
Dirga POV
Setelah Zara pulang ke negaranya. Aku belum sempat menghubunginya. Aku takut dia akan berurai air mata jika langsung ku telpon setelah dia tiba di rumah mama mertuaku.
Tapi aku lihat status di IG Zara, dia tiba dengan selamat terlihat caption mereka ketika berada di bandara. Tidak banyak foto pribadi yang Zara upload di IG-nya. Bahkan foto berdua setelah kami menikah pun tidak kulihat satu pun di sana. Aku tersenyum sendiri. Apa alasan yang membuatnya tidak mau memberitahu kepada dunia bahwa aku adalah suaminya. Padahal banyak IG teman-temanku belum sah sebagai suami istri saja sudah bangga menunjukkan kemesraannya kepada publik, captionnya pun sudah panggil Mama Papa segal
Hari ini aku mencoba untuk menelpon Zara. Sambil menunggu panggilanku disambutnya, aku mengingat kembali kemesraan kami selama dia berada di sampingku kemarin. Rasanya masih kurang mengingat kami tidak pernah pacaran sebelum menikah. Kini setelah menikah pun harus berpisah tempat.
'Kenapa telponku belum diangkatnya juga'
Aku mencoba beberapa kali menghubungi Zara, namun tidak ada jawaban juga. Aku pun mencoba berpikiran positif saja. Mungkin dia sedang mengajar dan ponselnya sedang tertinggal di dalam tas.
"Hey, Bro. Kamu telpon siapa?" Tanya Raka, teman kuliahku yang berasal dari Indonesia.
Aku memang dari tadi sibuk memegangi ponsel dan terus menghubungi Zara. Namun nihil.
"Biasa, Ka. Istri tercinta" jawabku tersenyum.
"Bukannya dia ada di sini?" Tanya Raka heran.
"Iya, tapi udah pulang. Cuma sebentar karena ada urusan" jawabku.
"Hmm. Pantesan lihat kamu udah galau lagi" Raka terkekeh melihat wajahku. Kelihatan banget, ya.
"Kamu nggak ngerasain sih, tersiksanya LDR-an begini" gumamku.
"Ah, itu salah kamu sendiri karena nggak sabaran mau nikah padahal masih kuliah" sindir Raka.
"Habis mau bagaimana lagi. Aku udah cinta banget sama dia. Aku nggak mau menimbun dosa karena terus memikirkan dan membayangkan sosoknya. Dosa tau!! Iya,kan?"
"Benar juga. Itulah kenapa aku belum mau jatuh cinta. Takutnya kayak kamu. Nelangsa sendiri!" Raka tertawa lagi melihatku.
"Terserah kamu, Ka. Tapi kamu belum bisa ngerasain nikmatnya punya istri karena kamu belum nikah" balasku tidak mau kalah menyindirnya.
Raka hanya memanyunkan bibirnya. Laki-laki jangkung blasteran Jawa-Australia itu juga tidak mau terjebak dalam pacaran ala anak muda sekarang. Wajahnya yang tampan itu tidak menjadikannya seorang pemuda yang suka gonta-ganti pacar. Lha pacar saja dia nggak punya.
"Kamu nggak kepikiran ke Indonesia, Ga?" Tanya Raka.
"Ada, tapi nanti kalau udah menyelesaikan tugas akhirku" jawabku.
"Liburan nanti aku mau pulang, Ga. Mau bareng, nggak?" Tawar Raka kepadaku.
"Lihat situasi. Aku sih kalau bisa besok juga ke Indonesia" balasku tersenyum.
"Okelah. Aku mau cari teman bareng pulang. Biar nggak garing sendirian di pesawat" ucap Raka.
"See you" lanjut Raka lalu melambaikan tangan meninggalkanku.
Aku coba menelpon Zara kembali. Kenapa hatiku mendadak cemas begini ? Ini karena efek panggilanku yang sudah berapa kali tidak dijawab olehnya.
[Assalamualaikum] sapa suara lembut di seberang sana. Hatiku menjadi lega, akhirnya ada jawaban juga.
[Waalaikumsalam. Ra, kamu ke mana aja. Kok, telpon dariku baru diangkat?]
[Ya Allah, Dirga. Aku ini lagi di sekolah. Ponselku di dalam tas dan aku ke kelas nggak bawa tas]
Sudah seperti yang ku duga kan. Ponselnya ketinggalan di dalam tas.
