kalau dia sedang menyukai seorang guru.
“Hmm. Kalau soal anggun itu mah anak Rohis. Serius? Kamu naksir anak Rohis?” selidik Rio. Dirga hanya diam.
“Anak Rohis yang paling cantik itu Silvia, serius kamu suka dengannya, Ga?” tanya Rio lagi tidak percaya kalau memang benar Dirga menyukai cewek seperti Silvia.
“Hey, memangnya kalau anggun harus anak Rohis apa. Nggak juga kali” jawab Dirga mengelak.
“Tapi mungkin saja dia juga mantan anak Rohis” sambung Dirga tersenyum penuh misterius kepada Rio.
“Bodo, ah. Mumet kepalaku main tebak-tebakan sama kamu, Ga” ujar Rio menyerah. Dirga terkekeh melihatnya.
***
Bel pulang sekolah berbunyi. Dirga menawarkan diri kepada Bu Airin, guru Fisikanya untuk membawa buku latihan ke ruang guru. Tujuan Dirga adalah agar dia bisa melihat Zara apakah gurunya itu sudah pulang atau belum.
Dirga masuk ke ruang guru,dia melihat Zara masih di mejanya menyelesaikan koreksian buku siswa.
'Konsentrasi sekali dia tanpa menyadari kehadiranku' batin Dirga.
Dirga tahu bahwa Zara tidak membawa kendaraan. Jadi dia memutuskan untuk menunggu Zara di luar kantor dan menawarinya tumpangan.
Lima belas menit menunggu.
'Nah, itu dia' gumam Dirga.
Dia kemudian menjalankan Sigra silver miliknya ke arah Zara.
"Shit!!" umpat Dirga.
Dirga kemudian membuka kaca pintu mobil, sambil melihat ke arah Zara. Dan Zara pun melihat ke arah Dirga. Dari ekspresinya sepertinya Zara memohon bantuan dari Dirga. Dirga bisa membacanya. Dia pun segera keluar dari mobil menghampiri Zara.
“Maaf, Pak Candra. Saya pulang bareng Dirga. Dirga tadi minta ditemani ke toko buku. Dia kan baru pindah ke kota ini jadi belum tahu tempatnya” ujar Zara sambil melirik Dirga. Rasanya Dirga ingin tersenyum. Namun ditahannya.
'Berani juga dia mengarang cerita' batin Dirga.
“Lho, Dirga kan bisa minta temani sama temannya. Masa Bu Zara harus repot-repot menemaninya” ujar Pak Candra tidak suka sambil melihat ke arah Dirga.
“Buku yang mau dicari itu tentang pelajaran saya. Jadi, sekalian juga saya mau beli buku. Saya duluan, Pak Candra. Ayo, Dirga” Zara langsung pamit dan menuju ke mobil Dirga yang ada di belakang mobil Candra.
Dirga langsung membukakan pintu untuknya. Lalu tersenyum hormat dengan Candra. Dirga melihat wajah gurunya itu sangat tidak menyukainya. Mungkin karena Dirga telah menggagalkan niatnya untuk bisa pulang bareng dengan Zara.
“Kamu kok, belum pulang?” tanya Zara setelah berada di dalam mobil Dirga.
“Untung aku belum pulang. Emang mau dianter oleh Babang Candra” jawab Dirga sambil terkekeh.
Dirga tahu kalau Candra naksir berat dengan guru cantiknya itu. Dirga bisa melihat dari tatapan tak suka Candra kepadanya tadi.
“Dirga!!” teriak Zara kesal.
“Sorry” kata Dirga sambil menutup mulut dengan tangannya.
“Orang nanya apa, dijawab apa. Dasar!!. Jamu nggak nyambung!” gumam Zara kesal. Hm, menyinggung, nih.
“Nungguin Miss lah, kan katanya tadi mau menemani aku ke toko buku” ujar Dirga mengingatkan. Zara menoleh ke arah Dirga dengan mata membulat.
“Nggak boleh bohong” ingat Dirga lagi karena merasa diintimidasi oleh tatapan Zara.
Zara sudah terjebak oleh ucapannya sendiri. Dirga hanya senyam-senyum sambil terus melajukan mobilnya.
“Oke” gumam Zara pelan.
“Pak Candra kayaknya naksir berat, tuh” toleh Dirga.
“Bodo!!” ujar Zara memanyunkan bibirnya.
'Bikin gemas aja' batin Dirga. Dia baru mengetahui sisi lain seorang Zara ketika di luar sekolah, seperti anak kecil meskipun usianya 5 tahun lebih tua darinya.
“Laki-laki itu harus ditegaskan. Kalau nggak suka ya bilang saja. Jangan bikin dia mengharap terus” ujar Dirga.
“Sok tahu banget!” ketus Zara.
“Pak Candra belum ditegaskan, kan?. Makanya dia usaha terus” tambah Dirga lagi.
“Jadi laki-laki itu harus peka, dong. Orang udah menghindar terus, masih aja pendekatan. Malas banget. Nanti diketusin jadi sakit hati. Serba salah” gerutu Zara sambil menyilangkan kedua tangannya di dada.
“Bilang saja sudah punya calon” saran Dirga.
“Hah, siapa?” tanya Zara heran. Orang dia tidak punya calon sama sekali.
“Nih, yang lagi nyetir” canda Dirga sambil tertawa.
Zara menoleh ke arah Dirga. Ucapannya tadi spontan saja, tapi dalam hati sebenarnya dia serius. Zara pun melihat ke arahnya. Sekilas netra mereka bertemu. Lalu mereka berdua sama-sama membuang pandangan ke depan. Hening.
***
Setelah mendapatkan buku yang dia cari, Dirga mengantar Zara pulang . Sebenarnya dia mau mengajak gurunya itu makan, tapi waktunya tidak tepat melihat sikap Zara mendadak berubah setelah mendengar ucapannya tadi.
“Thanks, ya” ucap Zara sebelum turun dari mobil.
“Miss, may I know your phone number?” tanya Dirga sebelum dia menjalankan mobilnya.
“For what?” Zara balik bertanya. Dia tidak pernah memberikan nomor kontaknya kepada sembarang siswa.
“Kalau ada tugas yang aku nggak ngerti kan nanti bisa nanya” jawab Dirga beralasan. Zara pun tampak berpikir lama.
“Ya, sudah kalau nggak boleh” ujar Dirga kecewa.
Dirga melihat Zara mengambil secarik kertas di dalam tasnya lalu menulis sesuatu di kertas.
“Nih, jangan kasih tau siswa lain, ya” kata Zara sambil menyerahkan kertas yang tertulis nomor kontaknya.
'Yes!!. Dapat juga nomor kontaknya' Dirga berteriak di dalam hati.
Dirga melajukan mobilnya meninggalkan rumah Zara dengan hati yang berbunga.