My Student, I'm in Love

My Student, I'm in Love
Part 27: Pacaran



Zara begitu menikmati kebersamaannya bersama Dirga yang masih berlibur di Indonesia. Wanita itu terlihat sangat manja dengan suami berondongnya. Mumpung Dirga bersamanya, kalau sudah kembali ke Korea lagi, memeluknya saja sudah tidak bisa.


Jam tiga pagi, Zara terbangun dari tidurnya. Dia melihat tangan Dirga melingkar di perutnya. Zara memiringkan badannya sambil menatap wajah tampan suaminya itu. Tangan Zara mengusap rahang Dirga, dia tersenyum melihat bibir Dirga. Zara mendekatkan wajahnya kemudian menempelkan bibirnya ke permukaan bibir Dirga. Wanita itu tersentak kaget ketika bibir mereka sudah bertautan satu sama lain karena Dirga kini yang menciumnya. Laki-laki tampan itu terbangun ketika Zara menggerakkan badannya. Dia bisa merasakan hembusan napas Zara di wajahnya. Dirga tidak menyangka bahwa Zara akan menciumnya.


"Mau mencuri cium, ya" ucap Dirga setelah melepas ciumannya. Zara tersenyum malu.


"Kamu udah bangun dari tadi, ya?" tanya Zara.


"Nggak, waktu kamu bergerak saja aku baru terbangun" jawab Dirga menatap wajah istrinya. "Tidur lagi, ya" bisik Dirga lembut sambil membelai wajah Zara.


"Aku nggak bisa tidur lagi, kalau sudah bangun begini" ucap Zara memanyunkan bibirnya.


"Mau aku tidurkan" tawar Dirga. Zara mengangguk tersenyum. "Ayo, sini berbalik."


Zara membalikkan badannya sehingga memunggungi Dirga. Tangan Dirga menyelip di bawah pinggangnya dan memeluk badan Zara. Kepalanya disandarkan di atas pundak Zara.


"Tidurlah, aku akan memelukmu" bisik Dirga lembut.


Tanpa Dirga ketahui bibir Zara menyunggingkan senyuman. Zara merasa nyaman di dalam dekapan suaminya, dia pun memejamkan matanya kembali dan merasakan hangatnya pelukan Dirga.


Setelah sholat subuh Dirga membuatkan sarapan untuk Zara. Istrinya itu ngidam kimbap buatannya. Kebetulan mereka berdua sedang menginap di rumah kakek Zahid. Zara hanya duduk menyaksikan suaminya sedang berkutat di dapur.


"Yang, masih lama?. Aku udah lapar sekali" tanya Zara.


Dirga mengehentikan sejenak aktivitasnya ketika mendengarkan Zara tidak memanggil namanya lagi. Dia tersenyum kemudian melanjutkan kembali aktivitas memasaknya.


"Sebentar lagi" sahut Dirga.


"Kakek, di mana?. Apa sudah membuka resto sepagi ini?" tanya Zara lagi.


"Iya, sebelum resto dibuka, banyak yang harus disiapkan, Sayang. Resto juga harus dibersihkan sebelum pengunjung datang" jawab Dirga sambil membawa satu piring kimbap untuk mereka sarapan. Dirga juga sudah menyiapkan nasi goreng. Belum kenyang kalau hanya sarapan kimbap saja.


"Sarapannya sudah siap untuk Nyonya Dirga" ujar Dirga tersenyum manis sambil meletakkan piring di atas meja makan.


Zara mencium aroma masakan lain yang begitu lezat selain kimbap. Nasi goreng buatan Dirga juga menggugah seleranya.


"Hmm, sepertinya nasi goreng itu enak juga" gumam Zara.


"Satu-satu makannya. Semua boleh kamu makan, kok" ujar Dirga sambil menyendok nasi goreng ke piring istrinya.


"Sedikit saja, Yang. Aku mau makan kimbap juga" Zara protes melihat Dirga begitu banyak menyendokkan nasi goreng ke piring untuknya.


"Kamu nggak ada jadwal mengajar, hari ini?. Kok, santai sekali?" tanya Dirga sambil menyerahkan piring yang berisi nasi goreng.


"Ada rapat saja jam 10 nanti. Aku sudah minta izin datang terlambat, kok" jawab Zara sambil menyuap nasi goreng ke mulutnya. Zara merasakan enaknya nasi goreng buatan suaminya.


"Kenapa?. Nggak enak, ya?" tanya Dirga melihat Zara yang tiba-tiba diam sejenak.


"Nggak. Enak, kok" jawab Zara tersenyum. Dirga merasa lega mendengarkan ucapan Zara. Rasa nasi goreng itu sudah pas di lidahnya. Jadi nggak mungkin rasanya aneh karena sudah dia cicipi.


Setelah sarapan, Dirga membantu kakeknya di restoran. Dia sudah berpesan kepada Zara kalau sudah siap mau pergi ke sekolah Zara untuk menelponnya atau langsung menyusulnya di resto saja.


Drettt. Drettt. Drettt


Ponsel Zara berbunyi. Zara melihat nama Ayumi tertera di layar ponselnya.