[Maaf, aku hanya khawatir saja]
[Aku baik-baik saja, kok. Kamu lagi di kampus, ya?]
[Iya, bentar lagi juga pulang. Mau cepat pulang juga nggak ada yang menantiku pulang]
[Udah, nggak usah buat aku mewek]
Aku tersenyum getir. Pasti dia udah banyak menangis di sana.
[Kapan? Masih lama?]
[Nggak, bentar lagi kok. Kamu jemput aku nanti, ya]
Ku dengar ada suara tawa di sebrang sana.
[Kok, ketawa?]
[Iya. Ga, udah dulu ya. Bentar lagi waktu istirahat habis. Aku belum ngisi perut ini, lapar]
[Oh, ku kira udah kenyang karena mendengar suara suamimu ini]
[Ya Allah, itu berlaku untuk orang yang hobi digombalin. Nggak kenyang makan gombalan. Lapar, ya harus makan!]
Aku terkekeh. [Ya, udah. Nanti malam aku telpon lagi atau kalau kamu ada waktu senggang misscall aja nanti aku telpon balik]
[Insya Allah. Bye my handsome]
[See you, my sweetheart]
Aku menutup panggilan setelah mengucap salam.
***
Dua Minggu kemudian
Zara POV
Sejak tiba di sekolah, perutku terasa mual-mual. Padahal aku sudah sarapan pagi. Alhasil berapa kali aku bolak-balik ke kamar mandi untuk menguras isi perutku. Seperti saran Bu Rida aku ke puskesmas terdekat. Kata Bu Rida kalau aku tidak ada penyakit maag bisa jadi itu karena aku hamil. Ya Allah, apa benar begitu. Jantungku kok jadi berdebar kencang.
Ayumi pun menemaniku ke puskesmas untuk periksa. Dia merasa khawatir kalau aku pergi sendirian.
"Gimana Dok, aku sakit apa?" Tanyaku setelah diperiksa Dokter Selina, nama yang tertulis pada name tag acrilyc di atas meja kerjanya.
"Nggak sakit kok, Bu Zara udah periksa ke dokter kandungan belum?" Tanya dokter Selina.
"Belum, dok. Teman saya ini baru ketemu suaminya di Korea sana sekitar dua minggu yang lalu. Maklum Dok, pengantin baru" jawab Ayumi tersenyum melirikku. Dia duduk di sampingku.
"Lebih kurang begitu, Dok" timpalku.
"Kalau hasil pemeriksaan saya, nggak ada gejala apa-apa. Kalau pengantin baru ya itu, kemungkinan ibu Zara hamil. Untuk lebih pastinya periksa ke dokter kandungan saja" jelas dokter Selina tersenyum.
"Iya, Dok. Kalau begitu terima kasih informasinya" ujarku.
Karena penasaran setelah dari puskesmas aku dan Ayumi mampir ke apotik untuk membeli test pack. Ke dokter kandungannya lain kali sajalah.
Tiba di sekolah kembali, aku langsung menuju ke kamar mandi. Kata orang sih harus air seni pagi biar akurat. Tapi ya kalau emang positif, waktu kapan aja ya tetap hasilnya positif juga, kan.
"Gimana?" Tanya Ayumi pelan setelah aku kembali ke ruang guru.
"Hasilnya dua garis, Yum" jawabku pelan sambil tersenyum.
"Zara, selamat ya. Oleh-oleh dari Korea ini" ujar Ayumi tertawa kecil lalu menutup mulutnya dengan tangan.
"Ish kamu ini, bisa aja" balasku tersipu. Alhamdulillah, Allah percaya kepada kami dengan cepatnya memberikan keturunan.
"Kamu kasih tahu Dirga, dong. Dia pasti bahagia sekali" usul Ayumi.
"Nanti aja, Yum" elakku.
Bukannya dia nanti akan pulang ketika liburan. Tapi setahuku liburannya masih lama deh.
Tiba di rumah aku langsung memberitahu Mama apa yang sudah ku alami pagi tadi di sekolah. Mama pun menebak kalau aku memang hamil, sebelum ku beritahu hasil test pack-ku. Mama juga menyarankan aku untuk memberitahu Dirga agar kehamilanku menjadi penyemangat untuknya di sana. Bahwa ada dua manusia yang menunggu kehadirannya untuk berkumpul bersama.