"Waalaikumsalam. Ra, kamu belum ke sekolah?" tanya Ayumi belum melihat sahabatnya itu ada di ruang guru.


"Belum. Aku masih di rumah kakeknya Dirga. Aku datang mau rapat saja" jawab Zara.


"Dirga liburan ke sini bukannya mau mesra-mesraan dengan istrinya, tapi malah sibuk di restoran" protes Ayumi. Kalau Dirga sudah kembali ke Korea wajah Zara pastilah suntuk melulu karena rindu.


"Ya, mumpung dia bisa membantu kakeknya. Lagipula nggak mungkin kami mengurung diri di dalam kamar terus" jelas Zara sambil tertawa kecil.


"Kamu nggak usah datang pas jam 10, Ra. Aku mau cerita dengan kamu" pinta Ayumi.


"Kamu mau cerita apa, Yum?" tanya Zara penasaran.


"Nanti aja tunggu kamu udah di sekolah" elak Ayumi. "Sudah, ya. Assalamualaikum" Ayumi menutup panggilan telponnya.


"Waalaikumsalam" Zara mengeryitkan dahinya. "Ayumi mau cerita apa, ya?" gumamnya sambil berpikir.


Zara kemudian merapikan kamar dan hendak mencuci piring bekas mereka sarapan pagi tadi. Ketika dia ke dapur, dia tidak melihat ada piring kotor lagi di sana. Dapur juga sudah rapi dan bersih. Zara tersenyum sambil menatap ruangan dapur yang sudah bersih itu.


"Pasti Dirga yang sudah merapikannya" gumam Zara. Zara merasa beruntung sekali memiliki suami seperti Dirga. Laki-laki yang lebih muda darinya itu tidak malu-malu untuk melakukan pekerjaan rumah yang biasanya dilakukan oleh kaum hawa.


Pukul 9, Zara pun bersiap-siap akan pergi ke sekolah. Dia sudah berpakaian rapi. Kemudian meraih ponselnya untuk memberitahu Dirga bahwa dia sudah mau berangkat ke sekolah.


Zara masih menunggu Dirga di dalam kamar. Tak lama pintu kamar pun terbuka. Dirga tersenyum melihat Zara yang sudah berpakaian rapi. Dia teringat ketika masih SMA dulu. Wajah istrinya tidak berubah sama sekali seperti pertama kali dia melihat mantan gurunya itu.


"Kenapa melihatku seperti itu?" tanya Zara berjalan mendekati Dirga.


Dirga menarik badan Zara merapat ke badannya. "Kamu tambah cantik saja sejak hamil" puji Dirga.


Zara hanya tersenyum malu. "Jangan-jangan anak kita cewek lagi" timpal Zara.


"Tidak masalah mau cowok atau cewek, yang penting ibunya" ujar Dirga.


Dirga menarik tengkuk Zara, menikmati bibir istrinya yang membuatnya tergoda. Sejenak Zara terbuai dalam kecupan suaminya yang semakin memperdalam pagutannya.


Dirga memberi ruang Zara untuk bernapas sebentar kemudian melanjutkannya kembali. Zara hanya memejamkan matanya sambil menikmati.


"Ah ..." Zara mendorong badan Dirga. Dia baru sadar kalau dia harus pergi ke sekolah. Dirga bisa melanjutkan aksinya kalau Zara membiarkannya. Dirga melepaskan pagutannya dan menatap wajah istrinya salah tingkah.


Keduanya sama-sama mengambil napas. "Aku bisa terlambat datang rapat kalau kamu meminta lebih dari itu" goda Zara sambil tersenyum.


"Maaf ... Aku terlena sampai lupa kalau kamu mau pergi" ujar Dirga malu.


Dirga pun meraih tangan Zara dan mengajaknya keluar dari kamar. Dia langsung mengantar Zara ke sekolah.


"Nanti telpon saja kalau mau pulang" pesan Dirga setelah mobilnya tiba di depan sekolah tempat Zara mengajar.


"Iya" sahut Zara. Cup. Zara mencium pipi putih suaminya sebelum dia turun dari mobil. Dirga tampak bengong sambil memegang kemudi. Ketika menoleh, Zara sudah turun dari mobilnya. Dia tersenyum sambil memegang pipinya kemudian melajukan mobilnya meninggalkan lokasi.


Zara berjalan menuju ke kantor dengan wajah bersemu merah. Entah kenapa, dia masih saja merasa canggung untuk bersikap mesra dengan Dirga. Seperti pasangan yang sedang berpacaran saja. Malu-malu dan takut kepergok orang lain. Padahal mereka sudah halal. Zara menggelengkan kepalanya, menepis bayangan wajah tampan Dirga .


Di kantor, Ayumi sudah menunggu kedatangannya. Melihat Zara yang muncul dari balik pintu masuk, Ayumi melambaikan tangannya kepada Zara. Zara tersenyum menghampiri Ayumi dan duduk di samping gadis itu. Ayumi memperlihatkan wajahnya yang tampak tidak sabaran ingin bercerita dengan Zara.